INIKEPRI.COM – Suasana hangat dan penuh cinta menyelimuti Rumah Singgah Ar-Rahman Rusli dan Firza Paloh di Perumahan Ocean Park, Marina City, Sekupang, Kota Batam, pada Minggu, 8 Juni 2025. Hari ini, bukan hanya gema takbir Iduladha yang menggetarkan hati, tapi juga tawa dan pelukan dari anak-anak istimewa yang menyambut tamu dengan mata berbinar.
Dalam rangka merayakan Iduladha 1446 Hijriah, Gerakan Restorasi Pedagang dan UMKM (GARPU) berkolaborasi dengan Yayasan Anak Istimewa (YAIS) Batam menggelar tasyakuran dan silaturahmi akbar. Bertajuk sederhana namun bermakna dalam: “Merajut Cinta, Menguatkan Asa.”
Bagi Titin Mandiri, salah satu penggagas kegiatan, acara ini bukan sekadar perayaan hari besar Islam. “Kami ingin menjadikan momen Iduladha ini sebagai perekat kasih sayang, antara orang tua, anak-anak istimewa, dan seluruh masyarakat. Karena mereka ini bukan untuk dikasihani, melainkan untuk dicintai dengan setulus hati,” ucapnya, sambil mengelus lembut rambut seorang anak autis yang duduk di pangkuannya.

Kurban yang Tak Sekadar Daging
Sehari sebelumnya, rumah singgah yang diasuh oleh Pietra Machreza Paloh itu juga telah melangsungkan pemotongan hewan kurban. Seekor kambing disembelih sebagai bentuk pengabdian dan rasa syukur.
“Ini kurban dari Bapak Pietra Machreza Paloh, beliau menitipkan niat agar daging ini sampai ke tangan yang membutuhkan, terutama untuk anak-anak dan keluarga istimewa di sini,” ujar Ayub Nasution, yang hadir mewakili Pietra.

Ayub juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Pietra yang harus menghadiri agenda penting di Jakarta. “Namun beliau titip salam, dan mendoakan agar acara ini menjadi berkah untuk semuanya. Beliau selalu menekankan pentingnya meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail—yakni tentang keikhlasan dan keteguhan hati.”
Hadirkan Terapi, Hadirkan Harapan
Tak berhenti di tasyakuran, rumah singgah ini kini bersiap membuka lembaran baru. Mulai 10 Juni 2025, akan dibuka layanan terapi dan fisioterapi rutin untuk anak-anak istimewa.
“Ini adalah bentuk komitmen kami untuk terus membersamai tumbuh kembang mereka,” ujar Titin.
“Setiap Selasa dan Kamis, mulai pukul 08.00 pagi, kami akan membuka sesi terapi di sini. Gratis. Terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan,” lanjut dia.
Langkah kecil ini, katanya, mudah-mudahan menjadi pelita bagi banyak keluarga yang selama ini kesulitan mengakses layanan tersebut.
Tak Ada yang Istimewa, Karena Semua Istimewa
Anak-anak yang datang hari itu langsung larut dalam suasana—bercanda, bernyanyi, dan bermain seolah sudah lama berbagi hari-hari. Tak ada canggung, tak ada sekat; hanya tawa yang bersahut-sahutan dan tangan-tangan kecil yang saling menggandeng tanpa diminta.
Di rumah singgah itu, kebersamaan tumbuh bukan dari kesamaan, tapi dari rasa nyaman yang dibagi dengan tulus. Tak ada yang lebih menonjol, karena semua punya tempat yang sama: sebagai anak-anak yang berhak merasa utuh dan berharga. Di mata mereka, dunia begitu bersih—penuh warna, tanpa luka, dan cukup dengan satu hal sederhana: diterima apa adanya.

Acara ini turut mendapatkan dukungan dari Bank Tabungan Negara (BTN). Dukungan tersebut menjadi simbol bahwa semangat berbagi dan kepedulian sosial tak harus datang dari satu arah. Di tengah kesibukan dan formalitas institusi besar, BTN memilih untuk hadir dan menyatu dalam kehangatan sederhana bersama anak-anak luar biasa ini.
Kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa perubahan sosial tak selalu butuh panggung besar. Kadang cukup dengan sebuah niat tulus dan pelukan hangat—di tempat kecil yang penuh cinta.
Mungkin beginilah seharusnya kita memaknai kurban—bukan hanya soal menyembelih hewan, tapi tentang memotong ego dan membuka ruang kasih untuk mereka yang kerap terlupakan. Karena sejatinya, kurban yang paling mulia adalah ketika kita rela mengorbankan waktu, perhatian, dan hati, demi sesama manusia.
Penulis : IZ

















