INIKEPRI.COM — Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat akan banjir yang makin sering melanda, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, angkat bicara dengan nada tegas dan penuh keprihatinan. Ia mengingatkan keras para pengembang agar tak lagi memperlakukan lingkungan sebagai korban pembangunan.
“Jangan abaikan Amdal. Itu bukan sekadar dokumen, tapi janji kita untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan alam. Kalau Amdal menyebut sungai tak boleh ditutup, maka jangan ditutup. Jika cut and fill dilarang, maka jangan dilakukan. Mari kita berkomitmen,” ujar Amsakar, Kamis (29/5), dalam pernyataannya yang disampaikan penuh penekanan.
Praktik pembangunan yang mengabaikan kelestarian lingkungan seperti penimbunan alur sungai dan pengerukan besar-besaran (cut and fill), menurut Amsakar, menjadi salah satu akar dari persoalan banjir yang kian parah di Batam. Tanah yang kehilangan daya serap, saluran air yang tertutup, dan alur sungai yang berubah paksa, telah membuat kota ini tak lagi mampu menahan derasnya air saat hujan datang.
“Sekarang ini, cukup tiga jam hujan, Batam sudah ‘berenang’. Jalanan berubah jadi sungai, rumah warga terendam, aktivitas lumpuh. Dan tentu, muncul komentar di media sosial: ‘Pak Amsakar, Bu Li, apa kerja Bapak/Ibu?’ Padahal kami baru tiga bulan menjabat,” ucapnya lirih, namun tetap tegas.
Amsakar menolak menjadikan masa lalu sebagai kambing hitam. Ia menyatakan bahwa saat ini bukan waktu untuk saling menyalahkan, tetapi untuk bekerja sama memperbaiki keadaan.
“Saya tidak ingin terjebak dalam perdebatan siapa yang salah di masa lalu. Yang penting adalah bagaimana kita menyelesaikan masalah ini sekarang, bersama-sama.”
Lebih jauh, ia mengajak seluruh pengembang untuk menyelaraskan ambisi pembangunan dengan tanggung jawab ekologis. Menurutnya, investasi dan pembangunan tidak akan berkelanjutan jika lingkungan terus dikorbankan.
“Batam bisa tumbuh sebagai kota modern dan berdaya saing, tapi tidak harus dengan mengorbankan alamnya. Jangan jadikan pembangunan alasan untuk melukai bumi yang menopang kita.”
Amsakar juga berjanji akan memperketat pengawasan terhadap implementasi Amdal di setiap proyek pembangunan. Ia ingin memastikan bahwa dokumen Amdal tidak hanya menjadi formalitas dalam proses perizinan, tetapi benar-benar dijalankan secara konsisten di lapangan.
“Kepatuhan terhadap Amdal adalah garis merah. Kami tidak akan kompromi dalam hal ini.”
Dengan penekanan kuat pada tata kelola pembangunan yang bertanggung jawab, Amsakar mengajak semua pihak untuk berbenah dan bertindak cepat sebelum banjir menjadi kenormalan baru di Batam.
Penulis : DI
Editor : IZ

















