Menjadi Rumah Bagi Harapan yang Sering Diabaikan: Sebulan Rumah Singgah Ar-Rahman Rusli dan Firza Paloh Menyulam Cinta untuk Anak-Anak Istimewa
INIKEPRI.COM — Di tengah riuhnya Kota Batam yang terus berlari mengejar pertumbuhan dan pembangunan, ada satu tempat yang justru memilih untuk berhenti sejenak, menunduk, lalu memeluk—memeluk mereka yang kerap dilupakan, anak-anak istimewa yang hidup dalam dunia yang belum sepenuhnya ramah pada keberagaman.
Sudah satu bulan satu pekan, Rumah Singgah Ar-Rahman Rusli & Firza Paloh berdiri teguh sebagai tempat bertumbuh bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Mereka datang dengan keterbatasan fisik, tapi pulang membawa pelukan, semangat, dan harapan baru. Sebuah rumah sederhana yang kini menjadi pelita bagi banyak keluarga di Batam dan sekitarnya.
“Kami tidak punya alat canggih atau gedung megah,” tutur Titin Mandiri, pengelola rumah singgah, “tapi kami punya kasih. Dan dari kasih itulah semua ini tumbuh,” imbuhnya lagi.

22 Anak, 22 Cerita Haru
Selama waktu singkat itu, sudah 22 anak istimewa yang menjalani fisioterapi secara berkala di Rumah Singgah. Namun, lebih dari sekadar terapi fisik, tempat ini juga menghadirkan layanan konseling yang membalut luka-luka emosional baik bagi anak maupun orang tua mereka. Di balik tawa seorang anak yang bisa duduk tegak untuk pertama kalinya, ada air mata seorang ibu yang akhirnya merasa tidak sendirian.
Setiap Selasa dan Kamis, sejak pagi pukul 08.00, rumah ini mulai hidup dengan aktivitas yang penuh makna. Tangisan dan tawa menyatu. Anak-anak dengan segala keterbatasannya mencoba untuk belajar duduk, berdiri, melangkah, bahkan hanya sekadar menggenggam. Dan di sudut lain, para orang tua saling menyemangati, saling bertukar cerita—dalam bahasa cinta yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sama-sama sedang berjuang.
“Kami tidak hanya merawat tubuh anak-anak, tapi juga jiwa para orang tua. Banyak dari mereka yang sebelumnya tak tahu harus ke mana. Sekarang, mereka saling menguatkan. Ini bukan sekadar terapi, ini tentang kemanusiaan,” ujar Titin, dengan mata berkaca-kaca.

Lebih dari Sekadar Terapi
Yang membedakan Rumah Singgah Ar-Rahman dengan fasilitas serupa adalah pendekatan holistik yang digunakan. Di sini, anak-anak tak hanya datang untuk terapi, tapi diantar jemput secara gratis. Saat mereka menjalani terapi, makanan dan minuman telah disiapkan dengan gotong royong oleh para orang tua—sebuah harmoni kemanusiaan yang langka di zaman ini.
“Kami memasak bersama. Ada yang bawa telur, ada yang bawa cabai dan sayuran, ada yang hanya bawa senyum. Tapi semua merasa cukup. Semua saling memberi, semua saling menerima,” kenang Titin penuh haru.
Rumah singgah ini juga menjadi tempat berteduh bagi mereka yang datang dari luar Batam untuk berobat. Salah satunya adalah seorang pria dari Tanjung Balai Karimun, yang rutin menjalani kemoterapi di Batam. Setiap bulan, ia bersama keluarganya menginap satu-dua malam di rumah ini.
“Ia selalu bilang, rumah ini bukan hanya tempat menginap, tapi tempat dia merasa kuat lagi,” ungkap Titin, sembari menunjukkan ruang kecil tempat sang bapak biasa tidur.
Rumah untuk Semua Jiwa yang Letih
Di saat banyak fasilitas kesehatan yang kaku dan transaksional, Rumah Singgah Ar-Rahman hadir sebagai oasis—menyediakan kehangatan tanpa syarat. Di rumah ini, tidak ada yang merasa ditinggalkan. Tidak ada yang merasa aneh. Tidak ada yang merasa sendirian.
Setiap anak dipanggil dengan namanya, bukan dengan diagnosisnya. Setiap orang tua dipeluk dengan empati, bukan dikasihani. Dan setiap relawan yang datang, meninggalkan sepotong jiwanya di sana.
“Kami ingin dunia tahu, bahwa anak-anak ini bukan beban. Mereka adalah berkah yang hanya butuh ruang untuk tumbuh dan dicintai,” tegas Titin.
Terbuka untuk Siapa Saja
Rumah Singgah Ar-Rahman Rusli & Firza Paloh membuka pintunya setiap Selasa dan Kamis, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Untuk mendaftar, orang tua atau wali dapat menghubungi nomor: 0822-8684-8508.
Titin berharap, semakin banyak masyarakat yang ikut terlibat. Entah dengan menjadi relawan, menyumbang fikiran & gagasan maupun materi, atau sekadar datang dan berbagi waktu.
“Cinta tidak harus mahal. Kadang, cukup dengan hadir dan peduli.”
Penulis : IZ

















