Maklumat itu disambut baik, hingga lahirlah sejumlah partai termasuk partai dengan ideologi agama yakni Islam. Seiring berjalannya waktu, partai Islam terus tumbuh. Partai Islam tak pernah absen dalam pelaksaan pemilu sejak orde lama hingga setelah reformasi.
Bahkan pada Pemilu 1999 tepat satu tahun setelah Indonesia reformasi, cukup banyak partai Islam ikut serta di pemilu tahun itu. Dari 48 partai politik, belasan di antaranya merupakan partai Islam.
Tetapi, satu hal yang patut disoroti dari keikutsertaan partai Islam dalam setiap pemilu. Hasil yang dicapai tak terlalu maksimal, di bawah partai-partai nasionalis. Bisa dikatakan, masa keemasan Masyumi sebagai partai Islam yang menduduki posisi kedua di Pemilu 1955, tak pernah terulang.
Memang, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai partai Islam yang lahir di masa orde baru pernah mencapai tiga besar dalam pemilu. Namun, saat itu memang hanya ada tiga partai ikut serta di mana dua di antaranya merupakan partai nasionalis.
Kurang moncernya keberadaan partai Islam dalam kontestasi pemilu menjadi tanda tanya tersendiri. Apalagi jika melihat banyaknya penduduk muslim di Indonesia. Seharusnya peluang tingkat keterpilhan partai juga besar, tetapi yang terjadi sebaliknya.
Sejumlah faktor sangat memengaruhi kurangnya pamor partai Islam dalam pemilu dari masa ke masa. Seperti faktor budaya atau aliran dalam Islam itu sendiri kemudian membuat dukungan untuk partai-partai Islam terpecah.
“Kita hubungkanlah secara garis besar. Katakanlah Islam modernisasi dan konvensional yang diwakili oleh NU dengan PKB, Muhammadiyah dengan PAN, bahkan bisa dikatakan juga Islam yang muncul dengan modernisasi itu seperti PKS,” kata pengamat politik Lili Romli dalam perbincangan dilansir dari merdeka.com, Selasa (20/4/2021).
Kedua, faktor-faktor umat Islam di Indonesia tidak tunggal. Artinya, selain ada yang menjadikan Islam sebagai ideologi atau asas untuk partai, ada juga kalangan Islam yang tidak memerlukan partai Islam. “Kayak slogan Cak Nun, Islam Yes, partai Islam No,” kata Lili.
Kondisi ini menjadi bukti nyata betapa golongan dalam Islam itu sendiri sangat beragam. Tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandang ideologis, tetapi juga sosiologis.
Sedangkan faktor ketiga, tidak ada kepemimpinan yang mengikat yang mempersatukan kelompok-kelompok Islam itu. Sehingga kemudian dukungan faktor itu menyebabkan kekuatan Islam tidak bisa naik ke atas sebagai pemenang.
Dalam pengamatannya, ada satu kendala terbesar mengapa sulit sekali melahirkan satu partai Islam yang kuat dan mendapat dukungan dari para pemilih muslim. Yakni, ego di kalangan elite Islam itu sendiri. “Mau tidak di kalangan elite Islam itu melepaskan ego perbedaannya? Selama tidak mau melepaskan, ya susah,” jelasnya.
Dia mengambil contoh bagaimana semangat pembentukan Masyumi sebagai partai Islam di awal kemerdekaan. Tetapi dalam perjalannya, ada faktor kultural dan ego masing-masing memimpin yang membuat Masyumi pecah.
Kesulitan lain, partai Islam lemah dalam politik marketingnya. Sampai saat ini, dia menilai jargon yang dipakai partai Islam selalu menggaungkan syariat Islam saja. Padahal, banyak isu-isu mendesak lainnya yang lebih bersifat substantif dan itu juga bersifat Islami.
Lili melihat yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana aksi nyata dari partai Islam itu sendiri. Sebab Islam itu sendiri, tidak ada pertentangan dengan perkembangan zaman. Meski begitu, terpenting saat ini adalah bagaimana kemudian memperjuangkan Islam sebagai Rahmatan lil’alamin tidak harus ada partai Islam saja.
“Bisa juga lewat partai lain. Dan saya kira partai bukan berasas islam juga akomodatif terhadap Islam. Buktinya masing-masing ada sayap Islamnya. Menurut saya itu yang diwarnai, karena berharap bersatunya susah,” kata Lili mengungkapkan. (RWH/Merdeka)
Halaman : 1 2

















