Batu berhenti atau batu berantai adalah gugusan karang yang ada di perairan Sambu Kecil, Belakang Padang.
Gugusan karang ini tampak jelas jika air laut sedang surut. Dari Belakang Padang, kita bisa melihat gugusan karang tersebut.
Menurut hikayat, di gugusan karang itulah seorang anak yang menyelamatkan Singapura dibuang. Nama anak itu adalah Hang Nadim, yang saat ini menjadi nama bandar udara di Kota Batam.
Disitat dari keprikita.blogspot.com, sekitar abad ke 14, saat itu Singapura yang dikenal dengan nama Temasek hiduplah seorang ulama yang bernama Tun Jana Khatib yang berasal dari Negeri Samudera Pasai. Beliau dikatakan ialah seorang yang bijak dan ramah serta memiliki keahlian ilmu kebatinan yang tinggi. Namun, sayangnya ketika beliau secara tidak sengaja membelah pokok (pohon) Pinang dengan ilmu kebatinannya, hal ini diperhatikan oleh istri Raja Singapura. Alhasil permaisuri yang kagum akan kehebatan Tun Jana Khatib inipun menceritakan perihal kesaktian Ulama Pasai tersebut ada Suaminya yang adalah Raja Singapura. Namun, bukan kebaikan yang diterima oleh Tun Jana Khatib atas kesaktiannya itu ternyata Tun Jana Khatib malah mendapatkan kebencian dari para menteri di Istana, yang membuat para menteri menghasut Raja untuk membunuh Tun Jana Khatib, karena dikhawatirkan kesaktian Tun Jana Khatib dapat merusak kewibawaan Raja. Akhirnya Raja yang terhasut pemikiran para menteri itu langsung mengambil tindakan untuk menghukum mati sang Ulama.
Sebelum wafat sang ulama sempat mengutarakan sumpahnya bahwa selepas kematiannya nanti Singapura akan mengalami huru-hara. Ternyata sumpah sang ulama itu makbul. Sehingga tak lama selepas wafatnya beliau. Terjadi badai yang menghantam negeri Singapura. Bahkan kononnya, sewaktu acara pemakaman Tun Jana Khatib. Mayat Ulama ini ghaib (hilang) tak diketahui kemana perginya. Keranda beliau masih ada namun mayatnya menghilang. Hal ini menimbulkan ketakutan dihati rakyat dan Raja. Belum lagi hilang ketakutan akan hal tersebut, ternyata tiba-tiba darah sang Ulama bertukar menjadi batu. Ada sebuah pantun lama mengenai kejadian ini. Menurut ceritera lama, kononnya pula mayat Tun Jana Khatib ditemukan di Negeri Langkawi (Malaysia), mayat ini lantas dikebumikan dengan layak di Langkawi dan hingga kehari ini dipanggil dengan nama “Makam Purba” (perlu penelitian lebih lanjut)/ Karena nisan makam memang memperlihatkan seni ukir zaman Samudera Pasai, namun apakah benar itu makam Tun Jana Khatib masih sebuah misteri, karena nama makam itu dipanggil “makam purba” apakah sebenarnya ada sangkut paut dengan “Sang Sapurba”?, itulah perlu penelitian kembali untuk saat ini kita tinggalkan dulu sejarah pemilik makam tersebut. Berikut pantun lama tentang tragedi besar ini :
Telur itik di Singgora,
Pandan terletak dilangkahi,
Darah titik di Singapura,
Badannya terlantar di Langkawi
Tidak berapa lama selepas wafatnya sang Ulama, Singapura pun mendapat wabah “serangan Ikan Todak”. Ikan laut yang bermulut tajam seperti tombak dan berbadan seperti ular tersebut melompat-lompat kearah perkampungan dan menyebabkan banyak rakyat Singapura terkorban. Hal ini menimbulkan keriuhan didalam Negeri. Raja dan rakyat yang hidup ditengah kepanikan ini teringat akan sumpah sang Ulama itu. Namun semuanya sudah terlambat, dengan terpaksa rakyat Singapura harus menerima hukuman dari kezaliman Raja.
Hang Nadim Penyelamat Singapura
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















