INIKEPRI.COM – Pagi di Gedung DPRD Kota Batam terasa berbeda dari biasanya. Di antara riuh rendah aktivitas para pegawai, udara di lantai kerja Ketua DPRD Kota Batam, Muhammad Kamaluddin, membawa nuansa hangat yang jarang terjadi. Senin (28/10/2025) itu, bukan sekadar hari kerja seperti biasa, melainkan hari penuh rasa syukur dan kebersamaan.
Di hari ini, Mas Kamal, –sapaan akrabnya, merayakan genapnya usia yang ke-48 tahun. Angka yang bagi sebagian orang hanyalah penanda waktu, namun bagi dirinya adalah titik refleksi, tempat menengok perjalanan panjang penuh liku, dari kehidupan pesantren hingga kursi pimpinan parlemen.
Meja kerja yang biasanya dipenuhi berkas-berkas rapat kini tampak semarak. Dua buah tumpeng kuning berdiri gagah di tengah ruangan, ditemani hidangan dimsum hangat yang mengepul lembut. Tidak ada hiasan berlebihan, tidak pula panggung megah. Namun suasananya begitu hidup. Dari balik pintu, satu per satu staf dan rekan sejawat datang, membawa ucapan selamat dan senyum tulus.
Di antara mereka, tampak Asnawati Atiq, anggota DPRD Kota Batam dari Fraksi Partai NasDem, melangkah sambil membawa kue ulang tahun kecil. Ia menyerahkannya langsung kepada Mad Kamal, disambut tepuk tangan dan tawa ringan dari seluruh hadirin.
“Selamat ulang tahun, Ketua. Semoga selalu diberi kesehatan dan panjang umur dalam memimpin kami,” ujarnya hangat, diiringi sebait doa tulus mengalir.

Mas Kamal membalas dengan senyum khasnya sederhana, tulus, dan penuh ketenangan. Ia tidak tampak seperti seorang pejabat tinggi yang berjarak, melainkan seperti sosok sahabat yang dihormati karena kerendahan hatinya.
“Usia hanyalah pengingat, bahwa waktu terus berjalan dan tanggung jawab kian besar,” katanya pelan.
“Saya bersyukur dikelilingi orang-orang baik yang selalu mendukung. Bagi saya, setiap tahun adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperluas manfaat,” sambungnya.
Dari Santri di Demak, Meniti Jalan Panjang Pengabdian
Kamaluddin lahir di Demak, Jawa Tengah, pada tahun 1977 silam. Kota yang dikenal sebagai “Kota Wali” itu meninggalkan jejak kuat dalam pembentukan karakternya. Sejak muda, ia telah terbiasa hidup dengan nilai-nilai religius, kesederhanaan, dan tanggung jawab.
Pendidikan formalnya dijalani di Pondok Pesantren Al Fadlu pada tahun 1997–1999. Di sinilah dasar moral dan spiritualnya terbentuk. Suasana pesantren mengajarkannya arti disiplin, kerja keras, dan pentingnya menghormati sesama.
“Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Tetapi tempat belajar hidup, tempat membangun kesabaran dan ketulusan” pernah ia ungkapkan dalam satu kesempatan,
Selepas pesantren, Ia lantas melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Satyagama, hingga meraih gelar sarjana (S1) pada tahun 2010. Ia menempuh kuliah di tengah kesibukan kerja dan aktivitas sosial, membagi waktu dengan penuh kedisiplinan.
“Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Setiap langkah, sekecil apa pun, akan membawa kita pada hasil jika dijalani dengan sungguh-sungguh,” katanya suatu ketika.
Langkah Politik dan Jejak Kepemimpinan
Terjun ke dunia politik bukan keputusan instan bagi Mas Kamal. Ia memulainya dengan hati-hati, membawa niat tulus untuk mengabdi kepada masyarakat, bukan sekadar mengejar jabatan.
Melalui Partai NasDem, ia menunjukkan loyalitas dan dedikasi yang konsisten. Rekam jejaknya yang bersih dan gaya kepemimpinannya yang merangkul membuatnya dipercaya menempati posisi strategis sebagai Sekretaris DPW Partai NasDem Kepulauan Riau pada 2019–2023.
Dari sanalah jalannya semakin terbuka. Dalam periode 2019–2024, ia terpilih dan menjabat sebagai Wakil Ketua I DPRD Kota Batam, menunjukkan kinerja yang solid dan mampu menjaga harmoni di antara berbagai fraksi.
Kini, di periode berikutnya, ia resmi menakhodai lembaga tersebut sebagai Ketua DPRD Kota Batam. Sebuah capaian besar yang tidak datang begitu saja, melainkan melalui kesabaran panjang, kerja nyata, dan kepercayaan publik yang tumbuh dari waktu ke waktu.
Namun di balik jabatan tinggi itu, Kamaluddin tetap menunjukkan sisi rendah hatinya. Ia seringkali turun langsung menemui masyarakat, menghadiri kegiatan keagamaan, bahkan menyempatkan waktu berbincang santai dengan warga di kedai kopi.
