Tahun 2016 lalu, Nek Kelebang, Bomo ritual pengobatan Berjenjang meninggal dunia pada usia 102. Setelah itu, karya budaya Berjenjang belum pernah lagi dilaksanakan karena belum ada pengganti.
Kondisi tarian inipun terancam punah. Sanak keluarga dan keturunan yang menjadi pewaris belum didapatkan. Bomo, bukan dipilih oleh masyarakat ataupun pendukung kebudayaan ini. Melainkan orang terpilih, yang memang memiliki hubungan dan bisa diresapi orang bunian.
“Sejak meninggalnya Nek Kelebang, belum pernah ada dibuat Berjenjang. Keturunan dan sanak keluarganya masih ada. Mudah-mudahan kebudayaan ini tidak terputus begitu saja. Ada penggantinya,” ungkap Pukcu.
Beruntungnya, pemerintah Kepri juga bertindak cepat. Kekayaan budaya ini diusulkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia tahun 2017. Agar dapat dikenal secara luas. Baik dalam literasi maupun suport terhadap kekayaan budaya warga Mentuda ini dapat terus berlanjut. Dari 23 karya budaya yang diusulkan Provinsi Kepri, Berjenjang desa Mentuda Lingga lolos. Dalam waktu dekat, Berjenjang segera diakui sebagai WBTB.
“Berjenjang yang pasti lolos,” kata Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri, Toto Sucipto, Selasa (25/04/2017) silam.
Dengan begitu, WBTB dari Lingga segera bertambah. Sebelumnya, teater rakyat seni Sangsawan dan prodak budaya Tudung Manto juga telah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. (ER/Muhammad Hasbi)

















