INIKEPRI.COM — Di sebuah gedung bersejarah di jantung Ibu Kota, tepatnya di Jalan Taman Suropati No.2, Menteng, gema suara dari pulau terluar Indonesia mengalun tenang namun tegas.
Cen Sui Lan, Bupati Natuna, menyampaikan harapan yang telah lama terpatri dalam denyut nadi warganya: agar stigma sebagai daerah 3T — Tertinggal, Terdepan, dan Terluar — tak lagi melekat pada tanah tempat ia mengabdi.
Pertemuan dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy, Jumat (17/5), menjadi ruang bagi Cen untuk mengurai benang-benang harapan itu.
Didampingi para kepala daerah dari wilayah Kepulauan Riau, ia tidak hanya menyuarakan permohonan, tetapi juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian pemerintah pusat selama ini.
“Natuna telah merasakan manfaat pembangunan, terutama melalui program Jalan Inpres yang membuka sekat-sekat keterisolasian,” ucap Cen Sui Lan, dengan suara yang menggambarkan perjuangan panjang sebuah wilayah yang berdiri di garis terdepan republik. Namun, di balik itu, ada keterbatasan yang masih membelenggu.
Cen Sui Lan menjelaskan bahwa kini, kewenangannya dalam mengusulkan proyek strategis semakin terbatas.
Karena itu, ia berharap penuh pada dukungan Bappenas agar program-program prioritas tetap bisa diwujudkan. Infrastruktur bukan sekadar pembangunan fisik — melainkan denyut kehidupan yang menentukan arah masa depan.
“Beberapa ruas jalan dan jembatan strategis masih sangat dibutuhkan,” ujarnya.
“Tanpa itu, keterisolasian akan terus menjadi bayang-bayang yang membungkam potensi.”
Natuna, Negeri di Ujung yang Tak Ingin Tertinggal
Natuna bukan sekadar pulau di ujung utara Indonesia. Ia adalah wajah depan yang menghadap langsung pada dunia, benteng maritim yang menyimpan kekayaan alam dan budaya. Namun, ironisnya, inilah wilayah yang justru kerap tertinggal dari hiruk-pikuk pembangunan nasional.
Ketimpangan itu terasa nyata. Akses jalan yang terbatas, jembatan penghubung yang belum memadai, hingga layanan dasar yang belum merata. Semua itu menjadi sekat yang memisahkan Natuna dari denyut pertumbuhan yang lebih merata.
“Kami ingin keluar dari stigma daerah 3T,” kata Cen dengan ketegasan yang dibalut harap.
“Karena masyarakat kami juga berhak merasakan Indonesia secara utuh, tidak hanya dalam simbol, tetapi dalam infrastruktur dan konektivitas yang nyata.”
Menyatukan Negeri dari Pinggiran
Dalam dunia pembangunan, suara dari pinggiran seringkali tenggelam dalam gegap gempita pusat. Namun kali ini, suara itu melampaui batas.
Cen Sui Lan membawa pesan yang lebih dari sekadar permohonan — ia membawa suara rakyat yang selama ini berjalan di jalan berbatu, melintasi jembatan rapuh, dan berharap pada cahaya pembangunan yang perlahan mendekat.
Di akhir pertemuan itu, harapan pun terpatri. Bahwa dari ruang-ruang kebijakan, akan lahir keberpihakan yang menyentuh batas-batas terjauh negeri.
Bahwa pembangunan bukan hanya milik kota besar, tetapi hak yang sah milik seluruh anak negeri — termasuk mereka yang tinggal di pulau-pulau yang kerap terlupakan.
“Kami tidak ingin dilihat sebagai wilayah terluar,” tutup Cen.
“Kami ingin menjadi bagian yang menyatu dari Indonesia — kuat, terhubung, dan tumbuh bersama.”
Penulis : IZ

















