Hingga kemudian ditengah huru-hara negeri Singapura itu datanglah kehadapan seorang anak kecil yang menyampaikan cadangannya (ide) kepada Raja untuk mencegah penyerangan ikan todak itu.
Hang Nadim namanya, ia menyarankan agar tepian pantai Singapura dipasangi tembok yang terbuat dari batang pisang. Selain efektif menghadang Ikan Todak itu, batang pisang pun senang (gampang) dicari di Singapura.
Para pengawal kerajaan pun segera memasang pagar pohon pisang disekeliling perkampungan dan istana atas perintah Raja. Raja sangat kagum akan kepintaran Hang Nadim. Ternyata kepintaran anak kecil itu mampu menyelamatkan Singapura dari terjangan ikan todak yang menggila-gila beterbangan ke darat.
Namun kekaguman Raja ini tidak berlangsung lama, apabila para menteri kembali menghasut Raja untuk membunuh Hang Nadim karena ditakutkan kepintaran anak ini boleh menjadi sesuatu yang berbahaya untuk Kerajaan dimasa depan nanti. Selagi kecil saja Hang Nadim sudah pintar seperti itu, apalah lagi kalau sudah besar nanti? Tentu Hang Nadim akan menjadi ancaman bagi kerajaan, begitu fikir para menteri. Dan sayangnya lagi-lagi Raja menerima pandangan para menterinya itu. Lalu ditangkaplah anak yang bijak tersebut.
Hang Nadim Dihukum
Hang Nadim yang semulanya akan diberi penganugerahan oleh Raja ternyata dalam waktu singkat berubah untuk diberi hukuman mati. Ada dua versi tentang kematian Hang Nadim ada yang mengatakan ia wafat ditikam keris namun lebih banyak yang percaya bahwa Hang Nadim dicampakkan ditengah laut. Pada tahun 1950 saat terjadi peristiwa kapal karam dari Batam ke Singapura sempat dikaitkan dengan peristiwa ini. Kononnya, banyak pihak percaya sebelum dibuang kelaut Hang Nadim sempat “bersumpah” supaya setiap keturunan Raja Singapura yang lewat ditengah laut tempat ia dicampakkan itu akan karam dan meninggal.
Namun beberapa masyarakat Kepulauan Riau yang berusia 70-80 tahun percaya hal ini hingga kehari ini.
Pantangan di Batu Berantai
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















