INIKEPRI.COM – Sejarah baru tercipta di dunia sepak bola. Cape Verde, negara kepulauan mungil di lepas pantai barat Afrika, resmi menorehkan tinta emas dengan lolos ke Piala Dunia 2026 — untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Yang membuat pencapaian ini semakin luar biasa, jumlah penduduk Cape Verde hanya sekitar 550 ribu jiwa — bahkan setengah dari populasi Kota Batam. Namun, semangat dan determinasi mereka di lapangan hijau mampu mengguncang benua Afrika.
Air Mata Kemenangan di Praia
Euforia pecah di Stadion Nasional Praia, Senin (13/10/2025) malam waktu setempat. Ribuan suporter memenuhi tribun, melambai-lambaikan bendera biru kebanggaan mereka, menyaksikan tim nasional Cape Verde menghancurkan Eswatini dengan skor telak 3-0.
Hasil ini memastikan mereka menjuarai Grup D Kualifikasi Zona Afrika dengan 23 poin, unggul empat angka dari raksasa sepak bola Afrika, Kamerun — negara yang selama ini dikenal paling sering tampil di Piala Dunia (delapan kali).
Sementara di laga lain, Kamerun hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan Angola di Yaounde, sekaligus memastikan Cape Verde sebagai wakil baru Afrika di pentas dunia.
“Kemenangan untuk Seluruh Bangsa Cape Verde”
Pelatih Pedro “Bubista” Brito tak kuasa menyembunyikan emosinya setelah peluit panjang berbunyi. Dengan mata berkaca-kaca, ia menegaskan kemenangan ini bukan sekadar tiket ke Piala Dunia, melainkan simbol perjuangan seluruh rakyatnya.
“Memberikan kebahagiaan ini kepada rakyat Cape Verde adalah hal yang luar biasa. Ini kemenangan untuk seluruh bangsa Cape Verde, terutama bagi mereka yang memperjuangkan kemerdekaan kami,” ujar Bubista haru.
“Momen ini terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan 50 tahun kemerdekaan kami.”
Di tengah sorak-sorai publik Praia, kapten Ryan Mendes dan kiper veteran Vozinha tak kuasa menahan tangis.
“Saya sudah memimpikan momen ini sejak kecil. Sekarang waktunya merayakan,” ucap Vozinha, penjaga gawang berusia 39 tahun yang telah membela tim sejak dua dekade lalu.
Tim Diaspora dengan Jiwa Nasionalis
Cape Verde, atau yang secara resmi bernama Republik Cabo Verde, memiliki keunikan tersendiri.
Sebagian besar pemainnya lahir dan tumbuh di luar negeri — dari Dailon Livramento di Rotterdam, Willy Semedo di pinggiran Paris, hingga pemain-pemain lainnya yang berkarier di Portugal, Belanda, Turki, bahkan Amerika Serikat.
Namun, darah biru Cape Verde tetap mengalir kuat dalam diri mereka.
“Saya memeluk seluruh rakyat Cape Verde, baik di tanah air maupun di diaspora besar kami di seluruh dunia,” ujar Stopira, pencetak gol ketiga yang menutup pesta kemenangan di menit akhir pertandingan.
Dari Terpuruk ke Puncak Dunia
Perjalanan Cape Verde menuju Piala Dunia bukanlah jalan mulus. Mereka sempat terseok di awal kualifikasi — hanya bermain imbang lawan Angola dan bahkan kalah telak 4-1 dari Kamerun.
Namun, Bubista menolak menyerah. Ia menyalakan kembali semangat juang tim dan membawa mereka menang lima kali beruntun, termasuk membalas kekalahan atas Kamerun.
Yang lebih mengagumkan, keberhasilan ini datang setelah kegagalan mereka lolos ke Piala Afrika 2025. Alih-alih memecat pelatih, federasi justru memberikan kepercayaan penuh kepada Bubista — keputusan yang kini terbukti menjadi langkah terbaik.
“Ini hadiah untuk semua orang yang percaya pada kami,” tutup sang pelatih dengan penuh bangga.
Dari Pulau Kecil ke Panggung Dunia
Dengan populasi yang bahkan lebih sedikit dari setengah penduduk Kota Batam, Cape Verde membuktikan bahwa ukuran negara tidak menentukan besar kecilnya mimpi.
Mereka telah menuliskan kisah inspiratif — dari kepulauan kecil di Samudra Atlantik, kini melangkah gagah menuju Piala Dunia 2026, ajang paling bergengsi di planet ini.
Cape Verde bukan lagi sekadar nama di peta. Mereka kini simbol keberanian, kebanggaan, dan keajaiban sepak bola modern.
Penulis : RBP
Editor : IZ

















