INIKEPRI.COM – Di tengah sorot lampu ruang paripurna, Wali Kota Batam Amsakar Achmad berdiri tegak. Dengan nada tenang namun penuh keyakinan, ia menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Batam 2025–2029, Rabu (14/5/2025).
Apa yang disampaikannya bukan sekadar rencana lima tahunan. Ia adalah ikrar pembangunan, lembar demi lembar yang menggambarkan impian Batam untuk menjadi kota madani—beradab, berdaya saing, dan berwawasan global.
Amsakar, dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah, tidak hanya tampil sebagai administrator pembangunan. Ia sedang menjelma menjadi arsitek masa depan, menyulam gagasan demi gagasan untuk menjawab tantangan zaman: ekonomi global yang bergerak cepat, arus migrasi manusia, krisis ekologi, serta pertarungan identitas budaya.
Antara Visi dan Keyakinan
Visi yang diusung Amsakar dalam RPJMD kali ini tidak main-main:
“Batam Kota Madani yang Inovatif, Berkelanjutan, dan Berbudaya sebagai Pusat Investasi dan Pariwisata Terdepan di Asia Tenggara.”
Visi ini, dalam bingkai narasi kepemimpinan, menunjukkan perpaduan antara ketegasan arah ekonomi dan kearifan menjaga akar budaya. Ia mengajak masyarakat Batam melihat masa depan bukan sekadar dari segi pendapatan per kapita atau jumlah investasi asing, tetapi dari kualitas hidup yang merata, berkeadilan, dan berbudaya.
Dalam pidatonya, Amsakar menyampaikan lima misi besar. Mulai dari pemerataan infrastruktur, penguatan UMKM, hingga pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Semua itu tidak berdiri sendiri, melainkan dirangkai dalam narasi strategis: bahwa kemajuan fisik harus seiring dengan kemajuan etis.
Di sinilah terlihat benang merah dari jejak kepemimpinannya. Amsakar tidak sekadar bicara soal kota yang tumbuh, tetapi juga kota yang tumbuh dengan akal dan hati.
Batam: Antara Status Khusus dan Tanggung Jawab Khusus
Dengan status khusus sebagai bagian dari kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas, Batam menghadapi tantangan tata kelola yang kompleks. Dalam hal ini, Amsakar menekankan pentingnya sinergi lintas lembaga: antara Pemko Batam, BP Batam, hingga pemerintah pusat.
Ia sadar bahwa Batam adalah wajah Indonesia di perbatasan. Dan wajah itu harus ramah terhadap investasi, tetapi tidak kehilangan senyum kemanusiaannya.
Karena itulah, penyusunan RPJMD diselaraskan dengan RPJPD Batam 2025–2045, RPJMN, RPJMD Provinsi Kepulauan Riau, serta Renstra BP Batam. Ini bukan langkah teknokratis semata, tetapi bentuk kesadaran akan jalinan sistem dan tanggung jawab antar-tingkat pemerintahan.
Politik Harapan, Bukan Sekadar Kekuasaan
Ketika seorang kepala daerah menyusun RPJMD, ia sebenarnya sedang menulis janji di atas batu sejarah. Sebab dokumen ini bukan hanya miliknya sebagai pejabat, tapi milik rakyat sebagai pewaris masa depan. Ia akan terus dibaca, dipertanyakan, bahkan dikritisi lima tahun ke depan.
Namun Amsakar tampak memahami betul bahwa politik hari ini bukan sekadar tentang kekuasaan, tapi tentang harapan yang perlu dirawat. Ia mengakhiri pemaparannya dengan ajakan kepada DPRD untuk bersinergi, karena pembangunan, katanya, tidak bisa dilakukan seorang diri.
“Semoga sinergi antara eksekutif dan legislatif terus terjalin demi kemajuan Batam,” ucapnya menutup rapat paripurna.
Sebuah kalimat sederhana, tapi membawa gema yang panjang. Karena sejatinya, pemimpin adalah pelayan yang merumuskan kerja dan doa dalam satu langkah.
Dan kini, langkah itu telah dimulai.
Penulis : IZ

















