INIKEPRI.COM – Pemerintah Kota Batam mencatat keberhasilan signifikan dalam menurunkan prevalensi stunting.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Mei 2025, angka stunting di Batam menurun dari 16,1 persen menjadi 14 persen—angka ini menempatkan Batam di jalur cepat menuju target nasional penurunan stunting 18,8 persen pada 2025.
Wali Kota Amsakar Achmad menyampaikan bahwa capaian ini adalah buah dari kerja kolektif lintas sektor, dan tekad kuat seluruh pihak dalam memastikan anak-anak Batam tumbuh sehat dan cerdas.
“Ini hasil kerja bersama. Kami ingin anak-anak Batam memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Bersama Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra, Amsakar menjadikan isu stunting sebagai agenda prioritas. Bagi keduanya, pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang sehat dan berdaya saing adalah fondasi penting bagi masa depan Batam sebagai kota industri dan pintu gerbang Indonesia di barat.

“Kami membangun Batam bukan hanya dari sisi infrastruktur, tapi dari akarnya: anak-anak sehat, keluarga kuat,” tegas Amsakar.
Penanganan stunting dilakukan secara komprehensif, melibatkan seluruh kelurahan dan menggerakkan konvergensi lintas sektor. Dari posyandu, puskesmas, RT/RW, TNI–Polri, hingga tokoh masyarakat, semua bersatu dalam gerakan bersama melawan stunting.
Strategi mencakup edukasi keluarga, peningkatan gizi ibu dan balita, pemantauan tumbuh kembang anak, serta penguatan pola asuh. Lima pilar nasional pencegahan stunting diadopsi penuh—mulai dari integrasi kebijakan, ketahanan pangan, hingga monitoring layanan berkala.
Saat ini, Batam berada di posisi kedua terendah dalam angka stunting se-Kepulauan Riau, hanya terpaut tipis dari Tanjungpinang. Dibandingkan daerah lain, Batam menunjukkan lompatan nyata dan optimisme kuat.
“Kami optimistis, dengan arah kebijakan yang konsisten dan partisipasi masyarakat, stunting bisa ditekan lebih jauh,” tutup Li Claudia.
Penulis : RP
Editor : IZ

















