Hasil Tes Swab dan Rapid Test Tak Selalu Sama, Ini Penyebabnya

- Publisher

Rabu, 11 November 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (ist)

Ilustrasi (ist)

INIKEPRI.COM – Tes PCR (Polymerase Chain Reaction) swab dan rapid test adalah dua dari beberapa metode yang digunakan untuk mendiagnosis seseorang terhadap infeksi virus corona. Namun, hasil kedua metode tersebut tak selalu sama.

Biaya melakukan rapid test lebih murah dari tes swab. Namun, keakuratan rapid test kerap dipertanyakan karena seringkali memberikan hasil yang tidak tepat.

Pada kasus yang sering terjadi, hasil rapid test menunjukkan seseorang non reaktif terhadap virus corona, namun begitu menjalani tes swab, pasien dinyatakan positif Covid-19. Lalu apa yang membuat hasil keduanya berbeda?

BACA JUGA:  Wakil Wali Kota Banda Aceh Positif Covid-19

Dokter Spesialis Patologi Klinik dari Halodoc, dr. Theresia Novi, Sp.PK menyanggah pernyataan tentang ketidakakuratan tes antibodi untuk mendeteksi Covid-19. Menurutnya, berbagai metode tes untuk mendeteksi Covid-19 yang ada memiliki porsi masing-masing.

“Untuk PCR dia bisa tahu lebih awal dari antigen. Karena PCR ini virusnya sedikit aja dan dilakukan amplifikasi. Amplifikasi itu diperbanyak sehingga yang tadinya sedikit bisa kita deteksi,” ujar dr. Theresia dalam sebuah webinar, Rabu (11/11/2020).

BACA JUGA:  'Wikwik' Saat Hamil, dr Boyke: Gaya Cinderella Nunggang Kuda atau Minak Jinggo

Jika tes PCR dilakukan dengan teknik usap atau swab, rapid test dilakukan dengan mengambil darah vena maupun darah kapiler yang biasanya diambil dari jari untuk memeriksa antibodi. Berbeda dengan PCR, rapid test hanya bisa mendeteksi virus corona jika kadar virusnya tinggi.

Pada rapid test, hasilnya lebih lama keluar karena menunggu timbulnya antibodi yang bisa memakan waktu beberapa hari setelah tubuh terinfeksi virus corona, sehingga lebih lama terdeteksi.

BACA JUGA:  Mana yang Baik, Olahraga Pada Pagi atau Malam Hari?

“Antibodi sebagai respons tubuh munculnya lebih lambat, mulai tiga sampai lima hari baru muncul, tapi hilangnya lebih lama. Mungkin ada pasien tanya sudah reaktif, kemudian sudah sembuh, masih saja reaktif. Karena antibodi bisa bertahan berbulan-bulan. Bahkan ada yang dari awal sampai sekarang antibodinya masih bertahan,” pungkas dr. Theresia. (ER/Indozone)

Berita Terkait

Rutin Konsumsi Madu Setiap Hari, Ini Manfaat dan Hal yang Perlu Diperhatikan
493 Kasus Flu Singapura, Batam Belum Terapkan Pembatasan Wisatawan
Dokter Gizi Ingatkan Susu Kental Manis Bukan Susu, Orang Tua Diminta Ubah Kebiasaan Anak Secara Bertahap
Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan
Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya
Batam Siaga Hantavirus, RSUD Embung Fatimah Disiapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan
Kasus Muncul di Beberapa Negara, Benarkah Hantavirus Jadi Covid-19 Berikutnya?
Hanya 20–30 Menit Sehari, Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 07:36 WIB

Rutin Konsumsi Madu Setiap Hari, Ini Manfaat dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:05 WIB

493 Kasus Flu Singapura, Batam Belum Terapkan Pembatasan Wisatawan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Dokter Gizi Ingatkan Susu Kental Manis Bukan Susu, Orang Tua Diminta Ubah Kebiasaan Anak Secara Bertahap

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:35 WIB

Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:54 WIB

Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya

Berita Terbaru