INIKEPRI.COM – MAN 1 Natuna menggelar kegiatan bertema “Kearifan Lokal dan Gaya Hidup Berkelanjutan” sebagai bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan Lil ‘Alamin (P5RA) untuk tahun ajaran 2025/2026.
Kegiatan yang dipusatkan di Aula MAN 1 Natuna, pada Senin (17/11/2025) ini, menghadirkan pembelajaran berbasis budaya sekaligus aksi nyata peduli lingkungan.
Sejak pukul 08.00 WIB, siswa kelas X mengikuti rangkaian materi yang dirancang untuk menumbuhkan kesadaran budaya Melayu sekaligus memahami konsep hidup berkelanjutan. Pada sesi pertama, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Natuna, Datuk Haji Wan Suhardi, S.E, memberikan materi mengenai tata cara pemakaian baju kurung Melayu sesuai adat.
Dalam penjelasannya, ia menekankan filosofi kesopanan dalam busana Melayu.
“Bagi perempuan, baju kurung itu yang longgar pada lubang, lengan, perut dan dada dibuat longgar. Bermakna mengurung aurat dan menutup aib. Bagi laki-laki, baju kurung itu ada yang model kancing satu (model teluk belanga), ada model kerah cekak musang (butang 5), dan ada model kerah kolar tunku (butang 3),” jelasnya.
Setelah sesi pertama, siswa mendapat waktu istirahat sebelum masuk ke materi kedua yang digelar secara praktik. Pada sesi ini, siswa diminta membawa peralatan dan kulit buah untuk membuat eco-enzyme, sebagai bagian dari edukasi hidup berkelanjutan.
Materi disampaikan oleh Hazrani, S.Pi, perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Natuna. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga bumi.
Menurutnya, langkah sederhana seperti pemanfaatan sampah organik mampu memberikan dampak nyata.
Dalam pemaparannya, Hazrani menjelaskan:
– memanfaatkan sampah organik,
– merawat bumi dengan eco-enzyme,
– memahami manfaat pengolahan eco-enzyme.
Ia juga mempraktikkan cara membuat cairan fermentasi tersebut menggunakan bahan sederhana:
– 1 liter air
– 3 ons kulit buah
– 1 ons gula merah (perbandingan 1:3:1)
Adapun proses fermentasi dilakukan dengan jadwal pembukaan wadah:
– pembukaan pertama: 1 minggu
– pembukaan kedua: 1 bulan
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari implementasi P5RA yang menekankan pembentukan karakter siswa yang peduli lingkungan, kreatif, dan bertanggung jawab.
Salah satu peserta, Rahmi, mengaku memperoleh pengalaman baru dalam kegiatan tersebut.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal kecil, seperti mendaur ulang barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat. Selain itu, dengan adanya P5RA ini, kerja sama antar siswa juga semakin meningkat, karena kami belajar menyelesaikan tantangan bersama dalam kelompok,” ujarnya.
Guru pembimbing P5RA kelas X, Fuji Rohyatin, menilai kegiatan ini bukan hanya proyek rutin, tetapi wadah pembentukan karakter siswa.
“Melalui tema Gaya Hidup Berkelanjutan dan Kearifan Lokal ini, siswa tidak hanya belajar secara teori, tapi langsung mengamalkannya dalam kehidupan. Ini sejalan dengan nilai-nilai rahmatan lil alamin, di mana Islam mendorong umatnya untuk menjaga bumi dan seluruh ciptaan Allah SWT. Saya bangga karena para siswa menunjukkan antusiasme tinggi dan kerja sama yang semakin solid,” katanya.
Dengan menggabungkan edukasi budaya Melayu dan kepedulian lingkungan, MAN 1 Natuna berharap proyek P5RA tahun ini dapat menanamkan karakter berkelanjutan pada siswa sebagai Pelajar Pancasila sekaligus Rahmatan Lil Alamin.
Penulis : RP
Editor : IZ

















