Lurah Tanjung Sari Berpulang, Warga Belakangpadang Menangis dalam Diam

- Publisher

Kamis, 5 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekda Kota Batam Jefridin di rumah duka. Foto: INIKEPRI.COM

Sekda Kota Batam Jefridin di rumah duka. Foto: INIKEPRI.COM

INIKEPRI.COM — Di rumah batu bercat biru di sudut Kampung Baru, pelataran dipenuhi kursi plastik dan karpet sajadah. Bau bunga melati diiring sayup-sayup lantunan Yasiin pelan-pelan menyelimuti ruangan. Itulah rumah duka almarhumah Mardiana binti Maeran (52), Lurah Tanjung Sari, yang wafat Selasa malam (3/6) di Rumah Sakit Awal Bros Batam.

Mardiana bukan sekadar pejabat kelurahan. Ia adalah sahabat, ibu kedua, dan tempat banyak warga mengadu. Jabatan lurah yang diembannya sejak April 2023 bukan membuatnya menjaga jarak—justru mendekatkan ia pada kehidupan warga, dari yang sederhana hingga paling sunyi.

Dari Jajakan Opak Hingga Pelayanan Tanpa Sekat

Ia tak lahir dari keluarga pejabat. Mardiana tumbuh dari garis pantai, anak seorang nelayan yang sejak kecil bersahabat dengan bau garam dan desir angin laut. Di masa remaja, ia membantu ibunya menjajakan opak-opak keliling kampung. Ketika dewasa, ia ikut berjualan ikan segar, berkeliling dari satu pasar ke pasar lain, menjemput rezeki dengan peluh dan senyum.

Dari hidup yang keras itulah ia belajar arti keikhlasan. Bahwa tidak semua orang dilahirkan untuk menjadi besar, tapi setiap orang bisa memilih untuk berguna.

Ketika kemudian ia diamanahkan menjadi Lurah Tanjung Sari, tak ada yang berubah dari dirinya. Ia tetap Mardiana yang rendah hati, yang duduk di beranda warga tanpa canggung, yang menegur dengan lembut, dan mendengarkan dengan mata penuh perhatian.

BACA JUGA:  Mutasi Polri, Wakapolda Kepri Ikut Diganti

Tanjung Sari memang bukan daerah yang terpencil. Tapi wilayah ini punya irama sendiri—denyut kehidupan pesisir yang bersahaja, riuh pasar pagi, dan saling sapa di jalan-jalan sempit. Dan Mardiana adalah bagian dari itu semua.

Mardiana tidak sekadar hadir dalam urusan kantor. Ia hadir di pelataran rumah warga yang sedang hajatan, di sudut warung kopi tempat cerita-cerita kecil beredar, dan di pertemuan RT yang seringkali lebih dari sekadar formalitas. Ia mendengar, mencatat, dan menyelesaikan—bukan hanya sebagai tugas, melainkan sebagai bentuk cintanya kepada wilayah yang ia jaga.

Dalam dirinya, jabatan bukan sekat, melainkan jalan untuk menyatu. Di Tanjung Sari, ia tak pernah menjadi sosok yang tinggi di podium, tetapi wajah ramah yang mudah ditemui dan hangat disapa.

Humanis dan Penuh Kepedulian

Menurut Syahrul Alim, tokoh pemuda Belakang Padang yang sering mendampingi kegiatan sosial di pulau-pulau kecil, Mardiana adalah contoh pemimpin yang bekerja dengan hati, bukan hanya dengan tangan.

“Bu Mardiana itu bukan lurah yang duduk di meja. Ia turun langsung, tahu siapa yang sedang sakit, siapa yang butuh bantuan. Ia tak pernah sungkan mengetuk rumah warganya satu per satu,” ucap Syahrul, matanya memerah.

BACA JUGA:  Investasi Batam Tumbuh Pesat: Penataan Infrastruktur dan Penanganan Banjir Jadi Prioritas BP Batam

“Kepeduliannya bukan dibuat-buat. Ia hadir karena ia peduli, bukan karena kewajiban,” lanjutnya pelan.

Bagi Syahrul, sosok Mardiana telah menjadi panutan tentang bagaimana pemimpin harus hadir dengan empati, bukan hanya kebijakan.

Kehilangan Seorang Ibu Pulau

Rabu pagi (4/6), Sekretaris Daerah Kota Batam, Jefridin, datang langsung ke rumah duka. Ia mewakili Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam menyampaikan duka yang dalam.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un. Telah berpulang sahabat kita, Ibu Mardiana. Kami ucapkan terima kasih atas pengabdiannya dan memohon maaf bila ada khilaf selama bertugas,” kata Jefridin, sembari menyerahkan santunan dari Korpri kepada keluarga.

