Sarana pendukung lainnya berupa kelengkapan ritual pengobatan Berjenjang. Bahan-bahan yang menjadi wajib saat ritual dilaksanakan.
Pada Tahun 2014 lalu, Pukcu berhasil mengikuti jalannya ritual Berjenjang. Saat itu dikatakan Pukcu ritual dibawakan oleh Bomo Nek Kelebang, seorang perempuan yang berusia 102 Tahun di desa Mentuda. Dibantu oleh Zainun sebagai Inang Asuh dan Vokal yang bernama Are dan Akah.
Pendukung sarana ritual seperti Mayang Pinang, Kain Putih yang di kunyitkan sepanjang 2 Meter, Kain Putih 2,5 Meter, Air Bunga Cine (anngur putih), Tabang (rokok), Bubur Lemak, Lempeng Tepung, Sirih, Gendung (telur), Anggur Hitam (Kopi) dan Beras Berteh (beras digongseng).
“Sedangkan warga yang datang membawa air yang diisi dalam botol. Ditutupi dengan kain kuning yang kunyiti. Air ini dipercaya bisa mengobati penyakit setelah dibacakan Bomo yang kesurupan orang Bunian,” jelasnya.
Sementara pakaian yang digunakan pelaku ritual lanjut Pukcu adalah Baju Kurung untuk laki-laki lengkap denga songkok. Sedangkan perempuan termasuk Bomo menggunakan Baju Kurung Laboh dan kain. Sedangkan warga yang ikut hadir cukup berpakaian sopan.
“Pantangnya yang sedang haid tidak boleh ikut menghadiri Berjenjang. Begitu juga orang-orang yang tidak bisa menjaga mulut (celupa). Badan harus bersih,” lanjut Pukcu.
Warga yang berniat akan membawa pulang air yang telah dimantrai dan juga mengambil potongan kain kuning serta mayang pinang. Ada juga yang mengambil potongan kain dan mayang pinang untuk dijadikan tangkal,” jelasnya.
Budaya Yang Terancam Punah
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















