INIKEPRI.COM – Pelantikan pengurus baru Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Batam periode 2025–2030 tak sekadar seremoni. Di balik prosesi resmi yang digelar di Kantor Wali Kota Batam, Rabu (14/5/2025), hadir komitmen kuat dari Pemerintah Kota Batam untuk mendorong UMKM dan IKM naik kelas secara sistematis dan berkelanjutan.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menegaskan, UMKM bukan sekadar pelengkap ekonomi lokal, tetapi fondasi utama yang harus dikuatkan. Untuk itu, Pemko telah menyiapkan berbagai terobosan yang menyentuh langsung persoalan fundamental yang selama ini membelit pelaku usaha kecil.
Pinjaman Tanpa Bunga, Tanpa Agunan
Salah satu langkah nyata yang tengah disiapkan adalah penyediaan pinjaman usaha tanpa bunga hingga Rp20 juta. Bahkan, Pemko tengah memperjuangkan agar fasilitas pinjaman ini bisa diakses tanpa agunan. Kebijakan ini menyasar pelaku usaha mikro yang kerap kesulitan mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan formal.
“Ini bukan retorika. Kami ingin UMKM mendapat akses modal yang cepat, ringan, dan tidak menyulitkan. Modal usaha tidak boleh menjadi penghalang utama perkembangan mereka,” ujar Amsakar.
Dari Produksi ke Pasar: Produk Lokal Harus Muncul di Titik Strategis
Tak hanya soal modal, Pemko juga menyasar sisi hilir: pemasaran. Produk-produk lokal seperti batik, kuliner khas, dan kerajinan tangan direncanakan untuk dipasarkan di berbagai titik strategis—hotel, restoran, pelabuhan, hingga Bandara Internasional Hang Nadim. Amsakar menekankan, kehadiran produk lokal di ruang publik bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga soal kebanggaan identitas.

“Kalau kita bangga dengan Batam, maka produk lokal Batam harus tampil di wajah terdepan kota ini,” tegasnya.
Saat ini, Pemko tengah menyusun regulasi yang mewajibkan pelaku industri pariwisata memberi ruang pada produk lokal. Dengan menggandeng sektor swasta, sinergi diharapkan mempercepat akselerasi pertumbuhan UMKM.
Lima Masalah UMKM: Diselesaikan Secara Terpadu
Sebagai mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Amsakar menyebut dirinya paham betul bahwa pelaku UMKM selama ini menghadapi lima tantangan utama: akses modal, manajemen usaha, kemasan produk, pemasaran, dan keberlanjutan. Ia menilai, pendekatan program harus fokus dan menjawab langsung tantangan-tantangan tersebut.
“Pelaku UMKM itu tangguh, tapi tidak bisa dibiarkan sendiri. Kita harus bantu dengan sistem, bukan sekadar acara,” tambahnya.
Seragam Gratis sebagai Strategi Ekonomi Lokal
Lebih lanjut, Amsakar menyinggung program seragam gratis bagi siswa SD dan SMP di Batam. Dalam upaya mengangkat identitas lokal sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif, Pemko juga memasukkan seragam Melayu sebagai bagian dari paket bantuan. Ke depan, seragam batik buatan IKM lokal direncanakan menjadi bagian dari pakaian resmi sekolah.
“Bayangkan jika ribuan siswa memakai batik buatan UMKM Batam—dampaknya langsung ke produksi, ke penjahit, ke pemasok bahan. Ini bukan sekadar seragam, tapi strategi ekonomi,” ujarnya.
Li Claudia: Aturan Pajak Hambat Kirim Produk UMKM ke Luar Daerah
Wakil Wali Kota Batam sekaligus Penasehat I Dekranasda, Li Claudia Chandra, menambahkan dimensi penting lainnya: regulasi fiskal. Ia menyoroti tingginya biaya pengiriman produk ke luar daerah akibat beban pajak yang belum berpihak pada UMKM.
“Banyak pelaku usaha mengeluh. Produknya sudah bagus, pasarnya ada, tapi terkendala ongkos kirim. Kita akan bentuk tim kecil dan dorong solusi ke pemerintah pusat,” tegasnya.

Menurutnya, Batam memiliki potensi menjadi pusat industri kreatif nasional, namun perlu dukungan kebijakan yang lebih adil dan kontekstual.
Dekranasda: Harus Jadi Motor, Bukan Pajangan
Amsakar juga memberi catatan tajam terhadap peran Dekranasda. Menurutnya, lembaga ini harus menjadi motor penggerak ekonomi rakyat, bukan sekadar wadah seremoni atau simbolik.
“Dua program kecil tapi tepat sasaran lebih baik daripada sepuluh program besar yang tidak terasa. Kami butuh kerja nyata, bukan hanya dokumentasi kegiatan,” pungkasnya.
Dengan dukungan penuh Pemko, kolaborasi antarlembaga, dan semangat kewirausahaan yang terus didorong oleh Li Claudia, harapan baru tengah dibangun: menjadikan UMKM dan IKM Batam tidak hanya bertahan, tapi tumbuh sebagai pilar ekonomi yang berdaya saing tinggi.
Penulis : RBP
Editor : IZ

















