Nelayan Bintan Alami Masa Paceklik

- Publisher

Sabtu, 21 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

INIKEPRI.COM – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau menyatakan nelayan tradisional di daerah tersebut mengalami masa panceklik bertepatan dengan musim angin selatan.

Ketua KNTI Bintan Syukur Hariyanto alias Buyung Adly, di Bintan, Kamis (19/8/2021), mengatakan, nelayan tidak berani melaut lantaran gelombang laut tinggi disertai dengan angin kencang sehingga membahayakan keselamatan mereka.

Nelayan tradisional hanya berani melaut tidak jauh dari bibir pantai. Hasilnya tangkapan ikan berupa ikan-ikan kecil hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA:  UAS: Bekerja Keraslah Sampai Mereka yang Dulu Menghina Mimpimu Searching Kamu di Google

Kondisi ini menyebabkan ikan langkah di pasar tradisional di Bintan maupun Tanjungpinang.

“Dalam kondisi gelombang dan cuaca normal, nelayan kami bisa melaut sampai ke Natuna, Anambas, perbatasan Malaysia, dan Kalimantan. Tetapi sekarang tidak memungkinkan,” ujarnya.

Menurut dia, gelombang laut tinggi berpotensi terjadi menjelang musim perubahan hingga musim angin utara. Gelombang laut saat musim angin utara, terutama di perairan Natuna dan Anambas bisa mencapai 5-7 meter.

BACA JUGA:  Kesempatan Emas! Pemkab Bintan Buka Beasiswa 2026, Ini Kesalahan Sepele yang Bikin Pendaftar Gagal

Begitu pula perairan di perbatasan Bintan dengan Malaysia, cukup tinggi sehingga nelayan yang hanya menggunakan kapal kecil tidak mampu melaut.

Musim angin utara biasanya terjadi pada November-Januari. “Sudah banyak nelayan kami maupun warga yang memancing ikan di perairan yang dalam yang menjadi korban,” ucapnya.

Buyung mengatakan biasanya nelayan memperbaiki alat tangkap ikan seperti jaring dan kapal saat tidak melaut. Sejumlah nelayan yang memiliki sedikit lahan perkebunan, biasanya berkebun.

BACA JUGA:  Kasus Korupsi Cukai, KPK Periksa 6 Pejabat Bintan

“Kalau mereka tidak melaut, berarti beraktivitas di darat. Ini masa-masa sulit bagi mereka yang tidak memiliki uang yang cukup,” katanya.

Salah seorang pedagang ikan di Tanjungpinang, Ali, mengatakan, ikan mulai langka sejak akhir Juli 2021. Harga ikan pun ikut naik bila ikan langka. “Setiap tahun seperti ini,” tuturnya. (ET)

Berita Terkait

Datang ke KUA Bintan Timur untuk Bercerai, Pasangan Ini Pulang Membawa Tekad Mempertahankan Rumah Tangga
Kepemimpinan Amsakar – Li Claudia Kedepankan Transformasi Layanan Investasi: Investor Global Semakin Melirik Batam
Pernah Terendam Hingga 1 Meter, Kampung Purwodadi Kini Dikebut Bebas Banjir
KUA Bintan Timur Hadirkan Layanan 4 in 1, Pasangan Pengantin Langsung Terima Dokumen Kependudukan
Sofea Adiba Meldja Harumkan MIN 1 Bintan di Lomba Bertutur SD/MI se-Kabupaten Bintan
Job Fair Bintan 2026 Hadirkan 1.309 Lowongan Kerja dari 12 Perusahaan
Tragis! Pria 33 Tahun di Bintan Ditemukan Tewas Gantung Diri, Ada Dugaan Masalah Utang
AMSI Kepri dan Kantor Bahasa Kepri Siap Bersinergi Perkuat Literasi di Era Digital

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 08:15 WIB

Datang ke KUA Bintan Timur untuk Bercerai, Pasangan Ini Pulang Membawa Tekad Mempertahankan Rumah Tangga

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:15 WIB

Kepemimpinan Amsakar – Li Claudia Kedepankan Transformasi Layanan Investasi: Investor Global Semakin Melirik Batam

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:07 WIB

Pernah Terendam Hingga 1 Meter, Kampung Purwodadi Kini Dikebut Bebas Banjir

Minggu, 28 Juni 2026 - 09:35 WIB

KUA Bintan Timur Hadirkan Layanan 4 in 1, Pasangan Pengantin Langsung Terima Dokumen Kependudukan

Selasa, 16 Juni 2026 - 08:05 WIB

Sofea Adiba Meldja Harumkan MIN 1 Bintan di Lomba Bertutur SD/MI se-Kabupaten Bintan

Berita Terbaru