Kunjungan sehari di Midai memantik agenda besar : cetak sawah 500 hektare, penguatan pelabuhan, perbaikan jalan lingkar, hingga mitigasi abrasi. Cen Sui Lan menunjukkan bahwa pembangunan di pulau terluar tak boleh menunggu ombak reda. Langkahnya di hari itu, membawa pulau kecil ini masuk radar prioritas nasional.
INIKEPRI.COM – Pada Selasa (25/11), Pulau Midai, salah satu titik paling terpencil dan paling rentan kelangkaan pangan di Natuna, mendapat kunjungan kerja yang berbeda dari biasanya.
Bupati Natuna, Cen Sui Lan, datang bukan untuk seremonial. Ia hadir untuk mengurai persoalan yang selama ini membuat Midai selalu gelisah setiap datangnya angin Utara.
Dalam satu hari yang padat, Cen Sui Lan memimpin rapat lapangan tanpa ruang rapat, melakukan koordinasi lintas kementerian, meninjau lahan sawah, menelusuri pesisir terabrasi dengan ambulans, hingga mengecek pelabuhan yang menjadi nadi hidup warga Midai.
Kunjungan ini memperlihatkan bahwa pembangunan tidak lagi menunggu cuaca cerah atau pertemuan resmi di kantor, tetapi bergerak dengan realitas lapangan.
Titik Awal: Midai dan Siklus Kelangkaan yang Berulang
Midai hidup di bawah bayang-bayang musim Utara. Ketika angin mulai kencang dan gelombang meninggi, kapal besar tidak berani merapat. Harga kebutuhan pokok naik, pasokan menyusut, dan warga bergantung pada kapal kayu dari Pemangkat.
Kapal Roro kerap bertahan di perairan, Pelni hanya lego jangkar jauh di tengah laut, dan warga harus menjemput barang dengan perahu kecil. Risiko keselamatan besar, tetapi itulah satu-satunya cara bertahan hidup.
Realitas tersebut membuat program ketahanan pangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Dari Lahan Sunyi Menuju 500 Hektare Sawah
Salah satu agenda paling krusial adalah peninjauan lahan rencana pembukaan 500 hektare sawah baru di Desa Air Putih dan Desa Gunung Sebelat.
Di tengah hamparan lahan yang masih alami, dikelilingi bukit kecil dan belum mempunyai irigasi, Cen Sui Lan melihat potensi besar yang selama ini tidak disentuh.
Tanpa menunda, ia langsung menghubungi pejabat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR.
“Kalau airnya siap, petani siap menanam. Ketahanan pangan di Midai harus dimulai dari sumbernya. Air bukan hanya debit, tapi syarat kedaulatan pangan. Kita tidak bisa menunggu berbulan-bulan hanya untuk membuka pintu koordinasi,” tegasnya.
Respons cepat dari Ditjen SDA menunjukkan bahwa Midai kini masuk radar prioritas.
Kunjungan ini memperlihatkan perubahan gaya kerja Cen Sui Lan. Dari rapat bermeja menjadi rapat di atas tanah yang masih lembap. Dari perencanaan normatif menjadi keputusan langsung di titik lahan.
Skema Kolaborasi Empat Level Pemerintahan
Untuk mencetak sawah di pulau terpencil seperti Midai, koordinasi tidak bisa parsial. Cen Sui Lan memaparkan pembagian peran secara jelas:
1. Pemerintah Desa
- Menyediakan lahan
- Memperkuat kelompok tani
- Mengelola operasional awal irigasi
2. Pemerintah Kabupaten
- Menyusun perencanaan teknis percetakan sawah
- Menata jaringan air distribusi lokal
- Pembinaan penyuluh & teknis pertanian
3. Pemerintah Provinsi
- Menyediakan alat mesin pertanian untuk wilayah terluar
4. Pemerintah Pusat
- Program cetak sawah baru
- Bibit unggul
- Penyuluhan intensif
- Dukungan irigasi dari Kementerian PUPR
“Program besar seperti ini harus bergerak bersama. Desa siapkan lahannya, kabupaten teknisnya, provinsi menambah sarana, pusat menjaga keberlanjutan. Kita sedang mengubah Midai dari pulau penerima menjadi pulau penghasil,” ucap Cen Sui Lan.
