Lalu, terjadilah sebuah peristiwa yang tidak pernah diduga-duga sebelumnya. Sang Ayah masuk kamar dan mengambil sebuah pelampung, yang ternyata isinya tabungan uang seratus dan lima puluh rupiah. Pelampung besar yang berat dan penuh tersebut dibelah, lalu uang recehan itupun dihitung.
Jumlahnya mencapai Rp793.000. Uang itu ternyata sengaja disimpan dari waktu ke waktu demi pendidikan Amsakar. Uang itu pun dirasa cukup untuk mendaftar, membeli tilam bantal, kompor, serta untuk makan selama tiga bulan sambil menunggu pengumuman dan membayar SPP jika lulus tes saat itu.
Kemudian, sang Ayah masuk kembali ke kamar mengambil sebuah koper yang sudah dipersiapkan. Lalu, koper dibuka. Isinya; satu buah sejadah, satu stel baju kurung dan sebilah keris. Dengan air mata berlinang karena rasa haru yang dalam, Amsakar pun menyembah Ayahanda Achmad Jubil dengan setulus-tulusnya sembah anak terhadap orang tua.
“Saya menangis sejadi-jadinya. Terisak-isak memikirkan kalimat yang keluar dari mulut tua ayahanda dan memikirkan barang-barang di koper yang telah dipersiapkan olehnya. Sekiranya detak waktu dapat diputar mundur, maka saya akan katakan kepada dunia, bahwa segala jerih yang dikemas dengan tulus dan ikhlas dari orang tua terhadap anak, kelak akan memberi laluan yang baik dan mengesankan bagi anak tersebut,” ujar Amsakar sembari terdiam.
Begitulah. Tatkala tekad sudah bulat disertai dengan bekal sebingkai hikmah dari orang tua, Amsakar pun menjemput masa depannya di Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanbaru. Selama kuliah, anak kampung yang terbiasa bertungkus lumus ini mulai menunjukkan tanda kecemerlangannya.

















