INIKEPRI.COM – Satu Agustus tak pernah terasa seistimewa ini bagi H. Amsakar Achmad. Di usia yang ke-57, Wali Kota Batam sekaligus Ex Officio Kepala BP Batam itu kembali menyadari bahwa cinta dan kesetiaan bukan sekadar kata, melainkan napas panjang yang mengiringi setiap langkah pengabdian.
Hari Kamis (1/8/2025) itu, sejak pagi hingga menjelang sore, Amsakar disambut berbagai kejutan dan ucapan selamat dari keluarga, berbagai elemen masyarakat, tokoh-tokoh pemerintahan, sahabat, dan kolega. Namun, tak ada yang lebih menyentuh dari kejutan di sore hari itu, saat cahaya senja pelan-pelan meluruh di langit Batam.
Bertempat di Cincai Cafe, Batam Center, ratusan relawan dari seluruh penjuru kota berkumpul dalam diam. Mereka menata senyum, merangkai lagu, dan menyusun kejutan yang bukan hanya meriah, tetapi juga menyayat halus ruang-ruang perasaan. Sebagian datang dengan membawa kue, sebagian lainnya hanya membawa doa. Namun semuanya membawa cinta.
Begitu Amsakar melangkah masuk ke ruangan, pintu dibuka pelan, dan lagu ulang tahun mengalun dari kerumunan. Spontan, suasana pun pecah dalam peluk haru dan tepuk tangan. Para relawan menyerbu, menyalaminya, memeluk, menyapa, dan tentu, mengabadikan momen dengan kamera. Tapi hari itu, bukan lensa yang menangkap makna sesungguhnya, melainkan mata yang basah dan hati yang penuh.
Amsakar tampak terkejut. Namun lebih dari itu, ia tampak tersentuh. Tak ada pidato panjang atau ungkapan klise yang keluar darinya. Hanya sepenggal kalimat yang menggambarkan seluruh rasa.
“Saya sungguh terharu. Ini bukan sekadar kejutan. Ini pengingat bahwa saya tidak berjalan sendiri. Terima kasih telah setia, dari dulu hingga hari ini,” ucapnya lirih, seraya menyapu pandang ke wajah-wajah yang telah menemaninya dalam jalan panjang perjuangan.
Bagi Amsakar, para relawan bukan sekadar tim pemenangan yang hadir saat kontestasi. Mereka adalah saksi hidup dari langkah-langkah berat yang pernah ditempuh. Mereka adalah teman dalam sunyi, pendorong saat ragu, dan pelipur saat dihantam keraguan.

“Kalian tetap bersama saya. Bahkan ketika segala sesuatu berubah. Saya ingin, kita semua tetap dalam barisan yang sama. Mari terus kawal perjuangan ini. Karena kita belum sampai ke ujungnya,” tambahnya, kali ini dengan suara yang mengeras, penuh keyakinan.
Pada kesempatan itu, Ketua Relawan M. Nur, tampil mewakili seluruh loyalis yang hadir. Dalam pidatonya, ia menceritakan bagaimana relawan Amsakar telah melalui berbagai tahap transformasi.
“Kami ini bukan kumpulan dadakan. Kami hadir sejak awal, saat nama Bang Amsakar “belum” sepopuler sekarang. Kami memulai sebagai ‘Pejuang Amsakar’. Kemudian, saat beliau berpasangan dengan Kak Li Claudia, kami bertransformasi menjadi ‘Pejuang ASLI’. Kini, kami mantap menjadi ‘Loyalis ASLI’, karena kesetiaan kami bukan karena jabatan atau imbalan, tapi karena keyakinan akan kepemimpinan yang membawa harapan,” ucapnya penuh semangat.
Tidak hanya berhenti pada perayaan dan nostalgia, para relawan juga membawa kabar gembira yang konkret: pendirian koperasi “Asli Bertuah”. Koperasi ini lahir dari keinginan untuk memberdayakan para relawan secara ekonomi, agar gerakan sosial ini tidak hanya berdiri atas loyalitas, tapi juga kemandirian.
Koperasi tersebut dipimpin oleh Slamet, seorang relawan yang dikenal memiliki dedikasi tinggi dan dianggap mumpuni dalam pengembangan ekonomi koperasi.
“Koperasi ini akan menjadi wadah untuk kami tumbuh. Kami tidak ingin hanya menggantungkan harapan pada pemimpin. Kami ingin bergerak bersama, berdiri di kaki sendiri,” ujar M. Nur penuh keyakinan.
Mendengar hal itu, Amsakar memberikan komitmen nyata. Ia menyatakan akan memberikan dukungan dana sebesar Rp10 juta setiap bulan selama enam bulan ke depan untuk operasional koperasi tersebut.
“Ini bukan hadiah. Ini amanah. Saya ingin koperasi ini jadi contoh. Jadi penopang ekonomi para relawan. Jadi tempat belajar dan bertumbuh. Saya percaya, kekuatan sejati sebuah gerakan ada pada pondasi ekonomi yang mandiri,” katanya, disambut tepuk tangan panjang dari seluruh yang hadir.
Senja pun makin turun, namun semangat yang hadir sore itu tak surut. Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto, namun ikatan yang tercipta tak akan pernah ditutup oleh waktu. Karena lebih dari sekadar ulang tahun, hari itu adalah perayaan atas kesetiaan, cinta, dan komitmen kolektif.
Dan Amsakar tahu, bahwa di usia ke-57 ini, langkahnya tak pernah benar-benar sunyi. Di belakangnya ada barisan panjang orang-orang yang percaya, mendukung, dan bersedia terus berjalan bersamanya. Di dalam hatinya, mungkin ia membisikkan doa:
“Selama masih ada mereka, jalan ini tidak akan gelap.”
Penulis : IZ

















