Senin, 26 Oktober 2020
log
Ikuti Kami di :
9 Sep 2020

Gus Mus: MUI itu Makhluk Apa?

inikepri - Nasional
Gus-Mus

Batam, inikepri.com – Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, KH Mustofa Bisri atau acap disapa Gus Mus sempat bertanya-tanya mengenai kedudukan MUI di Indonesia. Sebab, mereka ujuk-ujuk dipercaya membuat fatwa terkait hukum keislaman di Tanah Air.

Pada pengajian yang digelar di kampus Universitas Islam Negeri atau UIN Walisongo, Semarang, lima tahun lalu, Gus Mus bingung, mengapa harus ada MUI di Indonesia. Lebih lagi, mereka disebut-sebut mendapat sokongan dana dari APBN yang seharusnya bisa digunakan untuk keperluan lain.

“Itu MUI makhluk apa? Instansi pemerintah? Ormas? Orsospol? Lembaga pemerintahan kah? Tidak jelas, kan? Tapi ada anggaran APBN. Ini jadi membingungkan,” ujar Gus Mus dinukil dari DakwahNU.id, Rabu 9 September 2020.

“Enggak pernah dijelaskan, ujuk-ujuk (tiba-tiba) dijadikan lembaga fatwa. Aneh sekali,” sambungnya.

Ia pun turut mengomentari fenomena ulama ‘jadi-jadian’ di Indonesia. Saat ini, banyak yang hafal sedikit ayat, kemudian tampil di layar kaca, dan orang-orang yang menyaksikannya bakal menyebut dia ustaz. Bahkan, ada juga yang berpakaian layaknya ulama besar, namun perangainya jauh dari nilai-nilai keislaman.

“Kalau sudah pernah tampil di TV adalah ustaz. Asal pinter jubahan meskipun kelakuannya seperti preman,” terangnya.

Hal yang sama sebenarnya juga terjadi di tubuh MUI. Sebab, mereka yang berada di dalamnya, pasti disebut sebagai ulama atau tokoh Islam. Padahal, bisa saja kedudukan anggotanya hanya sebagai sekretaris maupun juru tulis. Kenyataan tersebut yang sejauh ini membuat Gus Mus keheranan.

“Ya, juru tulis itu akan disebut ulama. Mosok pengurus majelis ulama, tidak ulama,” guyonnya yang kemudian disambut tawa hadirin.

Fenomena dakwah di Indonesia

Gus Mus mengingatkan, untuk memulai kegiatan dakwah, seseorang tidak bisa bermodalkan satu atau dua potong ayat. Apalagi, mereka yang sudah berani berceramah hanya dengan mengutip terjemahan Alquran. Hal itu, kata rekan Quraish Shihab itu, bisa berujung bahaya.

Itulah sebabnya, pendakwah atau ulama harus lahir dari rahim agama. Mereka yang secara sosial dan spiritual dekat dengan ilmu serta nilai-nilai keislaman.

“Kalau Alquran diterjemahkan, maka balagohnya hilang,” kata dia.

Sumber : www.hops.id

0 0 vote
Article Rating
3937242754
Screenshot_20200827_033155
Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Batam

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x