INIKEPRI.COM — Kebijakan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) kembali menuai sorotan tajam. Perusahaan pelat merah tersebut dinilai abai terhadap keselamatan dan kenyamanan penumpang setelah tetap menjual tiket non-seat untuk rute jarak jauh Belawan (Medan)–Tanjung Priok (Jakarta) dengan waktu tempuh sekitar tiga hari tiga malam, Selasa (20/1/2026).
Sejumlah penumpang mengeluhkan kondisi perjalanan yang dinilai tidak manusiawi. Salah satunya RY, penumpang tujuan Belawan–Tanjung Priok, yang menyatakan kekecewaannya atas kebijakan Pelni yang tetap menjual tiket tanpa tempat duduk meski kapasitas kapal telah penuh.
“Kalau rute Medan–Batam tanpa seat mungkin masih bisa dimaklumi karena hanya satu hari satu malam. Tapi ini Medan–Jakarta, tiga hari tiga malam. Kenapa Pelni tetap memaksakan penjualan tiket kalau penumpang sudah penuh?” ujar RY, Selasa siang.
RY menilai kondisi tersebut sangat membahayakan penumpang. Menurutnya, banyak penumpang non-seat kesulitan mendapatkan tempat istirahat, baik di dek maupun di kabin. Bahkan, beberapa penumpang dikabarkan tidak kebagian matras.
“Ini sama saja seperti menyiksa penumpang secara perlahan. Penumpang non-seat sulit tidur, tempat istirahat tidak ada, bahkan tidur di tangga yang menjadi lalu lintas orang. Ini benar-benar tidak manusiawi,” tegas RY, yang juga Pimpinan Umum Media RBNnews.co.id.
RY mengaku telah menyampaikan keluhan tersebut secara langsung kepada Kepala Operasional PT Pelni Cabang Medan, Suharto. Namun, menurutnya, tidak ada solusi konkret yang diberikan.
“Saya sudah jelaskan kondisi di lapangan, bahwa tiket saya dibeli online dan tidak ada keterangan non-seat. Saya juga sampaikan bahwa perjalanan tiga hari tiga malam tanpa seat itu tidak layak. Tapi tidak ada solusi,” ungkapnya.
Ia menyebut pihak Pelni hanya menyarankan agar membeli tiket kelas yang lebih mahal. Namun, setelah dicek dalam sistem, seluruh tiket telah habis terjual sehingga opsi peningkatan kelas pun tidak memungkinkan.
“Saya sudah bilang kalau memang bisa upgrade, saya mau. Tapi nyatanya tidak ada. Kalau sejak awal jelas non-seat, tidak mungkin saya beli. Ini sama saja menyengsarakan diri,” tambahnya.
RY berharap Direktur Utama PT Pelni segera mengevaluasi kebijakan tersebut dan memperbaiki kualitas pelayanan terhadap penumpang. Ia juga meminta DPR RI turut mengawasi pelayanan Pelni agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kalau tiket sudah habis, jangan jual non-seat. Penumpang non-seat membayar harga yang sama, tapi tidak mendapatkan pelayanan yang layak. Tidur di bawah tangga, di tempat lalu lalang orang. Ini tidak manusiawi,” ujarnya dengan nada geram.
Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan warganya mendapatkan pelayanan transportasi yang dinilai merendahkan martabat manusia.
“Saya berharap DPR RI memantau serius pelayanan Pelni. Jangan sampai warga negara diperlakukan seperti ini. Bayar sama, tapi fasilitas tidak sama,” pungkas RY yang juga dikenal sebagai aktivis pemerhati kebijakan publik.
Keluhan serupa juga disampaikan penumpang lain yang pernah mengalami perjalanan Jakarta–Medan tanpa seat. Ia mengaku hampir tidak bisa beristirahat selama perjalanan karena harus tidur di area tangga yang ramai dilalui penumpang.
“Saya pernah merasakan hal yang sama. Tiga hari hampir tidak bisa tidur, padahal bayar tiket sama dengan penumpang yang dapat seat,” tutupnya.
Penulis : RP

















