Oleh: M. Nur
Ketua Tim Relawan ASLI
INIKEPRI.COM – Pada 20 Februari 2025, Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam. Sejak hari itu, kota ini tidak serta-merta berubah wajah, tetapi mulai mengubah cara berjalan. Tidak berlari. Tidak meloncat. Melainkan melangkah dengan hitungan seperti orang yang paham bahwa jalan panjang tidak bisa ditaklukkan dengan tergesa.
Menjelang genap setahun, Batam berada di persimpangan penilaian. Ada harap yang belum sepenuhnya terjawab, ada cemas yang mudah membesar, dan ada pula kesabaran yang mulai diuji. Namun pertanyaan terpenting bukanlah seberapa cepat hasil terlihat, melainkan ke arah mana kota ini sedang diarahkan.
Dalam cara berpikir Melayu, kepemimpinan adalah perkara menakar: menimbang sebelum melangkah, membaca sebelum memutus. Melangkah bertakar, memimpin bertuah.
Dengan lensa itulah satu tahun pertama kepemimpinan ASLI patut dibaca bukan sebagai pamer hasil, melainkan sebagai fase peletakan arah.
Air Bersih: Mengurai Simpul yang Terlalu Lama Dibiarkan
Air bersih di Batam adalah persoalan yang mengalir diam-diam, namun menekan dari dalam. Ia bukan hanya soal teknis, melainkan warisan masalah kota yang tumbuh lebih cepat daripada fondasinya. Selama bertahun-tahun, simpul ini dikenali, tetapi jarang diurai sepenuh hati: seperti benang kusut yang dibiarkan mengeras karena takut disentuh.
Kepemimpinan ASLI memilih sebaliknya: menyentuhnya, meski tahu risikonya. Mereka membongkar persoalan dari hulu, bukan sekadar mengelap hilirnya. Tidak ada keajaiban seketika. Tidak ada perayaan air mengalir serentak. Yang ada adalah kerja sunyi: pemetaan, perencanaan ulang, dan kesediaan menanggung kritik sepanjang jalan.
Sebagai relawan lapangan, saya menyaksikan langsung kegelisahan warga: ember-ember yang menunggu, jam-jam yang tak pasti. Tetapi saya juga melihat sesuatu yang jarang terjadi sebelumnya: pemerintah tidak menghindar. Mereka hadir, menjelaskan, dan tetap berjalan.
Dalam hikmah Melayu, air keruh tidak dijernihkan dengan mengaduknya lebih keras; ia ditenangkan agar beningnya kembali. Kebijakan air di Batam sedang berada di fase itu: tenang, tidak riuh, tetapi menentukan masa depan.
Sampah: Wajah Kota dan Disiplin Bersama
Jika air tersembunyi di bawah tanah, maka sampah adalah wajah kota yang paling jujur. Ia menjadi cermin harian, sekaligus sasaran penilaian paling cepat. Namun sampah tidak pernah selesai dengan reaksi sesaat. Ia adalah urusan sistem, kebiasaan, dan disiplin kolektif.
Kepemimpinan ASLI memilih membenahi alurnya: armada, tata kelola, dan keterlibatan warga, alih-alih sekadar membersihkan akibat. Jalan ini tidak selalu memuaskan mata dalam waktu singkat, tetapi ia menjaga agar masalah tidak terus diwariskan ke tahun berikutnya.
Orang Melayu memahami, membersihkan halaman tanpa menjaga pintu hanya mengundang kotoran kembali. Maka pengelolaan sampah di Batam sedang diarahkan menjadi kerja bersama, bukan beban sepihak pemerintah.
Banjir: Seni Menahan Derasnya Musim
Banjir bukan sekadar genangan air; ia adalah bisikan kota yang menuntut perhatian, sekaligus ujian kesabaran bagi setiap warga. Di Batam, setiap hujan deras adalah pengingat bahwa kota ini tumbuh terlalu cepat, tetapi akar sistemnya belum sepenuhnya kuat. Jalan, saluran, dan drainase sering tidak sejalan dengan ekspansi gedung dan permukiman baru. Air yang menumpuk bukan hanya masalah teknis, melainkan simbol bagaimana sebuah kota mengatur kehidupannya.
