INIKEPRI.COM – Di tengah gegap gempita era digital, saat layar ponsel lebih akrab dari halaman buku, ada satu profesi yang tetap hidup dan bukan sekadar bertahan, tapi memberi makna.
Dialah juru kisah, pendongeng. Sosok klasik yang mungkin terdengar seperti potongan dari masa lalu, namun nyatanya, mereka tetap menjadi pelita di tengah zaman yang cepat dan sering kali hampa makna.
Salah satu wajah inspiratif dari profesi ini adalah Amrie Poerbha Yogya Sayektie, penyuluh agama Islam non-ASN yang lebih dikenal dengan nama panggungnya: Kak Aam “Sabarmen”.
Dengan logat Melayu yang kental dan ekspresi wajah yang penuh warna, ia menjelma menjadi jembatan antara cerita masa silam dan nilai-nilai yang kekal sepanjang zaman.
“Bercerita itu ibarat menanam benih nilai dalam hati pendengarnya. Cerita bisa hidup di hati siapa saja, dari anak-anak hingga orang tua,” ujar Kak Aam, sembari tersenyum ramah.
Dongeng yang Bersuara dan Bergerak
Tak seperti dongeng tempo dulu yang hanya mengandalkan suara, Kak Aam membawa cerita menjadi pertunjukan kecil yang hidup. Ia melibatkan tubuh, mimik, bahkan tawa—menciptakan suasana yang membuat pendengarnya larut, seolah-olah mereka hadir di dalam kisah itu sendiri. Tokoh-tokoh ciptaannya muncul dengan gaya khas, penuh daya tarik dan pesan mendalam.
Dari sekolah hingga pesantren, dari majelis hingga ruang publik, Kak Aam hadir membawa cerita. Tak berhenti di panggung nyata, ia juga aktif mendongeng di media sosial, menjangkau telinga-telinga yang jauh, bahkan hingga lintas negara.
Sabarmen: Sabar dan Menenangkan
Julukan “Sabarmen” bukan sekadar nama panggung. Bagi Kak Aam, mendongeng adalah terapi—sarana untuk menenangkan, menumbuhkan harapan, dan mengajarkan keberanian menghadapi hidup.
“Cerita itu menenangkan jiwa. Ia mengajarkan sabar, harapan, dan keberanian menjalani hidup,” tuturnya penuh keyakinan.
Setiap cerita yang dibawakannya tidak hanya memikat, tetapi menyelipkan nilai-nilai Islami yang universal: tentang kebaikan, kasih sayang, hormat pada orang tua, hingga teladan akhlak Rasulullah. Ia tak hanya mendongeng untuk anak-anak, tapi juga menjangkau remaja dan dewasa—dengan kisah yang membumi, relevan, dan menyentuh.
Profesi yang Tak Lekang oleh Zaman
Dalam era digital yang serba instan, juru kisah mungkin tampak seperti relik masa lalu. Namun Kak Aam membuktikan sebaliknya: bahwa dengan kreativitas, hati yang tulus, dan keberanian beradaptasi, profesi ini justru menjadi sarana strategis dalam pendidikan karakter dan dakwah.
“Selama manusia masih mencintai cerita, juru kisah akan tetap ada,” ujarnya, menutup percakapan dengan senyum khas yang membuat siapa pun merasa damai.
Penulis : RP
Editor : IZ

















