Keluhan sulitnya akses telekomunikasi di pulau tersebut, diakuinya sudah sering disampaikan kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam, baik melalui kunjungan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.
Ataupun melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang), yang biasanya dilakukan Pemko Batam.
“Tapi realisasinya tidak pernah ada. Kami juga sudah capek menyampaikan hal yang sama terus menerus,” kata Irman kecewa.
Akses Komunikasi Jadi Prioritas Khusus
Warga lain yang ditemui, mengaku saat ini warga Pulau Jaloh sudah tidak memprioritaskan pembangunan fisik, yang selalu digadang-gadang oleh Pemko Batam.
Kesulitan akses komunikasi para warga, harusnya menjadi prioritas khusus, terutama di masa pandemi ini kebijakan sekolah daring juga masih tetap dijalankan.
“Kasian anak saya, setiap pagi harus ke bendungan hanya untuk sekolah. Karena dia sudah SMA, jadi memang harus online. Karena SMA di kecamatan Bulang ini hanya ada di Pulau Pecung,” kata Siti.
Siti mengatakan pihaknya sudah sejak lama meminta dan mengusulkan kepada pemerintah kota Batam agar memberi solusi agar didirikan sebuah tower seluler agar jaringan internet bisa diakses pihaknya serta dapat mendukung anak-anaknya untuk belajar.
“Anak saya kalau mau sekolah kan harus menyeberang, karena di sini tidak ada SMA,” papar Siti.
“Mudah-mudahan keluhan sinyal yang kami alami ini bisa cepat terealisai, masak dari sekian banyak provider, tidak ada yang mau mengembangkan jaringannya ke pulau ini, karena pulau kami ini sangat dekat sekali dengan Singapura,” tambah Siti mengakhiri.
Diskominfo Batam: Kami Sudah Ajukan, Namun…

















