Gila! Punya 1 Juta Bitcoin, Kekayaan Orang ini Hampir Rp700 T

- Publisher

Senin, 8 Maret 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (ist)

Ilustrasi (ist)

INIKEPRI.COM – Sepuluh tahun silam Bitcoin bisa dibilang tidak ada nilainya. Kala itu, satu unit koin digital kripto ini masih dihargai kurang dari US$ 0,01. Namun siapa sangka Harga Bitcoin sempat meroket di tahun 2017. Satu unit Bitcoin dibanderol di US$ 17.000 tiga tahun silam. Setelah itu Bitcoin mengalami crash dan kapitalisasi pasarnya anjlok. 

Namun per November tahun lalu, harga Bitcoin mulai reli tak terbendung hingga nilai pasarnya melonjak sampai empat kali lipat. Pada minggu terakhir Februari lalu harga Bitcoin sempat mencapai US$ 58.000 unitnya.

Apabila menggunakan asumsi kurs Rp 14.000/US$, maka harga satu keping mata uang kripto tersebut setara dengan Rp 812 juta.

Bayangkan saja dengan uang sebanyak itu, seseorang bisa membeli 4 unit mobil Toyota Avanza atau cukup untuk membeli rumah dengan ukuran 45 meter persegi dengan tanah 60 meter persegi di Kota Depok. 

Di balik penguatan harga Bitcoin yang ‘gila-gilaan’ ada orang yang semakin tajir melintir. Dia adalah Satoshi Nakamoto yang tak lain dan tak bukan adalah inventor Bitcoin itu sendiri. 

BACA JUGA:  Twitter Pakai Bitcoin Sebagai Alat Pembayaran, Begini Caranya

Sebenarnya masih belum jelas siapa sebenarnya Nakamoto. Identitasnya tak diketahui oleh publik. Banyak yang berspekulasi bahwa mereka adalah sekelompok orang. Namun bisa saja dia hanya satu orang bisa pria atau wanita. Kita tak tahu pasti siapa sebenarnya dia!

Hanya saja menurut kabar yang beredar, dia memiliki 1 juta unit Bitcoin sampai saat ini. Artinya jika dia masih memegang Bitcoin sampai sekarang tanpa menjual satu koin pun kekayaan dia mencapai US$ 49,1 miliar atau setara dengan Rp 691,75 triliun.

Volatilitas harga Bitcoin sangatlah tinggi. Saat ini satu koinnya dihargai sekitar US$ 49.500 dan nilai kapitalisasi pasarnya tembus US$ 921 miliar. Berdasarkan situs coinmarketcap.com jumlah Bitcoin yang bersirkulasi sekarang mencapai 18.646.818. 

Dengan begitu, Nakamoto memiliki 5,36% dari total pasokan Bitcoin yang beredar di pasar. Sejak awal diluncurkan, jumlah Bitcoin yang bisa ‘ditambang’ hanya sebanyak 21 juta unit. 

Artinya Satoshi Nakamoto pada akhirnya hanya akan memegang 4,8% dari total Bitcoin. Itupun kalau ia tak menjualnya sedikit pun. Dengan jumlah tersebut maka sisa Bitcoin yang masih bisa ditambang hanya 2.353.182 unit. 

BACA JUGA:  Pembagian Dividen BJBR Meningkat dari Rp99,11 menjadi Rp104,55 per Lembar Saham, dengan total Pembagian Dividen sebesar Rp1,1T

Bitcoin yang semakin langka membuat harganya melesat tajam. Pada awalnya Bitcoin diciptakan untuk menggantikan fungsi mata uang fiat yang kita gunakan saat ini. Bitcoin muncul sebagai kritik terhadap sistem ekonomi moneter saat ini di mana bank sentral bisa mencetak uang ‘seenaknya’ kapanpun dan berapapun besarannya.

Ketika otoritas moneter mencetak banyak uang sehingga pasokan uang beredar menjadi banyak maka harga-harga barang akan naik alias inflasi. Uang menjadi tidak berharga.

Saat pandemi Covid-19 melanda, bank sentral paling adidaya di dunia yaitu The Fed kembali mencetak uang dalam jumlah banyak. Dalam satu tahun terakhir setidaknya The Fed sudah mencetak uang sebanyak US$ 3,32 triliun! Jumlah tersebut tiga kali lebih besar dari total output perekonomian Indonesia dalam setahun. 

Inilah yang membedakan Bitcoin dengan dolar AS atau mata uang fiat lainnya. Jumlahnya terbatas! Oleh karena itu banyak spekulan dan investor yang meliriknya karena bisa menjadi salah satu alternatif aset untuk lindung nilai dari devaluasi nilai tukar akibat inflasi. 

BACA JUGA:  Di El Salvador, Jual Beli di Pasar Kaki Lima Bisa Pakai Uang Kripto

Kini investor, trader dan pelaku pasar mulai mengkhawatirkan inflasi yang tinggi bakal terjadi. Ketika inflasi terjadi dolar AS bisa dibilang menjadi semakin tidak punya nilai terhadap barang dan jasa.

Oleh karena itu banyak pihak yang memanfaatkan momentum ini untuk lari dan membeli Bitcoin meski sampai sekarang aset digital ini belum bisa digunakan untuk menggantikan fungsi uang sebagai media pertukaran, unit akunting dan store of wealth. 

Disamping itu, volatilitas yang tinggi, aksi spekulasi dan euforia yang terjadi di pasar juga seolah mengisyaratkan bahwa kenaikan harga Bitcoin adalah sebuah fenomena bubble yang bisa pecah kapan saja.

Ingat! Setiap kali harga naik bukan berarti penguatannya akan berlangsung terus-menerus. Ada periode di mana harga akan jatuh atau crash. Hal inilah yang harus diwaspadai oleh setiap orang yang saat ini memegang Bitcoin. (RWH/CNBCIndonesia)

Berita Terkait

Kabar Baik bagi Pelanggan PLN Batam! Kompensasi Blackout Otomatis Masuk Tagihan November
Danantara Ambil Alih Pengelolaan PLN Batam, Keandalan Listrik Jadi Taruhan
80 UMKM Batam Ikuti Sampiran Project 2026, Literasi Digital Jadi Kunci Perluas Pasar
Biaya Haji 2027 Resmi Disepakati Rp98,46 Juta, Pelunasan Turun Jadi Rp23,24 Juta
Gas Natuna Selangkah Lagi Mengalir ke Batam, Pipa Bawah Laut WNTS–Pemping Berhasil Diuji
Batam Dibidik Investasi Data Center, PLN Siapkan Tambahan Kapasitas Listrik
Rp11 Miliar Disiapkan, Pemko Batam Sudah Salurkan Rp2,73 Miliar ke 23 Usaha Mikro
BP Batam Catat 1.182 Permohonan Perizinan OSS sejak September 2025 hingga September 2026
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:10 WIB

Kabar Baik bagi Pelanggan PLN Batam! Kompensasi Blackout Otomatis Masuk Tagihan November

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Danantara Ambil Alih Pengelolaan PLN Batam, Keandalan Listrik Jadi Taruhan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:25 WIB

80 UMKM Batam Ikuti Sampiran Project 2026, Literasi Digital Jadi Kunci Perluas Pasar

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:39 WIB

Biaya Haji 2027 Resmi Disepakati Rp98,46 Juta, Pelunasan Turun Jadi Rp23,24 Juta

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Gas Natuna Selangkah Lagi Mengalir ke Batam, Pipa Bawah Laut WNTS–Pemping Berhasil Diuji

Berita Terbaru