Pernah Ikut Perang Bela ISIS, Ustaz Ini Dukung FPI Bubar

- Admin

Jumat, 8 Januari 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Antara/Dhoni Setiawan)

(Antara/Dhoni Setiawan)

INIKEPRI.COM – Pernah punya pengalaman ikut perang bela ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) di Suriah, mantan narapidana terorisme Ustaz Syahrul Munif mengaku sangat mendukung upaya pemerintah untuk membubarkan organisasi massa Front Pembela Islam (FPI).

Alasan Ustaz Syahrul Munif tidak lain karena dia menilai FPI terindikasi dan mengarah kepada aliran radikalisme.

Pria yang akrab dipanggil Ustaz Syahrul ini sendiri merupakan salah satu anggota dari kelompok militan ISIS. Dalam keterlibatannya, dia disebut ikut memperjuangkan negara khilafah pada konflik di Suriah di kisaran tahun 2014.

Ketika menghadiri sebuah diskusi bertajuk Diskusi Forum Intelektual, Ustaz Syahrul mengatakan bahwa memang faktanya demikian, organisasi seperti HTI dan FPI layak dibubarkan.

“Faktanya lebih baik bagi begitu (HTI dan FPI dibubarkan),” kata Ustaz Syahrul, menyitat dari Suara, pada 8 Januari 2021.

Baca Juga :  PROJO Beri Sinyal Dukung Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto di Bursa Capres 2024

Dalam kesempatan menjadi moderator di acara diskusi tesebut, dia juga membeberkan sejumlah alasan dibalik dukungannya kepada pemerintah untuk membubarkan HTI dan FPI.

Menurutnya bila Tanfidzi sudah dileburkan bersamaan dengan politik dan tidak lekas ditangani oleh pemerintah, maka akan timbul masalah radikalisme yang luar biasa.

“Virus Tanfidzi itu akan dikawinkan dengan politik, kalau tidak dibendung oleh pemerintah akan terjadi hal luar biasa (radikalisme),” ujar Ustaz Syahrul.

Ketika dikirim ke Negeri Suriah untuk berperang bersama ISIS, dia sendiri menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana keindahan negara tersebut sebelum berperang dan dirusak oleh kelimpok radikalisme seperti ISIS.

Bahkan untuk membangun kembali negaranya yang kini telah hancur lebur dibutuhkan waktu hingga pulahan tahun. Itu juga dengan catatan, bakal rampung bila keadaan ekonomi negara berjalan dengan normal dan tak ada peperangan.

Baca Juga :  PDIP: Ogah Berkoalisi dengan PKS dan Bersama Demokrat Sulit

“Perlu waktu 30 tahun untuk membangun negeri seindah tersebut. Dengan catatan kondisi negara dalam keadaan normal dan tidak terjadi perang,” jelasnya.

Cerita Soal Mengerikannya Radikalisme

Dalam kesempatan itu, dia juga berbagi pengalaman pribadinya ketika memiliki pandangan radikalisme yang kerap digaungkan oleh jaringan terorisme dari kelompok ISIS.

Pada awalnya, Ustaz Syahrul berkinginan untuk melakukan jihad agar kelak di akhirat bisa masuk surga.

Dia berpikiran bahwa untuk bisa jihad maka dia harus datang langsung ke lokasi tumbuh dan berkembangnya ISIS, yakni di Suriah.

“Saya memiliki pandangan, bahwa jihad yang sebenarnya itu adalah datang langsung ke lokasi (Suriah). Tapi itu salah,” ucapnya.

Baca Juga :  KPU Batasi Usia KPPS di Pemilu 2024

Pemikiran radikalisme yang tumbuh memang mengerikan, dia mencontohkan seperti yang dialami oleh salah satu rekannya, yang bahkan tega mengkafirkan orang tua kandungnya sendiri.

“Bahkan ada yang sampai mengkafirkan orang tuanya sendiri. Ini tentunya tidak dibenarkan,” imbuhnya.

Kemudian acara diskusi ini juga dihadiri oleh mantan terpidana terorisme lainnya, yaitu Ustaz Pujiyanto yang terlibat dengan aksi jaringan terorisme serta kepemilikan senjata api.

Dia juga menyutujui bahwa FPI dan HTI memang harus dibubarkan lantaran sebenarnya ajaran agama Islam tidak bertentangan dengan ideologi dasar negara Pancasila.

“Kami tidak setuju dengan aksi radikalisme dan intoleran yang mengatasnamakan agama. Pancasila juga tidak ada masalah dengan agama Islam,” tuturnya. (ER/Hops)

Berita Terkait

DPW NasDem Kepri Kumpulkan DPD se-Kepri: Soliditas Kader Jadi Fokus Utama
Dukungan untuk Rocky Marciano Bawole Pimpin Kembali DPW PKB Kepri Terus Mengalir
Kuda Hitam dari Dalam Rumah: Muhammad Nur dan Arah Baru NasDem Batam
KPU Siapkan Usulan Desain Baru Pemilu Terpisah
Raja Hery Mokhrizal Kembali Nahkodai Hanura Batam, Janji Bangun Kekuatan dari Akar Rumput
Survei Poltracking: Kepercayaan Publik terhadap Pemerintahan Prabowo–Gibran Capai 81 Persen
Pemerintah Persilakan DPR Bahas Draf RUU Perampasan Aset
Ini Alasan Revisi UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaran Ibadah Haji dan Umrah

Berita Terkait

Sabtu, 6 Desember 2025 - 15:39 WIB

DPW NasDem Kepri Kumpulkan DPD se-Kepri: Soliditas Kader Jadi Fokus Utama

Kamis, 20 November 2025 - 12:39 WIB

Dukungan untuk Rocky Marciano Bawole Pimpin Kembali DPW PKB Kepri Terus Mengalir

Kamis, 13 November 2025 - 10:49 WIB

Kuda Hitam dari Dalam Rumah: Muhammad Nur dan Arah Baru NasDem Batam

Senin, 10 November 2025 - 07:04 WIB

KPU Siapkan Usulan Desain Baru Pemilu Terpisah

Jumat, 31 Oktober 2025 - 08:28 WIB

Raja Hery Mokhrizal Kembali Nahkodai Hanura Batam, Janji Bangun Kekuatan dari Akar Rumput

Berita Terbaru