Sabtu, 31 Oktober 2020
log
Ikuti Kami di :
2 Sep 2020
pemujaan.leluhur.tionghoa

Batam, inikepri.com – Festival Bulan Hantu adalah sebuah tradisi perayaan dalam kebudayaan Tionghoa. Festival ini juga sering disebut sebagai Festival TiongGoan. Perayaan ini jatuh pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek, dimana di rumah abu biasanya dilakukan Sembahyang Rebutan untuk para hantu/arwah yang kelaparan.

Tradisi ini sebenarnya merupakan tradisi masyarakat agraris di jaman dahulu, yang bermula dari penghormatan kepada leluhur serta Dewa-Dewi, supaya panen yang biasanya jatuh di musim gugur dapat terberkati dan berlimpah.

Namun karena pengaruh religius, terutama dari unsur Buddhisme, yang menjadikan tradisi perayaan ini sarat dengan mitologi tentang hantu-hantu kelaparan, yang perlu dijamu pada masa kehadiran mereka di dunia manusia.

Tradisi membagi-bagikan hasil bumi (beras, mie, bihun, kue, buah-buahan, dan sebagainya) di kelenteng-kelenteng diwariskan turun temurun hingga sekarang, untuk memberi kesempatan kepada manusia di dunia agar bisa beramal kebajikan bagi para leluhurnya.

Menurut kepercayaan, pada setiap bulan ke-7 penanggalan Imlek, pintu neraka akan dibuka lebar-lebar dan para arwah akan diberi kesempatan untuk turun ke dunia menjenguk anak cucunya.

Bagi para arwah yang anak cucunya tidak menyediakan sesajian di rumah, mereka akan mencari makanan di kelenteng, wiraha ataupun di rumah abu yang melaksanakan ritual sembahyang ini.

Bulan ke-7 Imlek juga biasanya dipercaya sebagai bulannya hantu untuk “berkeliaran” selama sebulan penuh, dimana sudah dimulai sejak 15 hari sebelum tanggal 15 bulan 7, sampai 15 hari sesudahnya dan ada berbagai jenis dan karakter hantu yang akan keluar untuk merayakan hari kebebasannya.

Biasanya bagi yang masih percaya terhadap hal ini, akan jarang sekali ada yang mengadakan pesta pernikahan, pesta ulang tahun, dan lainnya di bulan ke-7 penanggalan Imlek ini.

Karena menurut kepercayaan, hal tersebut diyakini akan membawa kesialan, karena pesta tersebut konon akan dihadiri juga oleh para roh hantu yang sedang bergentayangan itu.

Cerita mengenai awal mula “Sembahyang Rebutan” atau “Festival Bulan Hantu” ini ada banyak versi. Umumnya yang kita ketahui adalah versi yang berasal dari pengaruh Budhisme. Namun ternyata terdapat “versi Taoisme” juga. Versinya adalah sebagai berikut :

Sejarah Asal Mula Sembahyang Rebutan

Pada tanggal 15 bulan 7 imlek biasanya dipakai oleh pemerintahan kerajaan pada zaman dahulu untuk melaksanakan eksekusi bagi semua tahanan hukuman mati. Acara eksekusi ini berlaku serentak di seluruh negeri. Jadi, pada saat itu (tanggal 15 bulan 7 imlek) tersebut dirasakan bermacam-macam oleh seluruh masyarakat.

Namun bagi keluarga terpidana, itu adalah hari yang sangat menyedihkan. Sementara bagi masyarakat umum, hari itu dirasakan sebagai hari yang cukup mencekam; dimana banyak keluarga yang menangisi anggota keluarganya yang akan di eksekusi mati.

Mereka biasanya “mengantar” arwah kerabatnya tersebut dengan memasang altar, memberikan persembahan, dan sebagainya. Karena hari eksekusi tersebut berlaku serentak diseluruh negeri, suasananya menjadi memang sangat mencekam, dan tentunya penuh dengan suasana duka dan mistis.

Arwah-arwah yang serentak tercabut tersebut, berubah menjadi arwah-arwah gentayangan yang makin menimbulkan suasana yang mengerikan.

Sebagian keluarga lainnya yang tidak mengalami adanya anggota keluarga yang di eksekusi, karena rasa ngeri dan takut, jadi ikut-ikutan memberikan sesaji, dengan harapan agar arwah-arwah gentayangan tersebut tidak mengganggu anggota keluarga mereka.

Akhirnya, lama kelamaan Chi Gwee Cap Go tersebut menjadi tradisi persembahyangan bagi para roh & arwah yang gentayangan tersebut.

Adapun versi lain mengatakan, bahwa asal-usul dari bulan hantu ini adalah karena di jaman dulu, bulan ke-7 Imlek ini dikenal sebagai musim pancaroba. Hal ini menyebabkan banyak penyakit, bahkan timbulnya penyakit tropis yang aneh yang mewabah, yang menyebabkan banyak kematian.

Karena itulah dikatakan bahwa pada bulan ke-7 ini merupakan bulan yang berbahaya, yang lalu dikaitkan dengan adanya keberadaan hantu yang berkeliaran di bumi.

Setiap pertengahan bulan ketujuh (Tanggal 15 Bulan 7 Imlek), di Wihara dan Kelenteng seringkali mengadakan upacara sembahyang “jit gwee“, atau biasa disebut juga sembahyang Cio Ko atau Ulambana (versi Buddhisme).

Dalam upacara ini ada keunikan, yaitu ketika upacara persembahyangan selesai, maka semua sesajian/persembahan makanan yang ada diatas meja sembahyang juga diperebutkan oleh semua orang (warga sekitar) yang hadir.

Oleh karena itu, upacara ini juga disebut sebagai “sembahyang rebutan“, karena persembahan yang diberikan, selain diperebutkan oleh para roh/arwah yang kelaparan, ternyata juga diperebutkan oleh para manusia.

Terlepas dari semua mitologi religius di atas, hikmah dari perayaan ini sebenarnya adalah penghormatan kepada leluhur dan perjamuan fakir miskin. Hal ini ditandai dengan tradisi dari sembahyang rebutan, yang membagi makanan sembahyang kepada para pengemis dan gelandangan ketika acara selesai.

Anggap saja, tradisi mengenai persembahyangan kepada para arwah di bulan hantu ini, adalah Hallowennya versi orang Tionghoa.

5 1 vote
Article Rating
3937242754
Screenshot_20200827_033155
Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Batam

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x