Menjawab itu, penanganan banjir menjadi bagian dari program prioritas sejak awal kepemimpinan ASLI. Normalisasi saluran air dilakukan secara menyeluruh, titik-titik rawan dibersihkan, alur drainase diperbaiki, rumah pompa dibangun, dan mobile pump siap dikerahkan saat hujan meningkat. Puluhan kilometer saluran yang tersumbat mulai dibuka kembali di wilayah Tropicana Pasir Putih, Simpang Irinco, dan sekitar Bandara. Ini bukan sekadar pekerjaan alat berat; ini adalah proses menata kembali napas kota agar tidak tersengal ketika hujan datang.
Tetapi lebih dari itu, kebijakan penanganan banjir adalah sebuah ajakan. Ajakan kepada warga untuk memahami bahwa banjir tidak bisa diatasi dengan solusi instan atau jalan pintas. Ajakan untuk mendukung kerja sunyi pemerintah, yang mungkin belum menghasilkan tampilan spektakuler, tetapi menyiapkan kota untuk tahan uji musim dan waktu. Seperti kata orang Melayu, “air yang tenang jangan disangka tak dalam; kota yang sunyi jangan disangka tak bekerja.”
Di lapangan, saya menyaksikan upaya ini bukan hanya soal pompa atau pembersihan. Petugas bekerja di bawah hujan, warga diajak membersihkan saluran bersama, dan koordinasi dengan RT/RW semakin rutin. Setiap langkah adalah bagian dari strategi panjang: agar Batam mampu menahan derasnya hujan tanpa menghentikan kehidupan. Ini adalah kerja yang membutuhkan kesabaran kolektif, di mana pemerintah dan warga berdiri bersama, menahan dan menyalurkan air dengan teratur, bukan melawan secara reaktif.
Banjir, pada akhirnya, bukan sekadar persoalan kota, tetapi pelajaran bagi semua pihak tentang kedisiplinan, kesabaran, dan kesadaran bersama. Ia mengajarkan bahwa perubahan besar jarang datang dengan cepat; ia lahir dari konsistensi, dari langkah-langkah yang bertakar, dan dari dukungan warga yang memahami nilai setiap tetes air yang mengalir. Mendukung penanganan banjir bukan berarti menutup mata terhadap masalah; sebaliknya, itu adalah cara paling konkret menaruh kepercayaan pada proses, memberi waktu pada kebijakan agar benar-benar berbuah.
Program Prioritas: Negara Hadir dengan Cara yang Lirih
Di luar persoalan dasar itu, kepemimpinan ASLI bergerak pada wilayah yang sering luput dari sorotan, tetapi dekat dengan denyut hidup warga. Program prioritas dijalankan tanpa teriak, namun justru karena itu terasa.
Bantuan bagi lansia adalah pengakuan bahwa usia senja tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Di banyak rumah, bantuan itu bukan sekadar angka, melainkan rasa dihargai. Yang tua dituakan: bukan sebagai slogan, melainkan etika yang diterjemahkan menjadi kebijakan.
Perlindungan pekerja rentan melalui jaminan sosial memberi payung bagi mereka yang selama ini bekerja tanpa rasa aman. Dalam nalar Melayu, rezeki tidak elok dibiarkan tanpa pelindung.
Akses layanan kesehatan dipermudah: cukup dengan identitas kependudukan, membawa pesan sederhana namun kuat: sakit tidak memilih orang, maka negara pun tidak seharusnya memilih. Kebijakan ini tidak gaduh, tetapi mengubah rasa warga terhadap kehadiran pemerintah.
Dukungan terhadap UMKM juga bergerak dalam semangat yang sama. Pemerintah tidak mengambil alih usaha rakyat, melainkan membuka ruang agar mereka bernapas dan bertahan. Jalan rezeki jangan disempitkan, itulah jiwa kebijakan ini.
