“Kami Tidak Minta Gratis, Kami Minta Wajar”: Jeritan Natuna Soal Tiket Pesawat

- Publisher

Minggu, 19 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Natuna Cen Sui Lan dan Wakil Bupati Jarmin bertemu tanpa sengaja dengan tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (KOPK). Foto: Istimewa/MimbarUmum

Bupati Natuna Cen Sui Lan dan Wakil Bupati Jarmin bertemu tanpa sengaja dengan tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (KOPK). Foto: Istimewa/MimbarUmum

INIKEPRI.COM – Di tengah aktivitas Bandara Natuna yang padat, sebuah percakapan tanpa skenario justru melahirkan suara yang selama ini terpendam. Bupati Natuna, Cen Sui Lan, secara spontan menyampaikan keluhan mendasar masyarakatnya terkait mahalnya harga tiket pesawat rute Batam–Natuna.

Pertemuan itu terjadi secara kebetulan dengan tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (KOPK) yang tengah bertugas di Natuna, Sabtu (18/4/2026). Dalam suasana informal, sang Bupati menyampaikan persoalan klasik yang hingga kini belum menemukan solusi.

“Ini bukan sekadar soal mahal. Ini soal keadilan. Rakyat Natuna merasa seperti dibelenggu di tanahnya sendiri. Mau keluar daerah, ongkosnya bisa sebulan gaji. Mau masuk investasi, harga tiket jadi penghalang pertama,” ujar Cen Sui Lan, didampingi Wakil Bupati Jarmin Sidik.

Sebagai daerah yang masuk kategori 3T (terdepan, terluar, tertinggal), Natuna sejatinya memiliki potensi besar, mulai dari sektor perikanan, pariwisata bahari, hingga sumber daya gas alam. Namun, tingginya biaya transportasi udara dinilai menjadi penghambat utama mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.

BACA JUGA:  Cen Sui Lan Perjuangkan Folder Penanganan Banjir di Tanjunpinang, Maret 2024 Dibangun

Berdasarkan pantauan, harga tiket sekali jalan rute Batam–Natuna dapat mencapai Rp1,5 juta hingga Rp3 juta atau lebih pada periode tertentu, meskipun waktu tempuh penerbangan hanya sekitar 1,5 jam.

“Kami tidak minta gratis. Kami minta wajar. Jangan sampai rakyat kecil yang paling menderita karena tiket pesawat lebih mahal dari tiket ke luar negeri,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Cen Sui Lan secara langsung meminta perhatian pemerintah pusat. Ia menilai mekanisme pasar tidak cukup mampu menekan harga tiket di wilayah terpencil tanpa adanya intervensi kebijakan.

Sejumlah solusi pun disuarakan, mulai dari pemberian subsidi tiket untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan, pengaturan tarif batas atas khusus daerah terluar, hingga insentif bagi maskapai yang membuka rute dengan harga terjangkau.

BACA JUGA:  Bukan Sekadar Perbatasan: Visi Cen Sui Lan Wujudkan Natuna sebagai Pusat Logistik

Alternatif transportasi laut dinilai belum menjadi solusi efektif, mengingat waktu tempuh yang bisa mencapai berhari-hari dan tidak cocok untuk kebutuhan mendesak.

Keluhan serupa juga disampaikan masyarakat. Suharyadi, warga Bunguran Timur, mengaku sudah dua tahun tidak dapat menjenguk anaknya yang menempuh pendidikan di Batam akibat mahalnya tiket.

“Anak saya minta uang kuliah saja sudah berat. Apalagi ongkos pulang-pergi Natuna–Batam. Kadang kami hanya bisa teleponan. Ini seperti dipisahkan oleh harga, bukan oleh laut,” ujarnya.

Dampak lain turut dirasakan sektor ekonomi. Fisabilillah, tokoh seni Mendu, menyebut tingginya biaya transportasi udara ikut mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

“Semua barang naik karena biaya kirim lewat pesawat mahal. Yang dirugikan ya rakyat kecil lagi. Pemerintah pusat harus turun tangan. Jangan biarkan Natuna makin tertinggal karena mahal ongkos,” keluhnya.

BACA JUGA:  Natuna Mantapkan Langkah Menuju Ekonomi Tangguh dan Masyarakat Sejahtera

Sementara itu, tokoh adat Bunguran Timur, H. Mursidi, menggambarkan situasi tersebut dengan nada getir.

“Dulu kami hanya takut ombak besar kalau naik perahu. Sekarang, kami takut sama harga tiket. Saya sudah tua, tapi saya masih ingin rasanya anak cucu saya bisa keluar Natuna tanpa harus menguras harta,” ujarnya.

Di akhir pertemuan, Bupati Natuna menitipkan pesan kepada pemerintah pusat.

“Tolong sampaikan ke Jakarta: Natuna tidak minta mewah. Kami minta dijangkau dengan layak,” katanya.

Ia menegaskan, akses transportasi yang terjangkau akan membuka peluang lebih luas bagi masyarakat, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga investasi.

“Dengan harga tiket yang masuk akal, anak-anak bisa sekolah, ibu-ibu bisa berobat, seniman bisa pentas, dan investor bisa masuk. Itu semua bagian dari membangun Indonesia dari pinggiran,” tutupnya.

Penulis : RP

Editor : IZ

Berita Terkait

Pemkab Natuna Siapkan Bantuan Transportasi hingga Rp5 Juta untuk Warga Berobat ke Luar Daerah
Bertemu Wamendagri, Bupati Natuna Dorong Sister City dengan Hainan untuk Buka Akses Internasional
Bupati Cen Sui Lan ke BKN, Dorong Manajemen Talenta ASN Natuna Berbasis Kinerja
Dari Jakarta, Bupati Natuna Dorong Percepatan Pembangunan: Olahraga, Geopark hingga Jalan Inpres
Bupati Natuna Keluarkan Surat Edaran Pencegahan Karhutla di Tengah Ancaman El Niño
Jelang HUT ke-81 RI, Bupati Natuna Cen Sui Lan Ajak Warga Kembali Galakkan Gotong Royong
Dokter RSUD Natuna Raih Gelar FACC di Amerika Serikat, Cen Sui Lan: Kebanggaan Daerah
Dari Meja Domino ke Aksi Sosial, HUT Ranai Darat Jadi Momentum Berbagi

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 10:13 WIB

Pemkab Natuna Siapkan Bantuan Transportasi hingga Rp5 Juta untuk Warga Berobat ke Luar Daerah

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:27 WIB

Bertemu Wamendagri, Bupati Natuna Dorong Sister City dengan Hainan untuk Buka Akses Internasional

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Bupati Cen Sui Lan ke BKN, Dorong Manajemen Talenta ASN Natuna Berbasis Kinerja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:21 WIB

Dari Jakarta, Bupati Natuna Dorong Percepatan Pembangunan: Olahraga, Geopark hingga Jalan Inpres

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:15 WIB

Bupati Natuna Keluarkan Surat Edaran Pencegahan Karhutla di Tengah Ancaman El Niño

Berita Terbaru