INIKEPRI.COM — Angin malam menyusup lembut ke Pelataran Harbour Bay, membawa harum bunga kenangan dan gema irama warisan. Sabtu, 17 Mei 2025, langit Batam menjelma atap bagi sebuah perhelatan agung: Kenduri Seni Melayu ke-26. Di sanubari malam itu, budaya bukan hanya dipentaskan — ia dihidupkan, dirayakan, dan dimuliakan.
Di antara tamu kehormatan yang hadir, tampak sosok yang tak asing dalam denyut pembangunan Batam — Aweng Kurniawan, Wakil Ketua I DPRD Kota Batam. Dengan balutan busana adat Melayu berwarna putih mutiara, lengkap berkopiah hitam dan berkain sampin hitam bercorak emas, ia menghadiri undangan dari Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, sebagai bentuk penghormatan atas seni dan sejarah yang terus dijaga.
Tepuk tangan menyambut tarian, syair, dan petikan alat musik tradisional Melayu seperti gambus, gendang panjang, dan akordion, menyatu dalam langgam yang tak hanya memanjakan telinga, tetapi juga mengetuk hati. Suara budaya berpadu dengan semangat generasi, membuat malam itu bukan sekadar pertunjukan — melainkan ziarah jiwa.
“Ini bukan sekadar acara seremonial. Kenduri ini adalah panggilan nurani—sebuah pengingat lembut bahwa kita adalah anak dari akar yang panjang,” ucap Aweng usai menyaksikan rangkaian pertunjukan seni.
Legislator Partai Gerindra tersebut menambahkan bahwa DPRD Kota Batam mendukung penuh kegiatan budaya seperti ini, sebagai penjaga nadi kearifan lokal yang tak boleh pupus oleh deru modernitas.

“Budaya bukan perhiasan, melainkan pondasi. Dari zapin hingga syair, semuanya adalah batu bata yang menyusun rumah batin kita sebagai bangsa. Bila ini hilang, kita kehilangan arah,” lanjutnya dengan lirih namun pasti.
Kenduri yang digelar selama dua malam ini menghadirkan para seniman dari dalam dan luar negeri, menampilkan parade budaya Melayu dari berbagai penjuru. Panggung yang dihias megah menyatu dengan semangat rakyat yang memadati pelataran, memberi makna baru pada kata “perayaan”.
Di sela-sela cahaya lampu dan tawa yang hangat, suasana malam seolah bicara. Bahwa di tengah zaman yang berlari, ada yang tetap berdiri tegak — yakni cinta pada warisan. Kenduri ini bukan sekadar melestarikan, tapi menghidupkan kembali roh kebudayaan dengan cara yang tak lekang oleh waktu.
Kenduri Seni Melayu ke-26 bukan sekadar perayaan, tapi sebentuk syair yang ditulis bersama — oleh rakyat, oleh pemimpin, dan oleh para leluhur yang namanya hidup dalam setiap nyanyian.
Penulis : IZ

















