Green Sukuk Semakin Populer, Tapi Kenapa Lingkungan Kita Masih Rusak?

- Admin

Sabtu, 5 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Foto: INIKEPRI.COM

Ilustrasi. Foto: INIKEPRI.COM

Oleh: Dewi Socowati – Pemerhati Lingkungan

INIKEPRI.COM – Sejak 2018, Indonesia telah menjadi pionir global dalam penerbitan green sukuk.

obligasi syariah yang digunakan untuk membiayai proyek ramah lingkungan.

Sampai hari ini, pemerintah telah menghimpun lebih dari US$6 miliar dari investor internasional dan domestik.

Dana ini diklaim digunakan untuk membiayai berbagai proyek hijau, mulai dari energi bersih, pengelolaan sampah, hingga konservasi hutan.

Namun ironisnya, lingkungan di Indonesia justru makin rusak. Deforestasi di Kalimantan dan Papua terus terjadi, udara di kota-kota besar seperti Jakarta dan Palembang semakin buruk, dan bencana ekologis seperti banjir dan longsor makin sering melanda.

Baca Juga :  Kejutan! Duet Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra Mungkin Terwujud di Pilwako Batam 2024

Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah green sukuk benar-benar berdampak nyata, atau hanya pencitraan hijau (greenwashing)?

Antara Simbol dan Solusi

Green sukuk memang sukses secara finansial. Indonesia dianggap pemimpin di pasar keuangan syariah berkelanjutan, bahkan mendapat pengakuan dari lembaga internasional seperti UNDP dan World Bank.

Tapi jika kita melihat dari sisi lingkungan hidup, dampaknya masih jauh dari cukup.

Pertama, cakupan proyek hijau yang dibiayai green sukuk masih sangat kecil dibanding luas dan kompleksnya kerusakan lingkungan yang terjadi. Misalnya, proyek PLTS di sekolah atau konservasi hutan terbatas tidak akan mampu mengimbangi pembukaan lahan besar-besaran untuk tambang, perkebunan, atau food estate.

Baca Juga :  Pemilu 'Wedding Party Oligarki-Kapitalis'

Kedua, kebijakan pemerintah sendiri masih kontradiktif. Di satu sisi, green sukuk didorong; di sisi lain, izin eksploitasi hutan dan pertambangan terus dikeluarkan. Proyek-proyek besar yang merusak alam justru sering kali dianggap sebagai prioritas pembangunan.

Ketiga, penegakan hukum lingkungan masih lemah. Pembalakan liar, pembakaran hutan, dan pencemaran industri sering kali tidak ditindak tegas. Padahal, efeknya langsung terasa di masyarakat: krisis air, kerusakan ekosistem, dan gangguan kesehatan.

Apa yang Perlu Dibenahi?

Green sukuk adalah instrumen yang potensial, tapi tidak akan efektif jika tidak didukung oleh:

  • Kebijakan lingkungan yang kuat dan konsisten
  • Transparansi penggunaan dana hijau
  • Partisipasi masyarakat lokal dalam proyek
  • Penghentian proyek negara yang justru merusak lingkungan
Baca Juga :  Sibuk Bahas Sindikat Mafia TPPO, Lupa Musuh Besar Bangsa adalah Kemiskinan

Tanpa itu semua, green sukuk hanya menjadi hiasan finansial, bukan solusi ekologis.

Dewi Socowati, penulis Opini. Foto: Dok. Pribadi Dewi Socowati

Penutup

Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemimpin dalam ekonomi hijau berbasis syariah.

Namun keberhasilan itu hanya akan bermakna jika kita mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Jangan sampai kita sibuk menanam pohon di halaman depan, sementara hutan di belakang terus dibabat habis.

Editor : IZ

Berita Terkait

Asap, Asa dan Amsakar Achmad
Refleksi Kartini: Emansipasi, Iman, dan Tantangan Perempuan Muslim Hari Ini
Strategi Delegitimasi Aktor Kebijakan dalam Pemerintahan Prabowo – Studi Kasus Tuduhan terhadap Sufmi Dasco Ahmad
Menerobos Rutinitas Birokrasi dengan Adab dan Etika
Kemerosotan Otak dan Pembatasan Media Sosial pada Anak
Haruskah Menderita Atas Nama Indonesia?!
1 Desember, Ditjen Imigrasi Terapkan Penerbitan E-Paspor 100 Persen
Judi Online Menambah Kemiskinan Baru, Literasi Digital Jadi Kunci Pemberantasannya

Berita Terkait

Sabtu, 5 Juli 2025 - 10:52 WIB

Green Sukuk Semakin Populer, Tapi Kenapa Lingkungan Kita Masih Rusak?

Kamis, 29 Mei 2025 - 10:28 WIB

Asap, Asa dan Amsakar Achmad

Senin, 21 April 2025 - 11:02 WIB

Refleksi Kartini: Emansipasi, Iman, dan Tantangan Perempuan Muslim Hari Ini

Selasa, 8 April 2025 - 15:25 WIB

Strategi Delegitimasi Aktor Kebijakan dalam Pemerintahan Prabowo – Studi Kasus Tuduhan terhadap Sufmi Dasco Ahmad

Selasa, 11 Maret 2025 - 02:08 WIB

Menerobos Rutinitas Birokrasi dengan Adab dan Etika

Berita Terbaru

TNI berhasil menyelesaikan pembangunan dua jembatan Bailey di kawasan Jamur Ujung, Kabupaten Bener Meriah, yang berada pada ruas jalan strategis Bireuen – Bener Meriah – Takengon. Foto: TNI AD

Daerah

TNI AD Rampungkan Dua Jembatan Bailey di Bener Meriah

Selasa, 13 Jan 2026 - 14:14 WIB