Catatan tentang gizi, kepemimpinan, dan masa depan
INIKEPRI.COM -Di negeri kepulauan seperti Natuna, membangun tidak selalu dimulai dari gedung tinggi atau pidato panjang. Kadang ia berawal dari sesuatu yang sunyi, nyaris luput dari sorotan: sepiring makanan bergizi untuk anak-anak, disiapkan dengan perhitungan dan kepedulian.
Orang Melayu punya petuah lama: “Kalau hendak membangun rumah, jangan lupa menegakkan tiang.” Dalam konteks hari ini, tiang itu bukan lagi kayu atau batu, melainkan kesehatan dan gizi generasi muda. Dari sanalah kekuatan sebuah daerah bahkan bangsa ditopang.
Kesadaran itulah yang terasa kuat ketika Pemerintah Kabupaten Natuna meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Bunguran Timur Laut, Desa Limau Manis. Bagi Bupati Natuna, Cen Sui Lan, langkah ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari ikhtiar panjang menjaga masa depan daerah perbatasan.
Program ini sejalan dengan agenda strategis nasional Presiden Prabowo Subianto dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, sebuah visi besar yang menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama. Di dalam visi itu, pemenuhan gizi anak-anak bukan pelengkap kebijakan, melainkan jantung pembangunan.
“Besar kayu karena akarnya, besar bangsa karena manusianya,” demikian orang tua-tua Melayu mengingatkan. Pesan itu menemukan maknanya di Natuna, ketika urusan gizi diperlakukan sebagai tanggung jawab bersama antara negara, daerah, dan masyarakat.
Cen Sui Lan memahami betul bahwa anak-anak hari ini adalah wajah Natuna di masa depan. Karena itu, perhatian pada gizi bukan sekadar upaya teknis, tetapi keputusan moral. Sebuah keberpihakan pada generasi yang belum mampu menyuarakan kebutuhannya sendiri.
Dalam Al-Qur’an, peringatan itu ditegaskan dengan sangat jelas. Allah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah.”
Ayat ini bukan hanya nasihat keluarga, tetapi juga mandat sosial bagi para pemegang amanah kekuasaan.
SPPG di Bunguran Timur Laut hadir sebagai jawaban atas mandat itu. Dikelola dengan standar kebersihan dan keamanan pangan, serta didukung sinergi lintas institusi, termasuk Polres Natuna di bawah naungan Yayasan Kemala Bhayangkari, program ini dirancang untuk memastikan setiap asupan yang sampai ke anak-anak benar-benar memberi nilai gizi, bukan sekadar mengenyangkan.
Bagi Cen Sui Lan, sinergi inilah kunci. Pembangunan tidak bisa berdiri di satu tangan. Pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat harus berjalan seiring. “Pemimpin adil, rakyat pun makmur,” kata pepatah Melayu. Keadilan itu salah satunya diwujudkan dengan memastikan anak-anak di wilayah terluar negeri ini mendapatkan hak dasar yang sama: tumbuh sehat dan cerdas.
Lebih dari itu, program pemenuhan gizi juga menjadi benteng awal pencegahan stunting dan kekurangan gizi, dua persoalan yang sering kali menjadi akar dari berbagai masalah sosial di kemudian hari. Dalam pandangan yang lebih luas, menjaga gizi hari ini adalah menjaga stabilitas dan daya saing bangsa esok hari.
Presiden Prabowo berkali-kali menekankan bahwa kekuatan Indonesia ke depan ditentukan oleh kualitas manusianya. Di Natuna, gagasan besar itu diterjemahkan secara membumi: dari dapur pelayanan gizi, dari meja-meja distribusi makanan, dari perhatian terhadap anak-anak sekolah dan kelompok rentan.
Tak hanya anak-anak, kepedulian itu juga menjangkau para lansia dan anak yatim melalui penyaluran bantuan sosial. Sebuah pengingat bahwa pembangunan sejati tidak meninggalkan siapa pun di belakang. Orang Melayu menyebutnya dengan sederhana: “Anak dipangku, negeri dijinjing.” Mengurus generasi dan mengelola daerah adalah dua hal yang tak boleh dipisahkan.
Di tengah berbagai tantangan wilayah kepulauan, langkah-langkah semacam ini mungkin tak selalu riuh. Namun seperti air tenang yang dalam, ia menyimpan makna besar. “Air yang tenang jangan disangka tiada dalam,” demikian petuah lama mengingatkan.
Natuna hari ini sedang merawat akarnya. Dan dari akar yang dirawat dengan gizi, perhatian, serta kebijakan yang berpihak, kelak akan tumbuh pohon yang kokoh menjadi bagian dari Indonesia yang kuat, sehat, dan berdaulat, sebagaimana dicita-citakan dalam Indonesia Emas.
Dan di ujung negeri, Cen Sui Lan memastikan Natuna tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut melangkah dengan tenang, terukur, dan berakar, menuju Indonesia yang lebih kuat.
Penulis : IZ

















