INIKEPRI.COM – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Batam menunjukkan tren penurunan yang menggembirakan dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, TPT tahun 2024 diperkirakan menyentuh angka 7,68 persen, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang berada di angka 8,14 persen.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, menyampaikan bahwa penurunan ini mencerminkan mulai pulihnya kondisi ekonomi pascapandemi. Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19 mulai melanda, TPT Batam sempat melonjak hingga 11,79 persen.
“Syukur alhamdulillah, sejak saat itu angkanya terus membaik setiap tahunnya,” ujar Eko dalam keterangannya pada Senin (23/6).
Data tersebut diambil dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) yang rutin dilakukan setiap bulan Agustus. Untuk tahun 2025, Eko mengonfirmasi survei serupa akan kembali dilaksanakan pada bulan yang sama.
Tantangan Ketimpangan Gender dalam Dunia Kerja
Lebih lanjut, Eko memaparkan bahwa meskipun angka TPT secara umum menurun, terdapat perbedaan signifikan antara tingkat pengangguran laki-laki dan perempuan. TPT laki-laki tahun 2024 berada di angka 7,20 persen, sedangkan perempuan mencapai 8,49 persen.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa akses terhadap pekerjaan yang setara bagi perempuan masih menjadi tantangan serius. Menurut Eko, isu kesetaraan dan inklusi dalam dunia kerja perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta.
Jumlah Pekerja Meningkat, Tapi Masih Banyak yang Belum Ideal
Tahun 2024 juga mencatat sebanyak 606.492 penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) di Batam telah bekerja. Dari jumlah tersebut, mayoritas atau 518.336 orang merupakan pekerja penuh waktu, sementara sisanya sebanyak 88.156 orang termasuk dalam kategori pekerja tidak penuh waktu.
Pekerja tidak penuh waktu ini terdiri dari dua jenis, yaitu:
- Pekerja paruh waktu: 67.974 orang
- Pekerja setengah pengangguran: 20.182 orang
“Setengah pengangguran artinya mereka bekerja kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari tambahan pekerjaan. Artinya, mereka belum mendapatkan pekerjaan yang optimal,” jelas Eko.
Menuju Lapangan Kerja yang Lebih Berkualitas
Meski arah perbaikan sudah terlihat, BPS mengingatkan bahwa upaya peningkatan kualitas kerja juga harus menjadi prioritas. Menurut Eko, bekerja bukan hanya soal terserap dalam pasar kerja, melainkan juga bagaimana kualitas dan keberlanjutan pekerjaan tersebut dapat mendukung kesejahteraan jangka panjang.
“Penurunan angka pengangguran memang menggembirakan, tapi kita harus pastikan masyarakat juga bisa bekerja secara layak, aman, dan sesuai kapasitas mereka,” pungkasnya.
Penulis : DI
Editor : IZ

















