Oleh: Andryan Rahmana Riswandi
INIKEPRI.COM – Setiap 21 April, kita tidak hanya memperingati Hari Kartini sebagai seremonial tahunan, tetapi juga merenungi warisan gagasan dari seorang perempuan yang melampaui zamannya.
Kartini adalah sosok yang memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan, berpikir kritis, dan menyuarakan pendapat di tengah kungkungan budaya patriarki. Semangatnya seolah menjadi cahaya yang memecah gelapnya keterbatasan pada masa itu.
Ungkapan legendarisnya, “Habis gelap terbitlah terang”, mencerminkan perjuangan menuju pencerahan dan kebebasan berpikir. Menariknya, pesan ini sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam yang termuat dalam Al-Qur’an.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 257, Allah SWT berfirman:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya…” (QS. Al-Baqarah: 257).
Ayat ini menyiratkan bahwa keimanan adalah jalan menuju cahaya: cahaya ilmu, kesadaran, dan kemuliaan hidup. Allah mengangkat derajat manusia dari berbagai bentuk kegelapan baik kebodohan, penindasan, hingga kemiskinan spiritual menuju kondisi yang lebih tercerahkan. Itulah makna perjuangan Kartini, yang dalam konteks keislaman, menjadi bagian dari gerakan minadzulumati ilan-nur.
Kartini juga tidak asing dengan nilai-nilai Islam. Ia menunjukkan rasa ingin tahu terhadap Al-Qur’an dan ajaran-ajarannya. Bahkan dalam salah satu suratnya, ia menyampaikan keinginan untuk belajar memahami Al-Qur’an agar bisa melihat sendiri kebenaran ajaran Islam.
Artinya, Kartini bukanlah sosok yang ingin menentang agama, melainkan menggali esensinya yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan kemuliaan perempuan.
Perempuan dalam Islam bukanlah sosok pasif, melainkan pilar penting dalam peradaban. Lihatlah Khadijah, Aisyah, Fatimah mereka menjadi teladan bukan hanya karena iman, tetapi juga karena kecerdasan, keberanian, dan kontribusi mereka dalam masyarakat. Kartini menapaki jejak serupa di zamannya: menjadi suara dan cahaya bagi perempuan Indonesia.
Refleksi atas perjuangan Kartini melalui lensa Surah Al-Baqarah ayat 257 menjadi pengingat bahwa perjuangan menuju terang adalah proses spiritual dan sosial sekaligus. Perempuan Muslim hari ini punya warisan besar: melanjutkan semangat Kartini dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an. Belajar, berpikir, dan bergerak menuju cahaya adalah perintah Tuhan sekaligus panggilan zaman.
Tentang Penulis:
Andryan Rahmana Riswandi adalah seorang anak muda dari Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, pemerhati isu sosial keislaman, dan aktif dalam kegiatan dakwah dan literasi. Ia percaya bahwa Islam dan pendidikan adalah dua kunci utama dalam membangun peradaban yang berkeadilan.
Penulis : RBP
Editor : IZ

















