INIKEPRI.COM – Kabupaten Lingga dipertimbangkan sebagai sumber alternatif air baku untuk memenuhi kebutuhan Kota Batam dalam jangka panjang. Badan Pengusahaan (BP) Batam menilai ketersediaan air di Lingga berpotensi menopang kebutuhan Batam, meski realisasinya membutuhkan investasi besar dan kepastian pembiayaan.
Wali Kota Batam sekaligus Ex Officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan Lingga menjadi pilihan yang lebih dipertimbangkan apabila dukungan pendanaan dapat dipenuhi melalui investor maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Jika ada investor yang sanggup atau dukungan APBN cukup, kita lebih memilih Lingga karena ketersediaan jangka panjangnya lebih terjamin,” kata Amsakar, Jumat (9/10/2026).
Menurut Amsakar, pihaknya telah tiga kali bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga untuk membahas kemungkinan skema pembiayaan proyek tersebut.
Selain Lingga, Kabupaten Bintan juga masuk dalam pertimbangan sebagai sumber air baku alternatif. Bintan dinilai memiliki keunggulan dari sisi biaya investasi, sedangkan Lingga dipandang lebih menjanjikan dari segi ketersediaan air untuk kebutuhan jangka panjang.
Meski demikian, rencana mendatangkan air dari luar pulau tersebut belum memasuki tahap realisasi. BP Batam masih perlu memperbarui kajian, menghitung kelayakan investasi, dan memastikan skema pendanaan yang memungkinkan proyek dijalankan.
Pasokan Air Batam Bergantung pada Waduk
Kebutuhan sumber air alternatif tidak terlepas dari tantangan pasokan air baku Batam saat ini. Berdasarkan laporan tersebut, Batam memiliki delapan waduk, tetapi hanya tujuh yang beroperasi. Pasokan air dari waduk juga sangat dipengaruhi curah hujan.
Sementara itu, pembangunan waduk baru bukan solusi yang dapat langsung menjawab kebutuhan dalam waktu singkat. Proses pembentukan sumber air tawar melalui proses alami disebut membutuhkan waktu operasional paling cepat tujuh tahun.
Kondisi tersebut mendorong BP Batam mempertimbangkan sumber air lain yang dapat mendukung kebutuhan masyarakat seiring pertumbuhan penduduk, pembangunan perumahan, dan peningkatan aktivitas investasi.
Gagasan mengambil air dari Lingga sebenarnya bukan hal baru. Kajian mengenai opsi tersebut telah dilakukan sejak 1991 dan menyebutkan bahwa pengaliran air melalui jaringan pipa antarpulau memungkinkan untuk dikembangkan.
BP Batam berencana memperbarui kajian tersebut, terutama menyangkut nilai keekonomian, kebutuhan modal, skema pembiayaan, dan titik impas atau break-even point (BEP). Hasil kajian akan menjadi salah satu dasar untuk menilai kelayakan proyek dan menarik minat investor.
Pipa Tua dan Sistem Pemantauan Ikut Dibenahi
Selain mencari sumber air baku baru, BP Batam menyiapkan pembenahan tata kelola air bersih melalui penyusunan peta jalan atau roadmap jangka panjang.
Peta jalan tersebut mencakup tiga fokus utama, yakni revitalisasi jaringan pipa, pemenuhan ketersediaan air baku, serta pengaktifan kembali sistem pemantauan Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA).
Amsakar mengatakan penanganan persoalan air perlu dilakukan secara terencana, bukan hanya setelah gangguan muncul.
“Kerja kita selama ini parsial, ada problem baru kita coba selesaikan. Saya bersama Ibu Wakil ingin ada solusi jangka panjang. Roadmap ini harus betul-betul dituntaskan dengan kajian akademik yang sesuai dengan kondisi eksisting,” tegasnya.
Sebagai informasi, jaringan pipa distribusi air di Batam rata-rata telah berusia 25 hingga 55 tahun. Sejumlah pipa yang dibangun pada era 1970-an, 1980-an, dan 1990-an dinilai membutuhkan revitalisasi.
Usia jaringan tersebut menjadi tantangan dalam menjaga kelancaran distribusi. Selain itu, tidak aktifnya sistem SCADA membuat pendeteksian lokasi kebocoran pada jaringan pipa tua menjadi lebih sulit.
Pengaktifan kembali SCADA diharapkan membantu pemantauan kondisi jaringan secara waktu nyata, sehingga gangguan distribusi dapat diketahui dan ditangani lebih cepat.
Dengan demikian, strategi penyediaan air baku Batam tidak hanya bertumpu pada kemungkinan mendatangkan air dari Lingga atau Bintan. Pembenahan jaringan distribusi dan sistem pemantauan juga menjadi bagian penting untuk memperbaiki layanan.
Rencana pengambilan air dari Lingga masih membutuhkan kajian lanjutan dan kepastian pendanaan. Bagi Batam, tantangan berikutnya adalah memastikan sumber air baku mencukupi sekaligus membangun sistem distribusi yang mampu mengantarkan air secara andal kepada masyarakat.
Penulis : DI
Editor : IZ

















