INIKEPRI.COM – Aksi unjuk rasa Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan Daerah Kepri, Wilayah Sumbagut, Rabu (27/8), berubah menjadi forum dialog yang cair, jauh dari kesan tegang.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, langsung menerima mereka di Kantor DPRD Kota Batam, tak lama setelah rapat paripurna.
Alih-alih penuh intrik, pertemuan itu justru penuh gagasan. Kritik mahasiswa disampaikan lugas, disertai saran solutif. Koordinator BEM SI Kerakyatan Wilayah Sumbagut, Muryadi Aguspriawan, menegaskan bahwa unjuk rasa kali ini bukan sekadar menggugat, melainkan bentuk kepedulian.
“Kami sampaikan kritik yang keras ini bukan berarti membenci, tapi ini bentuk kecintaan kami mahasiswa pada daerah ini,” tegas Muryadi, yang juga Ketua BEM Universitas Riau Kepulauan (Unrika) Batam.
Empat poin utama disodorkan: penertiban truk ugal-ugalan, penyelesaian persoalan sampah, penanganan banjir, dan regulasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tepat sasaran.
Amsakar menyambutnya dengan senyum. Ia bahkan mengaku merasa seolah kembali ke masa kuliah.
“Saya merasa seperti kembali ke masa kuliah. Aspirasi mereka kritis namun solutif. Tidak ada kota besar yang steril dari masalah, tapi yang penting ada komitmen bersama untuk menyelesaikannya,” kata Amsakar.
Dialog makin mengalir ketika isu sampah dikupas. Menurut Amsakar, Batam dengan 1,3 juta penduduk menghasilkan rata-rata 1 kilogram sampah per orang per hari. Jumlah yang fantastis. Karena itu, penyelesaian masalah sampah tak bisa hanya di hilir.
“Harus dimulai dari hulu, dari rumah tangga. Kami berharap mahasiswa ikut membantu menyosialisasikan kesadaran ini,” ujarnya.
Ia menegaskan Pemko sudah menambah 14 armada pengangkut, 40 bin kontainer, buldozer, dan tahun depan membangun UPT pengelolaan sampah serta tiga insinerator. Gotong royong massal pun akan dihidupkan kembali.
Masalah banjir pun jadi sorotan. Ada 105 titik rawan banjir di Batam. Amsakar mengurai sebabnya: alih fungsi lahan, pelebaran jalan tanpa drainase. Masterplan sudah disusun, sistem pompa dibangun di Jodoh, tahun depan menyusul di lokasi lain, termasuk jembatan Orchard.
Program MBG juga dibela Amsakar. Menurutnya, ini amanah Presiden, sekaligus mendukung ekonomi petani lokal.
“Koperasi Merah Putih akan dibentuk sebagai penyangga distribusi. Jika ada indikasi kapitalisasi, silakan laporkan. Pasti kita tindak tegas,” tegasnya.
Masukan mahasiswa makin beragam: dari pengurangan plastik dalam kegiatan pemerintah, penanganan sampah di pulau penyangga, hingga akses transportasi bagi guru di hinterland.
Seorang mahasiswi, Nurainun, bahkan mengingatkan potensi pencemaran laut jika sampah tak ditangani serius.
“Kami takut ini akan mencemari laut kita. Salah satu solusi yang kami tawarkan yakni program bakar sampah minim asap,” katanya.
Bagi Amsakar, dialog ini lebih dari sekadar menampung aspirasi. Ia menyebut semua masukan harus jadi bahan evaluasi konkret bagi Pemko Batam.
“Masukan yang konstruktif dari mahasiswa bagi pembangunan Batam, bisa kita kolaborasikan,” pungkasnya.
Dialog ini juga dihadiri Anggota DPRD Kota Batam Yunus Muda, Rudi, Adnan Adhan, Plt. Sekda Kota Batam Firmansyah, Asisten Pemerintahan Yusfa Hendri, Kepala Dinas Perhubungan Leo Putra, Kadis Pendidikan Hendri Arulan, Kasat Satpol PP Kota Batam Imam Tohari dan pihak-pihak terkait.
Penulis : DI
Editor : IZ

















