INIKEPRI.COM – Malam pembukaan MTQH ke-34 Kecamatan Sungai Beduk terasa berbeda sejak awal. Bukan karena kemegahan panggung semata, melainkan karena suasana batin yang mengalir tenang. Cahaya lampu menyinari arena, tetapi yang paling terasa justru keheningan yang terjaga.
Di antara para undangan, Anwar Anas, Anggota DPRD Kota Batam, hadir tanpa banyak gerak, menyimak, menunduk, dan sesekali menarik napas panjang, seolah sedang menata pikirannya sendiri.
MTQH malam itu seakan membuka ruang jeda. Drama pembuka dari Lembaga Adat Melayu Sungai Beduk tidak disajikan dengan nada tinggi, namun sarat makna. Tentang adat yang menuntun, tentang iman yang memelihara. Bagi Anwar Anas, pertunjukan itu seperti pengingat halus: bahwa kebudayaan dan agama bukanlah ornamen, melainkan fondasi kehidupan masyarakat.
Panggung yang dirancang menyerupai Zam-zam Tower berdiri anggun. Ia tidak hanya menghadirkan kesan megah, tetapi juga simbolik, sebuah penanda bahwa Al-Qur’an seharusnya selalu diletakkan di pusat, bukan di pinggir.
Dalam diamnya, Anwar Anas tampak merenung. Barangkali ia sedang menimbang, betapa sering nilai-nilai luhur kalah oleh hiruk pikuk kepentingan sehari-hari.
Ketika lantunan ayat suci mulai menggema, suasana berubah seketika. Banyak yang terdiam. Beberapa kepala tertunduk. Di momen itu, Anwar Anas tidak tampil sebagai pejabat publik. Ia hadir sebagai manusia biasa yang dihadapkan kembali pada ayat-ayat pengingat. Seolah ada percakapan sunyi yang berlangsung dalam dirinya tentang amanah, tentang keadilan, tentang batas kekuasaan.
Sebagai wakil rakyat, ia tentu paham bahwa jabatan adalah titipan. Dalam suasana MTQH, titipan itu terasa lebih berat sekaligus lebih jernih. Barangkali terlintas dalam benaknya bahwa setiap keputusan politik, sekecil apa pun, kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya di ruang rapat, tetapi juga di hadapan Yang Maha Mengetahui.
Orang Melayu telah lama mengingatkan:
“Tinggi jabatan jangan meninggi hati, besar kuasa jangan membesarkan diri.”
MTQH Sungai Beduk menjadi cermin nilai itu. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu diukur dari seberapa sering tampil, tetapi dari seberapa dalam kesediaan untuk mendengar dan menahan diri.
Anwar Anas tampak larut dalam suasana tersebut. Ia tidak sibuk dengan gawai, tidak terjebak obrolan samping. Ia memilih diam, seolah memberi ruang bagi firman Tuhan untuk berbicara.
Firman Allah terasa relevan di tengah suasana itu:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini bukan sekadar bacaan ritual. Bagi seorang anggota legislatif, ia adalah kompas moral. MTQH malam itu seperti mengingatkan kembali bahwa keadilan tidak lahir dari kecerdikan, melainkan dari ketulusan dan rasa takut kepada Tuhan.
Kelancaran acara mencerminkan kesungguhan banyak pihak: panitia, kecamatan, tokoh adat, dan masyarakat. Namun yang lebih penting, MTQH berhasil menghadirkan ruang kebersamaan yang jarang ditemui: ruang di mana jabatan luruh, ego mereda, dan semua kembali menjadi pendengar.
Dalam suasana itu, Anwar Anas seolah menemukan makna lain dari kehadirannya. Bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan menyerap pesan. Bahwa di tengah dinamika politik dan tuntutan pembangunan, seorang wakil rakyat tetap harus punya ruang untuk berhenti, menunduk, dan bercermin.
Petuah Melayu kembali bergaung lirih:
“Hidup berpayung adat, mati berbekal iman.”
MTQH Sungai Beduk malam itu mungkin akan berlalu seperti agenda-agenda lain. Namun bagi mereka yang benar-benar hadir dengan hati, ia meninggalkan bekas. Sebuah pengingat sunyi bahwa amanah tidak pernah benar-benar ringandan justru karena itu, ia harus dijalankan dengan rasa.
Di hadapan ayat-ayat yang dilantunkan malam itu, MTQH seperti menutup semua dalih. Kekuasaan, jabatan, dan kepandaian bicara tak lagi punya tempat untuk bersembunyi. Yang tersisa hanyalah amanah dan menuntut kejujuran. Barangkali itulah pelajaran paling keras namun paling jujur dari Sungai Beduk: bahwa wakil rakyat bukan diuji saat disorot kamera, melainkan saat nuraninya disorot firman Tuhan. Orang Melayu mengingatkan dengan tegas, “Yang berat bukan memikul kuasa, tapi menjaga amanah.”
Dan di bawah cahaya MTQH malam itu, pesan itu terasa tak bisa ditawar oleh siapa pun yang diberi mandat, pada akhirnya akan diminta pertanggungjawaban, bukan oleh manusia, tetapi oleh Yang Maha Mengetahui.
Penulis : IZ

















