Natuna Ditinggal Sepi: KKP Buka Tabir Ekspor Kerapu yang Terhenti

- Admin

Minggu, 1 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikan kerapu, salah satu komoditas perikanan yang diekspor dari Natuna ke Hongkong. Foto: ANTARA/HO-BKHIT Kepri

Ikan kerapu, salah satu komoditas perikanan yang diekspor dari Natuna ke Hongkong. Foto: ANTARA/HO-BKHIT Kepri

INIKEPRI.COM – Sejak Maret lalu, perairan Natuna dan Anambas kehilangan denyut harapan dari timur jauh. Kapal-kapal pengangkut ikan hidup dari Hongkong tak lagi merapat, meninggalkan kolam-kolam budidaya kerapu dan napoleon tanpa kepastian. Para nelayan kini hanya menatap lautan, sementara hasil jerih payah mereka menua dalam keramba.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengonfirmasi bahwa penghentian ekspor ikan dari Kepulauan Riau itu bukan tanpa alasan. Kepala Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Batam, Semuel Sandi Rundupadang, menyebut peningkatan pengawasan dari Pemerintah Tiongkok menjadi biang keladi.

Menyusul perang dagang yang memanas antara China dan Amerika Serikat, arus barang melalui jalur laut menuju Hongkong kini diawasi ketat, seakan setiap gelombang laut membawa kecurigaan.

Baca Juga :  Audiensi BWSS IV Batam: Bupati Natuna Tekankan Pentingnya Air Bersih dan Pengendalian Banjir

Dugaan Penyelundupan dan Ketegangan Regional

Di balik kaca mata Beijing, terdapat kekhawatiran mendalam akan penyelundupan barang lewat perairan menuju Hongkong. Ketegangan politik antara daratan utama dan wilayah administratif khusus itu memperkeruh lalu lintas dagang, termasuk komoditas ikan hidup yang selama ini menjadi andalan ekspor dari Natuna dan Anambas.

“Kapal-kapal dari Hongkong tak lagi datang. Mereka takut dicegat di tengah laut,” ungkap Semuel.

Padahal, hingga awal Maret, Natuna telah mengirim ribuan ekor kerapu, kakatua, dan lobster dengan nilai ekonomi yang mencapai hampir Rp900 juta hanya dalam satu pengiriman.

Namun kini, nelayan pembudidaya di perbatasan Indonesia itu hidup dalam ketidakpastian. Kolam-kolam mereka penuh, tetapi tak ada pembeli. Ekosistem ekonomi laut yang rapuh itu kembali terombang-ambing oleh konflik yang bukan mereka ciptakan.

Baca Juga :  KKP Latih Nelayan Natuna, Bangun Indonesia dari Pinggiran

Langit Jadi Harapan, Meski Mahal

Dalam situasi yang muram ini, beberapa pelaku usaha di wilayah lain seperti Bitung, Makassar, Tarakan, dan Manado memilih jalur udara sebagai alternatif. Kerapu jenis sunu yang bernilai tinggi masih bisa diterbangkan ke Hongkong, meski dengan ongkos mahal: sekitar Rp35 ribu per kilogram.

Namun berbeda dengan Natuna. Jenis kerapu macan dan kertang yang umum dibudidaya di sana tidak cukup bernilai untuk menutup biaya pengiriman udara.

“Bisa-bisa rugi besar kalau dipaksakan. Biaya kargo tidak sebanding dengan harga jual,” jelas Semuel.

Baca Juga :  KKP Hentikan Reklamasi di Pulau Kapal Batam karena Tak Kantongi Izin PKKPRL

Pemerintah Daerah Tak Berdaya

Situasi ini tak hanya menghantam nelayan dan pengusaha, tapi juga merugikan negara yang kehilangan potensi pendapatan ekspor.

Solusinya, kata Semuel, ada di tangan pemerintah pusat. Sebab persoalan ini bukan sekadar soal logistik, tetapi menyentuh urat nadi hubungan diplomatik antara dua negara besar: Indonesia dan China.

“Kami hanya bisa melapor. Yang bisa menyelesaikan ini adalah pemerintah pusat lewat jalur diplomasi,” pungkasnya.

Sementara itu, laut tetap bergelombang, keramba-keramba tetap terisi, dan harapan tetap menggantung di langit yang sama. Tapi selama kapal Hongkong tak kembali, Natuna akan terus merindukan debur langkah dagang yang dulu setia menyapa.

Penulis : IZ

Berita Terkait

Raja Mustakim Dorong Literasi Sejarah Masjid Agung Natuna Lewat Kuis Edukasi KPDN
Bupati Cen Sui Lan Lantik dan Kukuhkan 17 PNS di Lingkungan Pemkab Natuna
DPA 2026 Diserahkan, Bupati Natuna Ingatkan OPD Soal Efisiensi Anggaran
Malam Pergantian Tahun, Cen Sui Lan Hadir di Tengah Keramaian Pantai Piwang Natuna
MAN 1 Natuna Borong Prestasi di Hari Amal Bakti ke-80 Kemenag RI
Cen Sui Lan Bangga, Putra Natuna Sumbang Medali untuk Kepri di Kejurnas Takraw
KUA Bunguran Tengah Berhasil Cegah Nikah Dini dan Nikah Siri Sepanjang 2025
Amsakar Ajak Jemaat Jaga Harmoni dan Toleransi dalam Perayaan Natal Oikumene 2025

Berita Terkait

Senin, 12 Januari 2026 - 16:31 WIB

Raja Mustakim Dorong Literasi Sejarah Masjid Agung Natuna Lewat Kuis Edukasi KPDN

Jumat, 9 Januari 2026 - 11:13 WIB

Bupati Cen Sui Lan Lantik dan Kukuhkan 17 PNS di Lingkungan Pemkab Natuna

Jumat, 9 Januari 2026 - 07:53 WIB

DPA 2026 Diserahkan, Bupati Natuna Ingatkan OPD Soal Efisiensi Anggaran

Kamis, 1 Januari 2026 - 15:01 WIB

Malam Pergantian Tahun, Cen Sui Lan Hadir di Tengah Keramaian Pantai Piwang Natuna

Kamis, 1 Januari 2026 - 09:27 WIB

MAN 1 Natuna Borong Prestasi di Hari Amal Bakti ke-80 Kemenag RI

Berita Terbaru

TNI berhasil menyelesaikan pembangunan dua jembatan Bailey di kawasan Jamur Ujung, Kabupaten Bener Meriah, yang berada pada ruas jalan strategis Bireuen – Bener Meriah – Takengon. Foto: TNI AD

Daerah

TNI AD Rampungkan Dua Jembatan Bailey di Bener Meriah

Selasa, 13 Jan 2026 - 14:14 WIB