Bea Cukai Batam kembali menggagalkan peredaran rokok ilegal senilai miliaran rupiah. Tapi ada yang lebih konsisten dari penindakan mereka: keengganan untuk ditanya. Seperti biasa, konferensi pers digelar tanpa kehadiran media. Karena bagi mereka, transparansi bukan soal dialog — cukup unggah rilis, kirim foto, lalu anggap publik sudah mengerti. Sebuah keberhasilan yang hanya boleh dipuji, tidak boleh digugat.
INIKEPRI.COM – Dalam tradisi mulia yang telah diwariskan dari masa ke masa, Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Batam kembali merilis sebuah prestasi yang tentu saja membanggakan — dan tentunya dibagikan secara eksklusif, kepada WhatsApp Group “Media BC Batam”, bukan melalui konferensi pers. Karena, untuk apa wartawan? Bukankah rilis sepihak jauh lebih efisien?
Kali ini, kisah heroik bermula dari informasi masyarakat (yang entah bagaimana caranya tahu lebih cepat dari aparat) tentang pengiriman Barang Kena Cukai (BKC) Ilegal yang hendak melenggang santai melalui Pelabuhan Roro ASDP Telaga Punggur. Petugas sigap — atau mungkin sedang lewat — dan menemukan kegiatan mencurigakan di pinggir Jl. Patimura.
Dalam adegan yang terdengar seperti plot film aksi murah, para sopir dan buruh langsung kabur begitu melihat petugas datang. Sayang, tak ada dokumentasi visual untuk publik, karena tentu saja, semua ini dirancang untuk diketahui hanya melalui kata-kata tertulis yang dikurasi dengan hati-hati.
Barang bukti yang ditinggalkan? Hanya sekitar 3,5 juta batang rokok ilegal, dengan nilai fantastis mencapai Rp5,3 miliar, dan potensi kerugian negara ditaksir Rp2,675 miliar. Semua ini tentu saja diamankan dengan bantuan TNI AL, karena sinergi antar lembaga itu penting… meski tak cukup penting untuk ditampilkan dalam jumpa pers terbuka.
Menurut Kepala Bidang P2 Bea Cukai Batam, Muhtadi — yang pernyataannya sangat lancar saat diketikkan di atas kertas rilis — penindakan ini adalah bagian dari “Operasi Gurita”. Operasi yang katanya menjangkau luas, seperti gurita, tapi sayangnya, gurita ini tampaknya tidak memiliki mulut untuk berbicara langsung pada publik.

Operasi ini, katanya lagi, sudah berhasil menindak lebih dari 120 kasus sepanjang tahun ini. Hebat bukan? Namun kita tentu tidak perlu bertanya lebih jauh soal siapa yang ditangkap, bagaimana proses hukumnya, atau apakah ada tindak lanjut. Informasi semacam itu mungkin terlalu membosankan untuk disampaikan kepada media secara langsung.
Lebih lanjut, Bea Cukai Batam juga menyebut bahwa mereka “terus melakukan edukasi kepada masyarakat”. Bentuknya? Sosialisasi dan pembinaan. Tapi tentu bukan melalui media massa yang punya jangkauan luas, karena edukasi yang baik tampaknya adalah edukasi yang tersembunyi.
Muhtadi menutup dengan pernyataan standar penuh semangat nasionalisme: bahwa semua ini adalah bagian dari kontribusi menuju Indonesia Emas 2045. Ya, emas — meski informasi publik masih perunggu.
CATATAN REDAKSI
Jika Anda bertanya-tanya kenapa Anda tidak melihat konferensi pers besar-besaran, foto-foto di lapangan, atau penjelasan yang bisa ditanyakan langsung oleh jurnalis: jangan khawatir. Bea Cukai Batam tahu cara bekerja dalam keheningan. Seperti ninja, mereka bergerak diam-diam. Tapi jangan salah, rilis selalu dikirim. Tepat waktu. Tanpa undangan. Tanpa suara.
Karena di era keterbukaan informasi, transparansi terbaik adalah yang satu arah.
Penulis : IZ

