Menembus Medan Sulit: Rombongan Menggunakan Ambulans
Jalan Midai tidak sepenuhnya ramah bagi mobil biasa. Terjal, licin, dan sempit. Untuk mencapai titik pesisir yang terancam abrasi, Cen Sui Lan dan rombongan menggunakan ambulans sebagai kendaraan operasional.
Di lokasi pesisir Utara, garis pantai yang mulai hilang menandakan urgensi intervensi.
“Pengaman pantai ini wajib. Tanpa itu, akses warga bisa putus kapan saja. Ini bukan sekadar struktur bangunan, tapi perlindungan ruang hidup masyarakat kepulauan,” jelasnya.
Ia juga menekankan peran kecamatan dan desa dalam pengawasan dan edukasi mitigasi pesisir, bukan hanya pemerintah kabupaten dan provinsi.
Jalan Lingkar Midai: Urat Nadi Logistik
Cen Sui Lan kemudian meninjau jalan lingkar yang telah mengalami penurunan kualitas di beberapa ruas. Jalan ini menjadi penghubung antardesa, dan yang terpenting, jalur distribusi pangan.
“Jalan lingkar ini bukan sekadar aspal. Ia menentukan biaya hidup warga pulau. Revitalisasinya harus cepat,” tegas Cen Sui Lan.
Pelabuhan Perintis: Tempat Harapan Turun dari Kapal
Di Pelabuhan Perintis, angin laut yang keras tidak menyurutkan dialog panjang soal kondisi pelabuhan yang belum ideal.
“Pelabuhan ini dulu aspirasi yang kita perjuangkan waktu saya di DPR RI. Rute singgah sudah ada, tapi pelengkapnya belum. Turap dan pelengsengan itu harus ada supaya kapal bisa sandar aman dan logistik tidak lagi penuh drama,” ujarnya.
Tanpa penguatan struktur pelabuhan, kapal Roro akan terus ragu merapat saat gelombang tinggi.
Pelabuhan ini bukan sekadar infrastruktur transportasi di Midai, tapi adalah pintu masuk kehidupan.
Koordinasi Lintas Kementerian Berlanjut Hingga Malam
Usai menempuh perjalanan penuh medan sulit dan cuaca buruk, agenda tidak berhenti. Setibanya di rumah dinas pada malam hari, Cen Sui Lan langsung melakukan video call dengan Alien Mus, Pimpinan Komisi IV DPR RI, dan kemudian berlanjut ke Dirjen Tanaman Pangan hingga Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui jalur komunikasi internal kementerian.
Di lapangan, ia juga telah berkoordinasi dengan Kepala BWS IV Kepri, Syauqiyatul Afnani Rangkuti, untuk memprogramkan pembukaan sawah baru.
Semua dilakukan untuk memasukkan Midai dalam program cetak sawah, irigasi, dan dukungan pangan nasional.
“Midai ini titik strategis NKRI. Perbatasan bukan garis akhir, tapi garis mulai kita berdiri. Karena itu pembangunan di sini tidak boleh ditunda,” tutupnya.
Midai Menuju Pusat Kemandirian Baru di Utara NKRI
Kunjungan ini mencerminkan transformasi cara kerja pemerintah daerah bukan menunggu peluang, tetapi mengejar dan menciptakan peluang.
Dari lahan kering yang kelak menjadi sawah, dari jalan yang rusak sampai pesisir yang tergerus, dari pelabuhan yang menunggu penguatan hingga birokrasi pusat yang harus bergerak, Midai kini berada dalam momentum baru.
Di tengah angin Utara yang belum mereda, pulau kecil ini mendapat harapan besar: dari titik rawan menjadi titik bangkit, dari penerima menjadi penghasil, dari terluar menjadi strategis.
Midai tidak lagi menunggu ombak mereda untuk mendapat pasokan pangan, ia sedang membangun kemandiriannya sendiri.
Penulis : IZ

















