Pengamat politik dari Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf menilai, saat ini mayoritas partai politik mengalami masalah krisis kader.
“Hemat saya saat ini banyak partai politik yang mengalami krisis kader. Parpol gagal membentuk kader yang populer dan berkualitas,” kata Asep dilansir dari REPUBLIKA, beberapa waktu yang lalu.
Asep mengatakan, ada beberapa faktor mengapa krisis kader terjadi. Pertama, buruknya managemen partai dalam menyeleksi kader. Kedua, besarnya ongkos politik yang harus ditanggung kader jika ingin mencalonkan diri. Ketiga, strategi partai untuk mempopulerkan kadernya masih belum baik.
“Jadi ujung-ujungnya kader-kader partai itu kalah dengan para pengusaha yang modal politiknya besar, lalu kalah dengan tokoh yang sudah dikenal masyarakat,” jelas Asep.
Hal lainnya pernah diucapkan oleh Pengamat Politik Provinsi Kepri, Zamzami A Karim, saat menjelang Pilkada di Kepri tahun 2020 lalu. Dilansir dari ANTARA, Dosen Stisipol Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang itu pun meluapkan kekecawaannya, karena sejak awal partai politik di Kepri tidak menyiapkan kader-kader baru dan tidak berani mengusung kadernya.”Akhirnya banyak yang jualan partai untuk orang. Ini disebut politik kartel,” tuturnya. (MIZ)

















