Ingin Bakar Lemak? Jalan Kaki Ternyata Bisa Lebih Unggul dari Lari

- Publisher

Rabu, 14 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Ilustrasi. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Keinginan menurunkan berat badan kerap membuat banyak orang langsung memilih olahraga berat seperti lari, dengan harapan lemak tubuh bisa terbakar lebih cepat.

Namun, pendekatan ini tidak selalu tepat, terutama bagi pemula atau mereka yang memiliki persentase lemak tubuh tinggi hingga obesitas. Alih-alih hasil optimal, lari justru bisa menjadi bumerang bagi keberlanjutan program penurunan berat badan.

Sejumlah praktisi kebugaran menilai bahwa jalan kaki sering kali menjadi pilihan yang lebih aman, realistis, dan efektif untuk membakar lemak dalam jangka panjang.

Salah satunya disampaikan oleh Putra Wijaya, melalui kanal YouTube miliknya, yang membahas strategi penurunan lemak berbasis sains dan keberlanjutan gaya hidup.

BACA JUGA:  Sudah Diet Ketat Tapi Tak Turun? Ini 5 Penyebab Utamanya

Menurut Putra, kunci utama dalam pembakaran lemak bukan hanya soal seberapa keras berolahraga, tetapi bagaimana tubuh mempertahankan massa otot. Otot berperan besar dalam menjaga metabolisme tetap aktif sepanjang hari.

“Jalan kaki itu hampir tidak menggunakan protein sebagai sumber energi. Artinya, massa otot bisa lebih terjaga, padahal otot sangat penting untuk kesehatan metabolik dan pembakaran kalori jangka panjang,” jelas Putra.

Selain soal otot, faktor keamanan juga menjadi pertimbangan penting. Bagi orang dengan berat badan berlebih, aktivitas lari memberikan tekanan besar pada lutut, pergelangan kaki, dan tulang belakang. Risiko cedera akibat hentakan berulang bisa jauh lebih tinggi dibandingkan jalan kaki yang bersifat low impact.

BACA JUGA:  Sering Mandi Malam Bikin Rematik, Benarkah?

Dalam praktiknya, jalan kaki yang dilakukan secara konsisten—sekitar 8.000 hingga 10.000 langkah per hari—telah terbukti mampu membantu mengecilkan lingkar perut dan menurunkan lemak tubuh secara bertahap. Keunggulan lain dari jalan kaki adalah kemampuannya menjaga keseimbangan hormon, sehingga tidak memicu lonjakan rasa lapar berlebihan.

Sebaliknya, lari dengan intensitas tinggi dapat dengan cepat menguras cadangan gula (glikogen) dalam tubuh. Kondisi ini sering memicu rasa lapar ekstrem setelah olahraga, yang pada akhirnya mendorong keinginan mengonsumsi makanan manis atau karbohidrat dalam jumlah besar. Jika tidak terkontrol, defisit kalori yang diharapkan justru gagal tercapai.

Putra juga mengingatkan pentingnya melihat penurunan berat badan secara menyeluruh melalui konsep Total Daily Energy Expenditure (TDEE), yakni total energi yang dikeluarkan tubuh setiap hari. TDEE tidak hanya dipengaruhi oleh olahraga kardio, tetapi juga latihan beban, aktivitas harian, serta kualitas istirahat.

BACA JUGA:  Waspadai Ciri-Ciri Diabetes di Usia Muda, Banyak yang Tak Sadar

“Kurang tidur bisa menurunkan hormon pembakar lemak hingga 10–15 persen. Efeknya bahkan lebih besar dibandingkan suplemen apa pun,” ujarnya.

Dengan demikian, dilema antara jalan kaki atau lari sejatinya bukan soal mana yang paling melelahkan, melainkan mana yang paling berkelanjutan. Bagi banyak orang, terutama pemula, jalan kaki bisa menjadi fondasi kuat untuk membangun kebiasaan sehat, menjaga metabolisme, dan membakar lemak secara konsisten tanpa risiko cedera dan efek samping yang berlebihan.

Penulis : DI

Editor : IZ

Berita Terkait

WHO Ungkap Gejala, Pola Penularan, dan Risiko Penyakit Virus Nipah
BPOM RI Tegaskan Susu Formula di Indonesia Aman
Bahaya Kesehatan di Balik Whip Pink, Gas Kuliner yang Disalahgunakan
Wajib Tahu! Ini Iuran BPJS Kesehatan Berdasarkan Jenis Kepesertaan Mulai 23 Januari 2026
Tak Sekadar Bau Menyengat, Ini Manfaat Jengkol bagi Kesehatan Pria
Perut Tiba-Tiba Buncit? Bisa Jadi Ini Biang Keladinya
Jangan Remehkan Sinar Matahari Pagi, Ini Manfaatnya bagi Tubuh
Relate Banget! Ini Tanda-Tanda Halus Anda Mulai Menua

Berita Terkait

Senin, 2 Februari 2026 - 19:59 WIB

WHO Ungkap Gejala, Pola Penularan, dan Risiko Penyakit Virus Nipah

Senin, 2 Februari 2026 - 07:31 WIB

BPOM RI Tegaskan Susu Formula di Indonesia Aman

Rabu, 28 Januari 2026 - 08:19 WIB

Bahaya Kesehatan di Balik Whip Pink, Gas Kuliner yang Disalahgunakan

Minggu, 25 Januari 2026 - 09:30 WIB

Wajib Tahu! Ini Iuran BPJS Kesehatan Berdasarkan Jenis Kepesertaan Mulai 23 Januari 2026

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:54 WIB

Tak Sekadar Bau Menyengat, Ini Manfaat Jengkol bagi Kesehatan Pria

Berita Terbaru