Mengenal Amsakar Achmad: Dibekali Sajadah, hingga Menjadi Wakil Wali Kota Batam

- Publisher

Minggu, 27 September 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejak dilahirkan dari rahim seorang Ibu bernama Halimah binti Muhammad, dia sudah ditempa dengan berbagai persoalan, yang menjadikannya makin banyak pengalaman.

Seiring dengan perjalanan waktu, Amsakar Achmad bergumul melewati masa kecilnya dengan berbagai keterbatasan. Dengan kondisi itu pula, yang kemudian menjadikan Amsakar tumbuh menjadi kuat, teguh dan yakin, serta sangat mandiri.

“Ketika berusia 7 tahun, saya disuruh bapak mendaftar masuk SDN Nomor 37, hanya berdua dengan abang saya Djulbazar. Tatkala berumur 11 tahun, saya sudah terbiasa membantu mengumpulkan getah karet yang tertinggal di pohon, lalu dibuat seperti bola dan disimpan di bawah rumah nenek sampai terkumpul dan dijual setiap bulan,” kenang Amsakar.

BACA JUGA:  Amsakar Apresiasi Festival Sepak Bola Usia Dini Tunas Jaya Cup

Disamping itu, Amsakar juga dilatih sang nenek mencangkul sepetak tanah untuk ditanami kacang panjang, daun kunyit, lengkuas, ubi jalar, kangkung, dan bayam. Semua yang ditanami tersebut selanjutnya dijual ke berbagai kedai setelah diikat oleh sang nenek menjadi sayur rampai. 

BACA JUGA:  Beda Karakter, Sama Visi: “Kami Komplementer”, Amsakar Ungkap Kunci Kekompakan dengan Li Claudia

Belum cukup sampai di situ, Amsakar kecil juga terbiasa mengantar penganan talam, tepung kusoi, apam, dan tepung gomak ke kedai kopi ”Bah Dereme” setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, sedangkan siangnya kalau musim jambu, Amsakar juga biasa mencocok lidi ke jambu untuk kemudian di titipkan di kedai Atai, Aceng dan Goho; sedangkan kalau masih ada waktu, Amsakar juga biasa mengail ikan di Malangkiah, Malangulo, kelong Betawi, Mengkalan Apo, dan Pulau Mubon.

BACA JUGA:  Amsakar Sebut Peran Pemuda dalam Penyelesaian Persoalan Bangsa

“Begitulah, hari-hari yang dilalui sampai tamat SD sudah sangat terbiasa dengan mengambil pumpon untuk umpan, menyumek nos, mencari janek, dan menanjol udang di tepi pantai,” katanya.

Berita Terkait

Amsakar Optimistis Ekonomi Batam Tumbuh hingga 7,4 Persen, Pendapatan Daerah Diproyeksi Tembus Rp4,25 Triliun
Lautan Manusia Warnai Kepri Bersholawat 3, Malam Cinta Rasul Cinta Negeri Penuh Kekhusyukan
Sekolah Terintegrasi Merah Putih, Menumbuhkan Mimpi di Tanah Rempang-Galang
Ahmad Muzani dan Habib Syeikh Resmikan Ponpes Nur Iman Pulau Kasu, Kisah 10 Tahun Lalu Akhirnya Jadi Kenyataan
BP Batam Perkuat Transformasi Digital melalui Pengembangan Super Apps
Kepala BP Batam: Sekolah Rakyat Merah Putih Prioritaskan Pendidikan Anak Keluarga Prasejahtera
Panduan Menyeberang ke Singapura dari Batam: Jadwal Ferry, Rute, dan Harga Tiket Agustus 2026
Tujuh Proyek Jalan Strategis di Batam Dikebut, Kemacetan Ditargetkan Berkurang

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:34 WIB

Amsakar Optimistis Ekonomi Batam Tumbuh hingga 7,4 Persen, Pendapatan Daerah Diproyeksi Tembus Rp4,25 Triliun

Senin, 3 Agustus 2026 - 09:16 WIB

Lautan Manusia Warnai Kepri Bersholawat 3, Malam Cinta Rasul Cinta Negeri Penuh Kekhusyukan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:01 WIB

Sekolah Terintegrasi Merah Putih, Menumbuhkan Mimpi di Tanah Rempang-Galang

Senin, 3 Agustus 2026 - 07:42 WIB

Ahmad Muzani dan Habib Syeikh Resmikan Ponpes Nur Iman Pulau Kasu, Kisah 10 Tahun Lalu Akhirnya Jadi Kenyataan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:57 WIB

BP Batam Perkuat Transformasi Digital melalui Pengembangan Super Apps

Berita Terbaru