Ucapan itu tak berlebihan. Di antara doa dan isak tangis, banyak warga yang berdiri diam, seolah belum bisa percaya sosok yang biasa menyapa mereka setiap pagi kini sudah tiada.

“Ia bukan lurah bagi kami. Ia seperti ibu,” bisik seorang warga lansia, tak ingin namanya disebut.

Dipuji dari Luar Pulau

Kesan mendalam tentang Mardiana bukan hanya datang dari warga Tanjung Sari. Aldian Sanesta, aktivis sosial yang kerap berinteraksi dengan kelurahan-kelurahan di wilayah hinterland, menyebut Mardiana sebagai figur langka di jajaran pemerintahan akar rumput.

BACA JUGA:  9 Anak Didik LPKA Kelas II Batam Ikuti UPK Paket B dan C

“Saya bukan warga Belakang Padang, tapi saya tahu kinerjanya. Ia selalu cepat merespons, bahkan mendahului birokrasi. Saat banyak orang bicara program, Mardiana sudah bergerak,” ujar Aldian.

“Dalam banyak diskusi, warga menyebut namanya dengan nada hormat. Itu bukan karena jabatannya, tapi karena ia menjawab harapan masyarakat,” tambahnya.

Kepergian yang Diam-Diam, Tapi Berbekas

Mardiana meninggalkan seorang suami dan tiga anak. Ketiganya duduk bersisian di pojok ruang tamu rumah duka. Di tengah duka, mereka tetap menyambut tamu dengan senyum kecil yang dipaksakan.

Mardiana telah pergi. Tapi cara ia hidup akan lama tinggal dalam ingatan. Karena tidak semua orang bisa dikenang dengan nama, tapi ia dikenang dengan kebaikan.

Tak ada karangan bunga mewah. Tak ada seremonial panjang. Tapi setiap peluk warga, setiap tatapan kosong yang menatap pelataran rumah duka, adalah tanda bahwa pulau kecil ini benar-benar kehilangan.

“Ia adalah pemimpin yang tidak hanya bekerja, tapi menyentuh hati kami dengan cara yang tak semua orang bisa,” ucap salah seorang warga Kampung Baru lainnya.

Hari itu, tak banyak kata yang bisa menggambarkan duka. Tapi di setiap pelataran rumah warga, dalam bisik-bisik doa dan genangan air mata, nama Mardiana akan tetap disebut. Dengan rindu.

Penulis : IZ

Berita Terkait

Progres Peningkatan Jalan Landing Point Fly Over – Simpang Lalan Madani Capai 39,194 Persen, BP Batam Genjot Percepatan Konstruksi
Maulid Nabi di Piayu Dipadati Ribuan Warga, Amsakar Tekankan Keteladanan Rasulullah
BP Batam Tesmi Tutup Batam Prime International Football Series 2026
Pemko Batam Pastikan KSP Pasar Induk Jodoh Tetap Berjalan, Amsakar: Kontrak Jadi Dasar
Amsakar Dorong Penataan Kampung Tua, Pengamanan Aset Rp12,8 Triliun dan Pembenahan Pajak
Dari Standar hingga Pengaduan, PTSP BP Batam Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik
Pesawat Batik Air Jakarta-Jambi Gagal Mendarat, Dialihkan ke Batam akibat Kabut Asap
Amsakar Hadiri HUT RI ke-81 di Bulang, Lomba Sampan hingga Ketinting Semarakkan Pulau Buluh

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 14:58 WIB

Progres Peningkatan Jalan Landing Point Fly Over – Simpang Lalan Madani Capai 39,194 Persen, BP Batam Genjot Percepatan Konstruksi

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:04 WIB

Maulid Nabi di Piayu Dipadati Ribuan Warga, Amsakar Tekankan Keteladanan Rasulullah

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:44 WIB

Pemko Batam Pastikan KSP Pasar Induk Jodoh Tetap Berjalan, Amsakar: Kontrak Jadi Dasar

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:16 WIB

Amsakar Dorong Penataan Kampung Tua, Pengamanan Aset Rp12,8 Triliun dan Pembenahan Pajak

Minggu, 23 Agustus 2026 - 16:48 WIB

Dari Standar hingga Pengaduan, PTSP BP Batam Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik

Berita Terbaru