INIKEPRI.COM – Persoalan genangan dan banjir di Kota Batam menjadi perhatian tiga siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Batam. Melalui kajian tentang drainase dan pengelolaan anggaran daerah, mereka berhasil menembus babak final nasional Lomba Peran APBN dan APBD Bangun Daerah Tahun 2026.
Ketiga siswi tersebut adalah Zahra Azaria Syah, Janeeta Salsabil Asmara, dan Kayla Novarileka. Bergabung dalam tim Counting Sheep di bawah bimbingan Jupri Marsal, S.Pd., mereka berhasil masuk enam tim terbaik kategori SMA setelah melewati dua tahap awal kompetisi yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK), Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi pencapaian bagi MAN Insan Cendekia Batam, tetapi juga menunjukkan bagaimana pelajar dapat menghubungkan pembelajaran mengenai keuangan negara dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Dalam kompetisi tersebut, tim Counting Sheep mengangkat tema “Drainase: Ke Mana Air Mengalir?”. Tema ini dipilih untuk mengkaji persoalan genangan dan banjir di Batam, sekaligus melihat keterkaitannya dengan perencanaan dan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Melalui karya videografis, ketiganya menganalisis data anggaran program drainase, membandingkan target dengan realisasi anggaran, serta mengkaji upaya pemerintah daerah dalam menangani persoalan tersebut.
Pendekatan ini membawa mereka melampaui pemahaman teoritis mengenai APBN dan APBD. Anggaran dipelajari sebagai instrumen kebijakan publik yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, termasuk pembangunan infrastruktur dan pemeliharaan saluran drainase.
Dalami Persoalan Drainase, Tawarkan Konsep SIGAP
Untuk memperkuat kajian, tim Counting Sheep melakukan pendalaman informasi melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mereka memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai persoalan drainase dan penanganan genangan.
Mereka juga mengangkat studi kasus di SMPN 28 Batam sebagai bagian dari pembahasan mengenai persoalan tersebut.
Dari hasil kajian itu, tim menawarkan gagasan SIGAP (Saluran Terjaga, Genangan Teratasi). Konsep ini menekankan pentingnya pemeliharaan saluran drainase dan penanganan genangan secara berkelanjutan.
Gagasan tersebut menempatkan pemeliharaan infrastruktur sebagai salah satu aspek penting dalam penanganan genangan. Sebab, pembangunan saluran drainase perlu diiringi upaya menjaga fungsi saluran agar tetap optimal.
Melalui SIGAP, para siswi berupaya menunjukkan bahwa persoalan banjir dan genangan perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari kondisi infrastruktur hingga pengelolaan anggaran yang mendukung penanganannya.
Kajian tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana generasi muda dapat berkontribusi melalui riset, analisis data, dan penyampaian gagasan yang berangkat dari persoalan di lingkungan sekitar.
Perjalanan Menuju Final Nasional
Lomba Peran APBN dan APBD Bangun Daerah 2026 berlangsung melalui tiga tahapan. Pada tahap pertama, peserta mengikuti tes berupa pengerjaan soal untuk menguji pemahaman tentang APBN, APBD, serta pengelolaan keuangan negara dan daerah.
Peserta yang melanjutkan ke tahap kedua kemudian mengerjakan soal studi kasus dan menyusun karya videografis berdasarkan tema yang telah ditentukan.
Pada tahapan inilah tim Counting Sheep menyusun kajian mengenai drainase di Batam. Perpaduan analisis anggaran, penggalian informasi, dan penyajian gagasan dalam bentuk videografis mengantarkan mereka masuk enam tim terbaik kategori SMA dan berhak melaju ke babak final nasional.
Babak grand final dijadwalkan berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Aula Nagara Dana Rakca, Gedung Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Jakarta.
Pada tahap penentuan tersebut, para finalis akan mempresentasikan karya videografis dan mengikuti kompetisi cerdas cermat. Mereka akan diuji dari sisi penguasaan materi, kemampuan analisis, kreativitas, serta keterampilan menyampaikan gagasan mengenai peran APBN dan APBD dalam pembangunan daerah.
Bagi Zahra, Janeeta, dan Kayla, pencapaian menuju final menjadi kesempatan untuk menunjukkan hasil kajian mereka di tingkat nasional. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan kualitas analisis sekaligus menyampaikan gagasan secara jelas dan meyakinkan di hadapan para penilai.
Keikutsertaan tim Counting Sheep juga membawa pesan penting bahwa literasi fiskal tidak berhenti pada pemahaman tentang penerimaan dan belanja pemerintah. Pengetahuan mengenai anggaran dapat menjadi bekal bagi pelajar untuk memahami kebijakan publik, menilai kebutuhan pembangunan, dan merumuskan solusi atas persoalan di daerah.
Dengan mengangkat isu drainase dan menawarkan konsep SIGAP, ketiga siswi MAN Insan Cendekia Batam membawa persoalan lokal ke panggung kompetisi nasional. Kini, mereka bersiap melanjutkan perjuangan pada babak final dengan harapan dapat memberikan hasil terbaik sekaligus memperkenalkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

















