INIKEPRI.COM – Pesawat Batik Air rute Jakarta-Jambi terpaksa mengalihkan pendaratan ke Batam setelah kondisi jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi menurun akibat kabut asap, Minggu (23/8/2026).
Pesawat dengan nomor penerbangan ID 6804 tersebut menggunakan Airbus A320 dengan registrasi PK-LAT. Pesawat sebelumnya dijadwalkan tiba di Bandara Sultan Thaha sekitar pukul 10.00 WIB.
Namun, kondisi cuaca membuat pesawat tidak dapat melakukan pendaratan karena jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional.
General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Marbun, membenarkan adanya pengalihan penerbangan tersebut.
“Benar, penerbangan ID 6804 dialihkan ke Batam karena visibility di bawah batas minimum akibat asap,” kata Ardon.
Penerbangan tersebut membawa 138 penumpang, termasuk satu bayi. Pesawat dipimpin oleh pilot Kemas Muhammad Fatur.
Berdasarkan pengamatan cuaca Bandara Sultan Thaha, jarak pandang terpendek tercatat sekitar 1.000 meter pada pukul 10.00 WIB dan kembali berada di angka yang sama pada pukul 11.00 WIB.
Ardon menjelaskan informasi mengenai pengalihan penerbangan disampaikan oleh Air Traffic Control (ATC) kepada Apron Movement Control (AMC) pada pukul 10.45 WIB.
“Akibat cuaca kabut asap itu, pesawat penerbangan ID 6804 rute Jakarta-Jambi dialihkan ke Batam setelah jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi turun hingga sekitar 1.000 meter akibat asap,” ujarnya.
Kabut Asap Dipengaruhi Karhutla
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Jambi, Jaya Martuah Sinaga, turut membenarkan penurunan jarak pandang akibat kabut asap.
Menurutnya, jarak pandang terendah pada Minggu mencapai sekitar 1.000 meter.
“Jarak pandang terendah tercatat sekitar 1.000 meter pada pukul 10.00 dan 11.00 WIB. Kondisi ini dipengaruhi oleh asap yang berada di atmosfer,” kata Jaya.
Ia menjelaskan, asap yang menyelimuti wilayah Jambi berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Jambi dan Sumatera Selatan.
Kondisi angin kemudian membawa asap tersebut menuju sejumlah wilayah di Sumatera.
“Kabut asap terjadi karena ada kejadian karhutla di Jambi dan Sumsel. Kemudian kabut asap dibawa angin dari arah tenggara menuju barat laut di Sumatera,” jelasnya.
Penurunan jarak pandang menjadi salah satu faktor penting dalam keselamatan penerbangan. Ketika visibility berada di bawah batas operasional, pesawat tidak dapat melakukan pendaratan dan harus dialihkan menuju bandara alternatif.
Asap Mulai Terlihat di Kota Jambi
Kabut asap juga mulai terlihat di sejumlah kawasan Kota Jambi pada Minggu pagi.
Sejumlah bangunan dan objek dari kejauhan tampak samar, termasuk kawasan di sekitar Sungai Batanghari dan Jembatan Gentala Arasy.
Kondisi udara tersebut juga mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah pengendara mengeluhkan asap yang cukup menyengat ketika beraktivitas di luar ruangan.
Sementara itu, luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi sepanjang 1 Januari hingga 16 Agustus 2026 tercatat mencapai 658,29 hektare.
Kabupaten Muaro Jambi menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, yakni 264,78 hektare, disusul Batanghari 95,53 hektare, Tanjung Jabung Barat 58,10 hektare, dan Tanjung Jabung Timur 32,71 hektare.
BPBD Jambi juga mencatat 62 kasus karhutla sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, 55 kasus masih dalam tahap penyelidikan, sedangkan tujuh kasus telah masuk tahap penyidikan.
Dalam penanganan kasus tersebut, sebanyak delapan orang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Gangguan penerbangan Batik Air rute Jakarta-Jambi menjadi salah satu dampak nyata kabut asap karhutla yang tidak hanya memengaruhi kualitas udara, tetapi juga aktivitas transportasi udara di wilayah Sumatera.
Penulis : RBP
Editor : IZ

















