Batam, inikepri.com – Postingan akun twitter @siap_abangjagoo, yang bercerita pengakuan seorang taruna Akpol gagal mengikuti tes ke Semarang usai dinyatakan positif Covid-19 menghebohkan jagat maya.
Dalam twit tersebut, calon taruna Akpol tersebut mengaku rangking pertama dalam hasil seleksi di Batam, Kepri. Hal itu pun membuatnya layak mengikuti pendidikan Akpol di Semarang.
Namun, impian remaja tersebut akhirnya kandas usai dinyatakan positif corona oleh panitia seleksi yang datang ke rumahnya. Tidak percaya dengan hal tersebut, orang tua calon taruna Akpol melakukan swab test sendiri yang hasilnya negatif corona. Di dalam utasnya, penulis membeberkan bukti-bukti bahwa dia negatif corona.
https://twitter.com/siap_abangjagoo/status/1291244360537800704?s=19
Merespons hal tersebut, Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Harry Golden Hardt membantah postingan tersebut. Ia mengatakan, panitia telah sangat transparan dalam seleksi calon taruna Akpol.
“Yah itu hak yang bersangkutan untuk memberikan penilaian,” kata Golden, Kamis (6/8).
“Panitia seleksi sudah bekerja dengan sangat transparan,” imbuh Golden.
Tanggapan Wakil Gubernur Akpol
Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Akpol Brigjen Agus Salim terlebih dulu menjelaskan bahwa kewenangan menjelaskan secara rinci terkait kasus calon taruna tersebut yakni dari pihak panitia daerah (panda).
“Izin, kalau yang ini bukan urusan Akpol, karena penerimaan merupakan kewenangan panda,” kata Agus disitat dari kumparan, Kamis (6/8).
Agus kemudian menjelaskan proses seleksi, yakni bila tahapan panda sudah selesai maka para calon taruna akan dites kembali di Akpol oleh Panitia Pusat. Namun, kata Agus, memang ada aturan bisa Catar dapat gugur apabila positif corona.
“Selesai panda mereka akan dites lagi di Akpol oleh panpus (panitia pusat) dalam hal ini adalah As SDM/Karo Dalpers,” ucap Agus.
“Memang ada salah satu klausul bila hasil swab positif maka peserta dinyatakan gugur,” imbuhnya.
Agus menegaskan, klausul tersebut tidak dapat diganggu gugat meskipun dalam kasus ini catar merupakan peringkat pertama pada seleksi di tingkat provinsi.
Agus mengatakan, kasus serupa juga terjadi di Polda Metro Jaya dan Jawa Timur. Yakni terdapat catar yang lulus dan memenuhi syarat terpaksa gugur setelah hasil tes corona mereka dinyatakan positif.
“Waktu mau berangkat ke panpus atau Akpol ternyata hasil swab positif, terpaksa mereka tidak diberangkatkan. Memang kita kasihan kepada mereka,” ujarnya.
Ditanya apakah kejadian ini mengurangi kuota seleksi penerimaan, Agus mengatakan hal itu tidak begitu berpengaruh. Sebab, mereka masih menemui kemungkinan gagal saat seleksi oleh panpus atau di Akpol.
“Hanya mengurangi kuota kirim panda, yang meluluskan tetap panpus. Sebagai gambaran kuota kirim adalah 264, yang sampai ke panpus hanya 262 (Polda Metro dan Jatim tidak kirim), sedangkan kuota didik 250, jadi ada kemungkinan yang gagal,” katanya.

















