Tak hanya Pacific Foodcourt, di masih kawasan yang sama, ada juga Jackpot yang beroperasi hingga menjelang pagi.
Ya, Jackpot Pacific. Arena yang seharusnya menjadi arena permainan bagi anak, malah menjadi arena perjudian. Cobalah melongok ke dalam arena perjudian itu, ramai orang yang sedang mengadu nasib tanpa memperdulikan bahayanya virus Corona.
Di sisi lain, siapa yang mau menyangkal arena ini bukanlah arena perjudian? Meski pengelola mengatakan ini sebagai gelanggang permainan, nyatanya ini adalah pusat perjudian yang seakan dihalalkan oleh Pemerintah dan aparat penegak hukum di Kota Batam.
Bahkan, ada idiom yang berkembang di masyarakat Batam, aparat yang berani mengganggu manajemen pacific, seakan berani menyerahkan jabatannya.
Makanya hingga hari ini Pacific Jakcpot seakan berkuasa diatas hukum
Pacific Diskotik Tak Tersentuh?
Selain Pacific Foodcourt dan Jakcpotnya, satu lagi yang tidak bisa dipungkiri adalah diskotiknya.
Sempat terkenal karena memiliki hall terbesar di Pulau Sumatera, akhrinya diskotik di Pacific Hotel ini harus mengangkat bendera putih, karena jumlah pengunjung yang tidak menutupi operasional.
Namun, ditutupnya Pacific Diskotik tidak berarti manajemen menutup kamar VIP-nya
Hingga hari ini, siapa yang tak mengenal VIP Pacific? Atau sekocinya?
Beragam merek ekstasi tersebar disini. Seakan ini “tempat Halal” mengkonsumsi narkoba. Jangan tanya, pengawasan dan penindakan dari penegak hukum, mereka seakan menutup mata. Negara tidak pernah berani hadir disini, seolah ada negara dalam negara.
Selain itu, didalam VIP room ini, manajemen Pacific juga menyediakan arena judi pingpong.
Bagi masyarakat awam yang tidak tahu, judi pingpong adalah sebuah perjudian menebak angka mulai dari angka 1 hingga 24.
Para pemain hanya menebak angka yang akan keluar nantinya, dimana angka taruhan yang dipasang dikali 22.
Misalnya, pemain memasang taruhan di angka 1 dengan taruhan Rp 10 ribu, jika kena pemain akan mendapat Rp 220 ribu.
Hingga Kapan?
Entah sampai bila negara kalah sama manajemen Pacific. Berulang kali terjadi pergantian kepala daerah dan pimpinan aparat penegak hukum, nyatanya Pacific masih langgeng menjalankan bisnis terlarangnya, yang dibungkus oleh bisnis perhotelan yang berbentuk kapal pesiar ini.
Menghentikan manajemen Pacific adalah keniscayaan?
Hanya mereka yang berani melawan arus yang bisa! (RD)
Halaman : 1 2

