Di sektor pendidikan, program bantuan seragam/baju sekolah bagi siswa dari keluarga yang membutuhkan adalah sentuhan kecil yang berdampak panjang. Bagi banyak orang tua, seragam adalah beban awal yang sering tak terlihat. Bagi negara yang peka, ia adalah soal martabat. Anak ke sekolah biarlah ringan langkahnya; jangan dimulai dengan rasa kurang.
Semua ini bukan kerja yang gemar dipamerkan. Tetapi justru di sanalah ia bekerja: menyentuh, bukan memamerkan.
Catatan Jelang Setahun: Ketika Waktu Menjadi Ujian
Tahun pertama bukan titik akhir. Ia adalah masa hening di mana kepemimpinan diuji oleh durasi. Godaan solusi cepat selalu datang: jalan pintas yang menyenangkan hari ini, tetapi rapuh esok hari. Kepemimpinan diuji pada kesetiaannya terhadap pilihan yang lebih matang.
Evaluasi yang jernih tidak semata menyoal hasil instan. Ia menanyakan: apakah persoalan lama disentuh?, apakah keputusan sulit dipilih?, dan apakah kebijakan konsisten dijalankan meski kritik datang?.
Dalam ukuran itu, langkah-langkah di bidang air, sampah, banjir, perlindungan sosial, jaminan kerja, kesehatan, pendidikan, dan UMKM bukan sekadar angka di laporan. Ia adalah tanda bahwa Batam sedang merangkai struktur baru kehidupan kota, pekerjaan yang utuhnya baru tampak ketika waktu diberi ruang.
Ketika Arah Dipertaruhkan
Menjelang evaluasi resmi satu tahun kepemimpinan, yang sedang diuji bukan hanya Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, melainkan kedewasaan politik Batam itu sendiri. Apakah kota ini mampu memberi waktu pada kerja yang bertakar, atau kembali tergesa menilai hanya dari yang tampak di permukaan?
Sejarah pemerintahan sering menunjukkan satu ironi: banyak arah yang sebenarnya benar tidak pernah sampai tujuan karena dipatahkan terlalu dini oleh kegaduhan. Air yang belum sepenuhnya jernih, sampah yang masih diuji sistemnya, banjir yang perlahan dikendalikan, program sosial yang baru menumbuhkan kepercayaan, semuanya adalah tanda bahwa Batam sedang menumbuhkan akar, bukan memetik buah.
Dan di titik inilah politik bekerja paling senyap: keputusan untuk tidak berbelok sering kali lebih menentukan masa depan kota daripada keputusan untuk sekadar disukai hari ini.
Sebagai relawan, kami paham risikonya. Berdiri di belakang kepemimpinan yang memilih jalan sulit bukan posisi paling nyaman. Tetapi dalam politik, yang nyaman tidak selalu bertanggung jawab. Loyalitas kami adalah loyalitas pada arah, bahwa Batam tidak boleh kembali terjebak pada kebiasaan lama: mengganti haluan setiap kali ombak meninggi.
Orang Melayu percaya, laut tidak pernah salah; yang harus pandai adalah membaca angin. Menjelang evaluasi satu tahun ini, Batam membutuhkan keteguhan membaca angin sejarahnya sendiri, bahwa fondasi memang harus dituntaskan sebelum bangunan ditinggikan.
Waktu akan menjadi hakim paling adil. Dan hanya kepemimpinan yang berani bertahan pada pilihan sulitlah yang kelak pantas disebut bertuah.
Sebagai relawan, kami memilih tetap berdiri. Mengawal. Menjaga arah. Karena kerja besar tidak boleh gugur hanya karena belum sempat dipahami sepenuhnya.
Ketika fondasi sedang dikerjakan, yang dibutuhkan kota bukan tepuk tangan, melainkan keteguhan.
Penulis : RP

















