Selasa, 20 Oktober 2020
log
Ikuti Kami di :
21 Sep 2020
07649178963bbd859e14d12ffdd836eb_1

Jakarta, inikepri.com – Layaknya oase di tengah padang pasir, bisnis peti mati kian subur pada masa pandemi COVID-19. Ribuan pesanan hadir setiap bulan baik dari rumah sakit maupun perorangan.  

Aan mungkin tak pernah menyangka jika bisnis peti mati yang telah dijalankan belasan tahun kini memasuki masa keemasan. Bisnisnya menjadi berkah, selain membantu para korban meninggal, ia juga tetap mendapatkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit setiap bulannya.

Dia bercerita, kebutuhan peti mati saat ini sangat banyak. Dalam sebulan ia mampu menjual 1.000 lebih peti mati untuk pasien COVID-19. Sebelum pandemi merajalela, jumlah pesanan hanya sekitar 150 per bulan.

“Sesuai peraturan protokol kesehatan orang meninggal tidak boleh (menggunakan) kain kafan tapi menggunakan peti jenazah. Untuk menghindari penguapan virusnya karena enggak bisa kelihatan tapi bisa dirasakan,” katanya kepada kumparan, Senin (21/9).

“Pesanan per bulan sekarang 1.000 lebih, sebelum pandemi paling 150 peti,” tambahnya.

Aan mengatakan, sebagian besar para pelanggannya adalah perorangan. Meski demikian, ia tak menampik jika rumah sakit juga memesan. Bahkan, beberapa waktu lalu ia mengaku ada donatur yang memesan peti mati untuk dibagikan ke rumah sakit.  

“Awalnya mereka mencari dari Google habis gitu nelfon kepada kami, pak tolong buatkan seperti ini petinya terus ini nanti setelah nanti udah selesai diantar ke rumah sakit,” ungkapnya.

Aan memiliki 6 karyawan, dalam sehari ia mampu menyelesaikan 20 peti. Namun, ia menjelaskan bahwa lama pengerjaan tergantung jenis pesanan.  

Ada empat kelas yang ia tawarkan dalam menjual peti mati, yaitu kelas satu, dua, tiga dan VVIP. Kelas satu menjadi produk yang paling banyak dipesan. Sebab mayoritas korban meninggal karena COVID-19 memesan peti mati kelas satu.  

“Kelas satu itu kan untuk penderita COVID-19, isinya hanya bantal aja satu,” ungkapnya.

Namun untuk kelas dua dan tiga untuk kebutuhan orang-orang kristen. Kelas dua dan tiga lebih lengkap, seperti sarung tangan, kaos kaki. Untuk kelas satu ia membanderol Rp 3 juta per pesanan warna cokelat.

Sementara untuk kelas dua dan tiga mencapai Rp 4 juta per pesanan untuk warna putih.

Untuk anak-anak, dia membanderol 1,5 juta per peti warna cokelat dan Rp 2 juta per peti untuk warna putih. Untuk pengiriman ia bekerja sama dengan kurir lokal dan Gobox. “Ongkir dibayar sendiri,” ucapnya.

Selain ke Jakarta, Aan juga mengirim hingga Bandung.

Sumber : www.kumparan.com

5 1 vote
Article Rating
3937242754
Screenshot_20200827_033155
Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Batam

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x