Jakarta, inikepri.com – Jersey atau seragam yang dikenakan pemain Chelsea dan Liverpool di Liga Inggris merupakan hasil produksi Indonesia. Meski banyak masyarakat dalam negeri bangga, namun sebenarnya ada sederet ironi di baliknya. Sebab, konon katanya, para buruh lokal digaji sangat kecil.
Menurut laporan The Telegraph, buruh Indonesia menerima bayaran 70 penny atau setara Rp13 ribu untuk membuat satu potong jersey. Padahal, setelah jadi, hasil produksi itu dijual ke pesaran mulai dari Rp1,3 jutaan.
“Para buruh itu mengaku hanya menerima bayaran 70 penny untuk 70 poundsterling jersey Chelsea dan Liverpool. Bahkan, jersey Chelsea yang dibuat Nike Indonesia harganya bisa tembus hingga 100 poundsterling (Rp1,8 jutaan) per potong,” tulis artikel berjudul ‘Workers claimed to be paid 70p for £70 Chelsea and Liverpool shirts’.
Nominal tersebut diyakini tak cukup untuk memenuhi kebutuhan buruh sehari-hari. Beberapa waktu lalu, pihak apparel yang berwenang terhadap penyediaan jersey Chelsea dan Liverpool memastikan, bakal ada kenaikan upah 10 persen. Namun, pekerja di Indonesia dan Thailand kemungkinan tak terkena dampaknya.
Padahal, dua negara itu merupakan pemasok utama seragam olahraga di dunia. Pihak Nike sendiri, menurut The Guardian, mengklaim telah memberi kenaikan upah pada buruh di Indonesia dan Thailand. Namun, mereka enggan merinci atau mengurai angkanya. Sehingga terkesan tidak transparan.
“Setiap tahun keuntungan apparel jersey selalu meningkat, namun upah buruhnya segitu-gitu saja. Seharusnya, mereka bisa menjamin kesejahteraan buruh dengan melakukan penyesuaian gaji,” lanjut artikel tersebut.
Parahnya lagi, fenomena tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara lain di wilayah Eropa. Itulah mengapa, merek apparel dunia seperti Nike, New Balance, dan Adidas kerap disebut-sebut kurang memerhatikan kondisi para pekerjanya.
“Selama lebih dari 10 tahun, apparel olahraga telah menolak untuk memastikan wanita dan pria yang bekerja sebagai buruh mendapat upah secara adil; sebaliknya mereka ditinggalkan dalam kemiskinan dan banyak yang sekarang diberhentikan,” ujar penggagas kampanye Clean Clothes, Paul Roeland, baru-baru ini.
Hops.id

















