INIKEPRI.COM – Pemilu 1955 menjadi tonggak sejarah pertarungan politik Indonesia. Menjadi Pemilu pertama, antusiasme masyarakat benar-benar menggelora. Sebanyak 29 partai ikut serta dengan beragam latar belakang.
Pesta demokrasi era Presiden Soekarno, itu memiliki segudang catatan. Terutama ketika partai berlatar belakang Islam sudah terbelah. Mereka terbagi seperti di Masyumi, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Nahdlatul Ulama.
Awalnya Masyumi disepakati menjadi satu-satunya partai islam. Pilihan itu disepakati kala Wakil Presiden Mohammad Hatta menyampaikan maklumat pada 3 November 1945, yang mendorong dibentuk partai politik agar bisa dilangsungkan Pemilu pada tahun 1946. Sayangnya Pemilu pertama kali baru digelar 1955 akibat banyak masalah negeri harus dibenahi.
Umat Islam pada era itu memang sepakat menjadikan Masyumi sebagai satu-satunya partai politik yang akan memperjuangkan suara mereka. Itu sebabnya, sejumlah organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia bergabung bersama Masyumi.
Sayangnya, kebersamaan itu tidak berjalan lama. Satu per satu tokoh memilih meninggalkan Masyumi. Dimulai dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) tahun 1947, diikuti Nahdlatul Ulama tahun 1952. Sehingga semangat menjadikan Masyumi sebagai satu-satunya partai politik umat Islam berujung kandas. Seperti dipaparkan Profesor Lili Romli dalam jurnal Partai Islam dan Pemilih Islam di Indonesia pada 2004 lalu.
Perpecahan Masyumi tentu saja memberikan dampak. Pada Pemilu 1955, suara partai Islam tidak lagi bulat. Enam partai Islam bersaing di Pemilu 1955.
Nasib baik berpihak pada Masyumi. Meski terpecah di tahun 1947, Masyumi berada di posisi kedua dengan perolehan 20,9 persen suara atau 57 kursi. Urutan pertama Partai Nasional Indonesia (PNI) mendapat 22,3 persen suara atau 57 suara. Sedang di urutan ketiga ada Nahdlatul Ulama (NU) dengan perolehan 18,4 persen suara atau 45 kursi.
Sejak Pemilu 1955 itu pula, partai Islam tak pernah absen dari pemilu. Meski telah melewati tiga masa pemerintahan dengan 12 kali Pemilu, nyatanya keikutsertaan partai Islam dalam percaturan politik nasional tak pernah mereda.
Sejarawan Rushdy Hoesein, turut mengamati proses lahirnya partai Islam setelah Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan. Menurutnya, kemunculan partai Islam bermula dari terbelahnya dua pendapat.
“Bahwa orientasinya itu kepada kebangsaan dan Islam. Kebangsaan ini katakanlah sekuler yaitu yang tidak mencampur urusan agama dan kehidupan bernegara. Tetapi bagi orang Islam tidak bisa,” kata Rushdy saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (20/4/2021).
Namun Rushdy menambahkan berkaca dari sejarah, sulit membuat seluruh kekuatan Islam bersatu. Jauh sebelum Indonesia merdeka, di era pergerakan nasional, sempat muncul nama besar Sarekat Islam (SI). Namun akhirnya terpecah-pecah karena berbagai faktor. Demikian juga yang terjadi dengan partai Islam. Perbedaan kepentingan atau pendapat sering terjadi.
“Yang diperdebatkan malah yang tetek bengeknya,” kritik dia.
Sementara di era Orde Baru, Presiden Soeharto punya cara sendiri untuk memangkas partai politik dari 11 menjadi hanya tiga. Hal ini terjadi setelah Pemilu tahun 1971. Soeharto menilai terlalu banyak partai akan membuat suasana politik gaduh seperti pada era demokrasi liberal tahun 1950an.
Golkar dibiarkan tumbuh menjadi satu kekuatan sendiri. Partai Katolik, PNI dan IPKI mengerucut menjadi satu di PDI. Sementara parpol Islam yang terdiri dari NU, Parmusi, PSII dan Perti mengelompok jadi satu.
“Saya tekankan jangan menonjolkan agamanya. Karena itu namanya pun tidaklah menyebut-nyebut Islam. melainkan Partai Persatuan Pembangunan dengan program spiritual-materiil,” kata Soeharto.
Masa Keemasan Sulit Diulang
Halaman : 1 2 Selanjutnya

