“Jabatan itu bukan alat untuk dihormati, tapi alat untuk melayani. Kita ini wakil rakyat. Maka sudah seharusnya kita hadir di tengah rakyat,” katanya tegas.
Rasa Syukur dalam Sederhana
Kembali ke ruang kerjanya pagi itu, gelak tawa ringan terus terdengar. Staf dan anggota dewan berbagi potongan tumpeng, saling menyuapkan dimsum hangat, dan memanjatkan doa bersama.
Tidak ada protokoler kaku, tidak pula pidato panjang. Yang ada hanyalah rasa kekeluargaan yang mengalir alami.
“Kita ini keluarga besar. Dan ulang tahun Pak Ketua, bagi kami, bukan sekadar perayaan, tapi pengingat bahwa pemimpin kami tetap dekat, tetap manusiawi,” ucap salah satu staf sambil tertawa di ruang kerjanya tepat di samping Mas Kamal menerima para sahabatnya.
Mas Kamal hanya tersenyum. Di sela obrolan ringan, ia menatap tumpeng di depannya dengan penuh rasa syukur.
“Saya percaya, bahwa kebersamaan seperti inilah yang menjadi kekuatan. Dari sinilah semangat kerja tumbuh,” ujarnya lirih.
Sosok Pemimpin yang Mendengar
Dua staf yang sehari-hari bekerja dekat dengannya, Adi dan Kiswanto, ikut bersuara ketika ditanya tentang sosok ketuanya.
“Mas Kamal itu pemimpin yang jarang marah. Kalau ada masalah, beliau selalu minta dijelaskan dulu. Beliau mendengar. Tidak pernah langsung menyalahkan,” ujar Adi dengan nada kagum.
Sementara Kiswanto, yang sudah bertahun-tahun menjadi “orang dalam” Kamal, menambahkan kesannya dengan mata berkaca-kaca.
“Beliau itu seperti kakak bagi kami. Tidak pernah lupa mengucap terima kasih untuk hal kecil sekali pun. Kalau ada yang sakit, beliau langsung kirim pesan atau menjenguk. Itu hal yang jarang dilakukan oleh pejabat,” ucapnya.
Menurut keduanya, Kamaluddin adalah sosok yang memimpin dengan hati, bukan hanya perintah. Ia tahu kapan harus tegas, tapi juga tahu kapan harus mengayomi.
Refleksi dan Nilai Melayu
Di sela perayaan sederhana itu, Kamaluddin sempat menuturkan pandangannya tentang makna hidup dan waktu.
“Hidup ini seperti menanam padi,” ucapnya sambil memandangi tumpeng.
“Semakin berisi, semakin menunduk. Semakin diberi banyak amanah, semakin harus kita rendah hati.”
Kata-katanya seolah menggema di ruangan itu. Sebuah refleksi yang tidak hanya menunjukkan kedewasaan berpikir, tetapi juga kedalaman jiwa seorang pemimpin.
Dalam budaya Melayu, ada pepatah yang seolah menggambarkan perjalanan hidup Kamaluddin:
“Yang pipih tak datang melayang, yang bulat tak datang berguling.”
Maknanya, tiada keberhasilan yang datang tanpa usaha. Dan memang, perjalanan Kamaluddin penuh dengan perjuangan panjang, dari pesantren sederhana hingga gedung parlemen.
Ia juga mengutip pepatah lain, sebagai pengingat bagi rekan-rekannya:
“Biar lambat asalkan selamat, biar sedikit asal berkat.”
Menurutnya, kejujuran dan kesabaran adalah modal utama dalam menjalankan tanggung jawab publik.
Jejak Pengabdian
Menjelang siang, perayaan kecil itu perlahan usai. Para staf kembali ke meja kerja, anggota dewan melanjutkan agenda rapat, dan Kamaluddin kembali membuka berkas-berkas penting di mejanya. Namun suasana hati di ruangan itu terasa berbeda. Ada semangat baru yang tumbuh, semangat untuk bekerja lebih ikhlas dan solid.
“Saya hanya ingin terus berbuat baik selama diberi umur,” ujarnya menutup perbincangan.
“Kalau kelak dikenang, saya ingin dikenang bukan karena jabatan, tapi karena pernah memberi manfaat.”
Dan mungkin, di situlah makna sejati dari perjalanan hidup seorang Kamaluddin: menjadi pemimpin yang tidak sekadar memerintah, tetapi menebar kebaikan di setiap langkah.
Sebagaimana pepatah Melayu berkata,
“Hidup biar berjejak, mati biar berbekas.”
Jejak itu kini telah ia torehkan, dalam kerja, dalam keikhlasan, dan dalam setiap senyum yang ia tinggalkan di hati orang-orang di sekitarnya.
Penulis : IZ

















